Elbrus, Titik Tertinggi Eropa (Bagian Akhir)

Barrels Hut,
Senin, 14 Agustus 2017, 08.50 PM

Pagi ini aku terbangun sekitar pukul empat pagi. Aku merasakan pusing sedikit, tidurnya kurang banyak sepertinya. Bergegas ke kamar mandi, merasakan air dingin, dan kemudian menunaikan kewajiban.

Hari ini kami jadwalnya adalah berpindah lokasi basecamp dari Azau ke Barrels Hut di ketinggian 3700 mdpl. Sekitar pukul 9.30 AM setelah beres2 dan sarapan, kami pun bergerak menuju cable car. Perjalanan ke Barrels Hut akan menggunakan Cable car dan chair lift kembali. Barang-barang pribadi termasuk barang kelompok seperti logistik pun kami angkut bahu membahu.

Perjalanan menggunakan cable car kali ini cukup menyeramkan. Kami semua termasuk barang diangkut menggunakan kabel. Bisa dibayangkan betapa beratnya bebannya, sehingga aku wanti2 agar jangan sampai putus saja itu kabel. Bunyi berderit kabel sepanjang perjalanan menambah keseramannya.

Tiba di Barrels Hut, kami masuk ke masing2 barrel dan menaruh barang.
Barrel yang kami tempati ini katanya sih dulu dipake sebagai tempat minyak pada zaman perang dunia. Namun selepas itu barrel2 tersebut disulap menjadi tempat penginapan. Di dalamnya terdapat masing2 enam tempat tidur, dengan masing2 kasur dan bantal. Selepas membereskan barang, kami pun makan siang di salah satu barrel, yang sudah disulap menjadi semacam kafe. Makanannya enak, berupa sup daging. Ada juga salad, buah, dan roti lengkap dengan daging dan keju. Makanan sepanjang perjalanan ini luar biasa enak!

Selepas makan, Nick mengajak kami berlatih menggunakan crampon dan ice axe. Bisa dibayangkan, cuacanya sedang gerimis, anginnya sangat dingin, dan posisi baru selesai makan. Ingin rasanya tidur saja, tp Nick menyebutkan proses aklimatisasi yang baik adalah dengan bergerak. Setengah jam kemudian, masing2 orang sudah memasang cramponnya dan memegang ice axe. Pakaian yang dikenakan tentu saja lengkap hingga double boot. Kami mulai berjalan ke arah jalanan es.

Sekitar setengah jam berlatih jalan menggunakan crampon, kami pun diajari oleh Nick dan Brad, salah seorang guide kami, cara menggunakan ice axe apabila kondisi terpeleset atau jatuh di permukaan es. Sangat menyenangkan latihat ini. Merasakan bagaimana crampon menghancurkan lapisan es dan salju di jalanan itu pengalaman baru bagiku. Aku bahkan mengulang2 latihan jatuh dan menggunakan ice axe sampai2 esnya masuk ke dalam baju dan celana, cukup banyak hingga membuat basah.

Sekitar sejam kemudian, kami menyudahi latihannya dan bergegas turun kembali. Gerimis semakin deras, anginnya semakin dingin. Badanku yang kebasahan kedinginan, membuat aku bergegas turun ke barrel. Tiba di barrel segera berganti pakaian, dan berjalan keluar untuk menikmati suasana. Suara angin berbisik di telingaku, salak anjing husky di kejauhan, disertai latar belakang tempat itu pegunungan Kaukasus yang puncak-puncaknya diselimuti es, membuat aku merasakan damai yang menenangkan.

Kabut turun perlahan, menutup pemandangan, aku masuk ke barrel yang disulap jadi kafe. Aku menyeduh susu putih, merasakan uapnya, dan menikmati setiap tetes airnya, merasakan betapa nikmatnya hidup ini. Betapa besar karunia yang diberikan Tuhan kepadaku. Alhamdulilah, aku masih diberikan kesehatan dan kekuatan untuk tetap hidup sampai dengan detik ini. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

-Pasid-

Barrels Hut,
Selasa, 15 Agustus 2017, 09.03 PM

Aku terbangun karena mendengar aktivitas dari teman sekamar. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Suhu kamar cukup dingin, mencapai 10 derajat celcius. Down jacket yang kukenakan sepanjang malam sangat membantu untuk membuatku tidur nyenyak. Segera aku keluar dari barrel, dan mendapati pemandangan pegunungan Kaukasus yang menawan. Aku menghirup udara segarnya perlahan-lahan, dan mencoba untuk meresapinya.

Hari ini kami akan melakukan kegiatan aklimatisasi ketiga hingga ketinggian 4800 mdpl di Pastukov Rocks. Selesai sarapan, sekitar pukul setengah sembilan, kami pun berangkat dari barrels. Untuk informasi, ketinggian barrels ini sekitar 3693 mdpl. Kami sudah berpakaian lengkap layaknya mau summits. Bawahan dua lapis, dan atasan tiga lapis, down jacket belum terpasang, tetap dibawa untuk berjaga-jaga. Sarung tangan sudah memakai mitten, kacamata anti UV sudah bertengger di kepala, dan yang paling keren adalah sepatu double boot lengkap dengan cramponnya.

Kami mulai berjalan perlahan. Ternyata berjalan di atas salju cukup berat, apalagi ditambah dengan berat double boot dan cramponnya yang mencapai enam kilogram, cukup membuat jalan terpaksa perlahan-lahan. Beberapa anggota tim juga memakai trekking pole sebagai tambahan alat untuk berjalan. Aku hanya menggunakan ice axe saja. Sekitar sejam berjalan menyusuri jalanan, kami mulai diterpa kabut. Tidak berapa lama kemudian, hujan es pun turun. Alhasil, perjalanan semakin lambat. Aku berganti pakaian untuk menyesuaikan dengan cuaca. Jaket waterprof terpasang, menggantikan jaket windprof. Aku merasakan setiap langkahnya, merasakan bagaimana crampon memecah es dan membelah salju. Sesekali tergelincir akibat belum terbiasa menggunakannya.

Sekitar sejam berjalan lagi, hujan es semakin menjadi-jadi, bahkan mendekati badai. Kami tetap berjalan, pelan dan perlahan. Lapisan es menumpuk di jaket dan tas, menerobos masuk di sela2nya. Aku merasakan kedinginan. Suhu mencapai minus 5 derajat celcius. Terus berjalan, sesekali berhenti untuk menunggu anggota tim lainnya menyusul. Perjalanan kami ini didampingi tiga orang guide, Nick, Bred, dan Suza. Ada juga anjing besar milik Suza yang menyertai perjalanan kami.

Sekitar pukul satu siang, kami berhenti untuk makan siang. Hujan es sudah mulai mereda. Langit sebentar cerah, matahari terlihat, namun tak berapa lama kemudian ditutup oleh awan kembali. Ketinggian masih mencapai 4130 mdpl. Perjalanan kami ternyata lambat sekali, selain faktor penyesuain menggunakan crampon dan double boot, ditambah dengan hujan es yang menghadang. Kami baru mendaki sekitar 450 mdpl. Sewaktu istirahat, aku menyaksikan dua burung hitam sejenis gagak terbang namun miring, sepertinya melawan angin kencang untuk menuju ke atas. Angin di sekitar memang cukup kencang, sehingga dinginnya terasa sekali. Pemandangan dimana-mana hanya es belaka.

Tak berapa lama beristirahat, kami berjalan kembali. Lebih gigih dan cepat, karena mengejar target ketinggian setinggi-tingginya demi proses aklimatisasi. Dan kembali, hujan pun turun. Kali ini hujan salju, esnya halus. Aku mengencangkan resleting jaket, dan tetap berjalan. Berjalan sekitar dua jam, akhirnya kami berhenti. Ketinggian saat ini hampr 4400 mdpl. Karena sudah mulai sore, Nick mengajak kami untuk turun. Kami tidak sampai ke ketinggian 4800 yang kami rencanakan di awal perjalanan. Beristirahat sejenak, kami pun memulai proses turun. Kalau turun, sungguh asyik menginjakan crampon di lapisan salju yang tebal, kaki tidak capek saat melangkah. Hujan salju masih menerpa kami hingga ke bawah. Dan perjalanan turun hingga barrels kembali kami tempuh dengan waktu dua jam saja. Oh ya, sepanjang perjalanan banyak pendaki lain yang naik turun, ada yang memang melakukan aklimatisasi seperti kami, ada juga yang baru turun summit. Entahlah apakah mereka berhasil mencapainya ditengah badai salju seperti ini.

Tiba di barrels, aku segera berganti pakaian dan menuju ke kafe. Suhu sangat dingin, matahari tidak nampak. Teman-teman tim lainnya sudah sampai juga. Aku menyeduh coklat, panasnya pas, dan meminumnya dengan perlahan. Rasanya pas, tidak terlalu manis. Cukup untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan sepanjang waktu disana. Sepertinya proses aklimatisasi yang kami lakukan masih kurang. Dan benar saja, selesai makan malam, Nick mengajak kami besok untuk melakukan aklimatisasi kembali hingga 4800 mdpl. Karena jadwal besok adalah rest day, maka Nick mengajak kami untuk aklimatisasi menggunakan kendaraan Ratrack, sejenis kendaraan truck penghancur salju. Nick menyebutkan juga bahwa Ratrack besok akan mencoba membawa kami hingga ketinggian 4800 mdpl atau mendekatinya. Lumayanlah, tidak perlu jalan lagi besok, karena rencananya besok malam kami akan melakukan summit attack.

Selesai juga hari ini, alhamdulilah kondisi kami masih baik, walaupun pembuluh darah di hidung ada yang pecah, akibat ketinggian. Fisik dan mental akan tetap dijaga demi bisa mencapai puncak Elbrus yang diidamkan.
Salam hangat dari Barrels Hut buat saudara/i Stapala dimanapun berada. Doakan kami.

-Pasid-

Barrel Huts,
Kamis, 17 Agustus 2017
6.10 PM

Part I

Pukul 11 malam sebelumnya, Nick masuk ke dalam Barrel dan membangunkan kami semua. Ah, baru saja terlelap, mimpi sesuatu yang aku lupakan segera. Segera bersiap untuk summits. Sebelumnya aku sudah mempersiapkan perlengkapan untuk naik. Aku memakai pakaian termal sebagai lapisan awal, kemudian memakai jaket fleece, selanjutnya down jacket. Suhu dinihari itu sekitar 0 derajat celcius, memang sangat dingin. Perlengkapan lainnya yang sudah aku siapkan adalah double boot, crampon, gaiter, ice axe, dan tentu saja hardness lengkap dengan rope dan karabinernya.

Sebelum berangkat, kami makan terlebih dahulu dan saling menanyakan kesiapan masing-masing orang. Pukul 1 dinihari tepat kami menuju kendaraan ratrak yang membawa kami ke Pastukov Rock, sekitar 4700 mdpl. Langit malam itu cukup cerah, bintang-bintang terlihat cukup jelas walaupun kabut tipis menyelimuti sekeliling kami. Tiba di Pastukov Rock, kami pun memulai perjalanan. Aku merasakan berat double boot dan crampon di kakiku. Latihan selama tiga hari terakhir cukup membantuku untuk membiasakan diri berjalan di atas es menggunakan crampon. Down jacket yang tebal yang kukenakan cukup membantuku menahan hawa dingin yang menusuk tulang. Kami mulai berjalan dengan mantap dan penuh tekad menuju puncak.

Dalam perjalanan summits ini, kami menerapkan Alpin System, dimana kami berjalan bersama sebagai satu tim, dengan tidak membiarkan ada celah di antara kami melebihi satu meter. Menuju ketinggian 5000 mdpl, kami berjalan perlahan dengan cara zigzag. Jalanannya curam, jadi kalau berjalan zigzag, tidak terlalu capek. Awalnya kami masih berjalan bersama, namun dua jam kemudian, tim mulai terbagi tiga. Yang di depan dengan pace tercepat. Sepertinya guide kami juga sengaja untuk membagi tim menjadi tiga bagian agar tidak saling menghambat perjalanan. Memang kalau berhenti di tengah salju begini cukup melelahkan, karena menahan dingin ketika berhenti itu sama seperti menghabiskan energi untuk berjalan.

Tiga jam berjalan, kami berhenti sejenak. Aku dari awal berjalan dengan usaha mengatur nafas agar tetap normal. Berjalan tidak terburu-buru, just do baby walking. Ketinggian saat kami berhenti sudah mencapai 4950 mdpl, sinar matahari mulai terlihat di ufuk timur. Langit masih cerah, aku bersyukur dan berharap semoga tetap cerah hingga perjalanan ke puncak. Sebelumnya kami memang sudah melihat ramalan cuaca. Hari ini diperkirakan akan cerah berawan sampai siang, namun angin kencang. Aku terus berdoa semoga tetap cerah dan perjalanan dilancarkan.

Setelah ketinggian 5000 mdpl, beberapa anggota tim mulai kelelahan. Bahkan dua grup tim kami sudah tidak terlihat. Aku ikut beristirahat, duduk sejenak di hamparan salju, sembari mengatur nafas dan menghirup udara dalam-dalam. Merasakan segarnya udara, dinginnya suhu, dan mendengar suara-suara percakapan dan desah nafas para pendaki lain yang menuju summit juga pagi ini. Cukup banyak pendaki yang melakukan summit seperti kami. Setelah beristirahat sekitar lima belas menit, guide kami, Brad, mengajak untuk berjalan kembali. Berjalan pelan, perlahan, sesekali minggir untuk memberi jalan kepada pendaki lain yang memiliki pace lebih cepat. Seringnya berhenti untuk menunggu anggota tim yang berjalan lebih pelan dan membuat jarak antar anggota tim. Perjalanan kami memang sangat lambat, mungkin akibat belum terbiasa berjalan dengan menggunakan crampon. Apalagi medannya adalah es, es belaka, dimana-mana hanya salju saja yang terlihat. Sungguh pengalaman yang menegangkan dan menyenangkan buatku pribadi.

Setelah berjalan hampir lima jam, kami tiba di punggungan Elbrus. Untuk informasi, kami melalui jalur Selatan untuk mencapai puncak Elbrus. Elbrus sendiri memiliki dua puncak, East Summits 5642 mdpl dan West Summits 5621 mdpl. Berjalan lagi, berhenti terkadang, dan menuju lembah antara dua puncak yang dinamakan Sadel. Aku merasakan lelah dan mengantuk, mungkin akibat terlalu sering berhenti sehingga mengakibatkan kecepatan berjalanku berubah-ubah, dan energi habis menahan dingin. Seringkali aku berjalan miring ke kanan agar ketika mata terpejam jatuhnya ke bagian tebing, bukan ke sebelah kiri yang merupakan jurang. Padahal puncak belum kelihatan, perjalanan masih panjang, dan langit terlihat mulai berawan. Aku berhenti, dan mengatur nafas, sambil berdoa dalam hati. Setelah itu kakiku menapak kukuh kembali.

Part II – Summits 17 Agustus 2017

Jam tanganku menunjukkan angka di pukul 07.40 ketika tiba di tempat antara dua puncak yang dinamakan Sadel. Jalanannya masih panjang untuk mencapai titik menuju puncak. Aku berjalan dengan rasa lelah yang luar biasa. Entah mengapa tiba-tiba tenagaku drop dan aku mengantuk sekali. Berjalan perlahan, dalam diam, sambil berusaha untuk tidak tertidur. Setelah hampir setengah jam, tibalah kami di suatu kawasan di Sadel. Aku meggempaskan diri di hamparan salju, melepaskan tas. Makanan dan minuman yang aku bawa dikeluarkan dan aku menikmatinya walaupun hanya berupa buah dan coklat. Beberapa temanku yang tiba di Sadel juga menikmati sarapan paginya, yang sangat sederhana. Jumlah yang tiba di Sadel hanya tujuh orang dari tim kami, sementara lima orang lagi masih tertinggal di belakang sana dengan dua orang guide.

Sembari makan coklat yang aku bawa, aku melihat jalur menuju puncak Elbrus. Di beberapa titik terdapat tali rope yang dipasang sebagai pengaman, karena kontur pendakiannya yang hampir 80 derajat. Beberapa rombongan pendaki sudah mulai turun, karena memang sudah semakin siang, yang artinya cuaca akan memburuk sesuai ramalan cuaca sebelumnya. Aku kemudian bersiap untuk melakukan summits, dan mengajak rekan-rekan lainnya. Guide kami, Brad, menahan kami dan meminta untuk menunggu sebentar kepastian kabar rombongan tim kami di belakang apakah bisa menyusul kami ke Sadel atau tidak.

Benar saja, tak lama kemudian handy talkie milik Brad berbunyi dan Nick mengatakan bahwa ada tiga orang dari tim kami yang harus turun karena sudah terlalu lelah untuk berjalan. Sementara, dua orang lainnya, masih berjalan ke arah kami namun dengan pace yang lambat. Sesaat kemudian, Brad mengambil keputusan untuk membawa kami ke puncak dengan melihat cuaca semakin gelap, dan hari yang semakin siang.

Kami menuju puncak hanya lima orang, ditambah Brad. Aku membawa tas yang isinya bendera-bendera kami, makanan dan minum satu termos ukuran sedang. Kami mulai berjalan, aku merasakan energi baru mengalir di darahku. Aku merasa bersemangat untuk menggapai puncak, padahal sebelumnya aku sudah lelah luar biasa. Kami berjalan pelan, karena memang kondisi jalannya yang menanjak. Sering berpapasan dengan rombongan pendaki yang sudah selesai melakukan summit dan berjalan turun. Ada yang berjalan dengan lincah, ada juga beberapa yang harus ditarik dengan rope untuk turun, mungkin sudah kelelahan. Hamparan es dimana-mana, putih semua, kalau aku tidak memakai kacamata hitam atau sky mask, bisa-bisa terkena snow blind.

Setengah jam berjalan, kami bertemu tanjakan yang cukup curam, dimana di sebelahnya ada tali pengaman. Kami mengkaitkan karabiner yang kami miliki ke tali, dan mulai berjalan kembali. Begitu seterusnya apabila bertemu tali pengaman. Tenagaku yang tadi entah kenapa sempat bertambah, kini mulai drop kembali. Aku mulai berjalan dengan goyah. Lapar kembali mendera. Langit yang semula cerah, perlahan mulai gelap karena ditutup awan. Aku berjalan sambil berangan-angan. Terpikir hal-hal yang belum kucapai dalam hidup, hal-hal yang kutinggalkan di tanah kelahiranku, dan terakhir sosok ibu dan bapakku. Aku segera menepuk-nepuk wajahku dan menyemangati diriku sendiri, lalu berteriak juga ke teman-teman lain yang semakin gontai berjalan. Berteriak dengan maksud menyemangati mereka.

Dan, setelah tanjakan terakhir, kami menjumpai jalanan yang agak landai, tidak terlalu menanjak. Sempat terpikir sudah sampai di puncak, ternyata tidak. Puncak yang dilihat dari Barrel  bukanlah puncak sebenarnya, titik tertingginya masih jauh, dan memang terlihat di kejauhan. Kami pun berjalan lagi, semakin gontai, dengan semangat tersisa. Aku terkadang berhenti untuk mengambil nafas panjang, memejamkan mata sesaat, lalu setelah berdoa, berjalan lagi. Begitu seterusnya, hingga akhirnya, titik tertinggi benua Eropa itupun terlihat jua. Aku mempercepat langkah untuk mencapainya.

Dan inilah aku, puncak tertinggi Elbrus. Aku segera bersujud syukur kepada Tuhan YME. Aku menangis. Perjuangan ini ternyata berbuah hasil. Teman-temanku pun segera menyusul mencapai puncaknya. Aku memeluk mereka satu persatu. Puncak impian yang kami tuju tergenapi sudah. Kami pun segera mengambil foto-foto dan mengibarkan bendera merah putih, walaupun hanya sebentar karena keadaan di sekeliling kami gelap sekali. Tidak terlihat sama sekali pemandangan di puncak. Rasa dingin terkalahkan rasa haru yang menyelimuti kami yang berhasil mengibarkan bendera kebangsaan dan bendera kebanggaan masing-masing di puncak Elbrus.

Hanya sekitar 15 menit kami di atas, dan kami pun turun kembali. Hujan salju mulai turun. Aku sebenarnya merasa sangat khawatir apakah kami dapat turun kembali dengan kondisi kami saat ini. Tapi melihat guideku, Brad, yang tenang-tenang saja, aku terbawa sikapnya juga untuk tetap tenang. Kami pun mulai turun dengan harapan dapat mencapai tas-tas yang kami tinggalkan di Sadel untuk memperoleh makanan dan minuman.

Aku berjalan di depan karena Brad menyuruhku untuk membuka jalan. Aku turun dengan kelelahan. Bahkan karena sangat kehausan, di tengah jalan aku berhenti hanya untuk sekedar memakan es serut yang terhampar di sekeliling. Walaupun itu berbahaya karena bisa mengakibatkan kram perut, aku tidak perduli akibat haus yang aku rasakan. Sekitar satu jam berjalan, kami pun tiba di Sadel. Anehnya, di sekeliling kami salju sudah melapisi seluruh permukaan tanah, hanya tas kami yang tidak dilapisi salju sama sekali.

Turun dari Sadel merupakan perjuangan yang sangat panjang. Brad berjalan di depan kembali karena badai salju yang tengah berlangsung membuat seluruh jalan tertutup. Tidak terlihat lagi yang mana jalan, dan mana yang tebing atau jurang. Brad berjalan perlahan menyusuri bendera-bendera penanda untuk kegiatan Sky. Berkat karunia Tuhan dan juga karena pengalaman Brad lah yang membuat perjalanan turun kami berlangsung dengan selamat. Brad bisa membawa kami menyusuri jalanan setapak yang tidak terlihat dan tidak melewati jurang. Padahal aku sangat khawatir, karena jalan betul-betul tidak terlihat sama sekali. Seluruhnya putih!

Setelah berjalan turun yang terasa lama sekali, akhirnya kami mencapai penanda, yaitu sebuah kendaraan Ratrak rusak. Artinya kami sudah di ketinggian 4950 mdpl. Brad menelpon Ratrak untuk menjemput kami di Pastukov Rock, karena Ratrak sebelumnya sudah meninggalkan kami untuk membawa rombongan tim kami yang kedua turun. Dari Ratrak rusak, kami turun lagi sekitar sejam. Capek dan lapar sudah dikesampingkan, bahkan rasa dingin sudah terlupakan saat itu, yang ada di benak hanyalah makanan dan tempat tidur yang menunggu di Barrel. Teman-temanku juga penuh semangat turun untuk mencapai Pastukov Rock, di ketinggian 4700 mdpl. Akhirnya di kejauhan terdengar suara Ratrak. Dan sekitar 15 menit kemudian kami menjumpai Ratrak tersebut yang sudah menunggu kami. Kami segera naik, dan mencari tempat duduk yang nyaman di atasnya. Semua wajah terlihat lelah, bahkan Brad juga. Sementara Ratrak melaju dengan pelan melintasi es, menyusuri jalan turunan menuju Barrel, aku melamun lagi dan melihat salju turun perlahan. Betapa besar karunia Tuhan kepada kami, masih bisa selamat dari puncak. Badai salju sudah berhenti sejak kami mencapai Ratrak rusak sebelumnya. Berakhir sudah summits kami ini, dimana kami berhasil mencapai puncak yang diidamkan.

Tiba di Barrel, kami berganti pakaian, masuk ke tempat makan, makan sup panas dan bertukar cerita dengan tim lainnya. Selepas itu, kami pun menuju tempat peraduan. Hujan salju masih turun bahkan kini diiringi dengan Thunder Storm di kejauhan. Semakin deras saja hujannya. Udara semakin dingin, dan aku pun terbang ke alam mimpi. Selamat tidur kawan..

_salam_

Advertisements

Elbrus, Titik Tertinggi Eropa (Bagian Awal)

Sudah lama aku ingin menceritakan tentang perjalananku sewaktu mencapai puncak tertinggi di benua Eropa. Selalu tidak kesampaian. Dan pada akhirnya, aku berhasil mengumpulkan beberapa catatan pendek yang aku buat sewaktu berada di sana. Catatan-catatan ini pun berhasil menjelma menjadi sebuah catatan perjalanan dan sudah dipublish di majalah Nuansa, majalahnya Stapala. Semoga bisa dinikmati, sambil minum segelas susu hangat di pagi hari yang berawan.

*Iltenary Mt Elbrus 2017*

Jumat, 11082017
Domodedovo – Mineral Voody

Sabtu, 12082017
Baksan valley (2.200mdpl) –  aclimatization I, climb 300 meters, sky lift to 2800 mdpl, then climb to 3100 mdpl, after that down to Baksan.

Minggu, 13082017
Baksan Valley – aclimatization II, climb 300 meters, travel with sky lift to 3200 mdpl, then climb to Garabashi 3600 mdpl, after that down to Baksan.

Senin, 14082017
Baksan Valley – travel with cable car to Barrel Refuge (3710 mdpl), aclimatization

Selasa, 15082017
Aclimatization III, Climb from Barrels Refuge to Pastukov Rocks (4800 mdpl), then down again to Barrels

Rabu, 16082017
Rest and relax day

Kamis, 17082017
Start climbing 01.00 am, travel with snow cat to Pastukov rocks, then climb from 4800 mdpl to summit Mt Elbrus 5642 mdpl

Jumat, 18082017
Spare time to summit, or descent to Baksan Valley

Sabtu, 19082017
Spare time to summit, or descent to Baksan Valley

Minggu, 20082017
Mineral voody to Moscow

Baksan Valley,
Jumat, 11 Agustus 2017, 11.40 PM.

Pagi ini aku terbangun pukul setengah 4 pagi, dan tak tahu kenapa tidak mengantuk lagi. Terdengar bunyi dengkur bersahut-sahutan dari teman-teman sekamar. Aku segera melihat hp, dan setelah mengecek ternyata pukul setengah 3 sudah subuh. Pantas saja! Telat subuhan deh.

Pagi itu sekitar pukul 5, aku dan beberapa anggota tim melakukan aktivitas olahraga bersama dan jogging menyusuri jalanan. Udara begitu segar, anginnya dingin menusuk tulang. Anjing-anjing menyalak setiap kami melewati rumah-rumah di sepanjang jalan kami berlari. Rumah disini menurutku indah-indah sekali, dinding-dindingnya yg menjadi pembeda, dibangun dan dirancang sedemikian rupa demi kenyamanan pemilik rumah tanpa meninggalkan kesan seninya. Banyak juga mobil lalu lalang di pagi itu, orang-orangnya melihat kami sambil mengernyit heran. Aku merasa mereka seperti belum pernah melihat orang-orang keren macam kami lari-lari sepagi itu, hehe….

Sehabis olahraga, kami makan dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Dan, sekitar pukul 1 siang, kami pun bertolak dari penginapan menuju bandara Domodedovo kembali. Naik pesawat lagi deh! Terasa menjemukan, namun tidak ada pilihan.
Oh ya, kendala yang aku alami sejauh ini bukan karna suhu, atau makanannya, tp bahasa! Seperti kejadian di imigrasi atau di penginapan, aku dan petugasnya saling tidak mengerti bahasa masing-masing. Yah sejauh ini masih bisa diatasi dengan bantuan google translate, atau bahasa isyarat.

Pukul 7 PM pesawat kami mendarat di Mineralye Vodi, kami yang sudah bertemu Nick di bandara Domodedovo, segera mengajak untuk langsung bergerak menuju tujuan selanjutnya di Baksan Valley dgn menaiki mobil minibus. Oh ya, Nick adalah operator perjalanan kami, orangnya ramah, berumur sekitar 60 tahun,dan tentu saja lancar berbahasa Inggris. Dia berasal dari St. Petersburg, dan ke Mineralye Vodi hanya apabila ada clien saja. Aku sempat berbincang-bincang sambil menunggu keberangkatan untuk menggali informasi mengenai pendakian yang akan kami lakukan.

Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir tiga jam, kami pun tiba di Baksan Valley dan disambut dengan udara yang begitu dingin, maklum, sudah di ketinggian sekitar 2.200 mdpl. Hari sudah gelap, jam tanganku menunjukkan pukul 10.35 PM. Badanku terasa lelah, belum juga mulai naik gunungnya. Dan, disini terasa sekali semilir angin pegunungan yang begitu familiar, ditambah dengan suara lolongan anjing, aku merasa seperti berada di Gunung Putri saja. Alhamdulilah, perjalanan hari ini pun selesai sudah. Aklimatisasi akan dilakukan mulai saat ini. Sekarang saatnya untuk beristirahat. Selamat malam..spa-si-ba!

Azzau,
Sabtu, 12 Agustus 2017
09.20 PM

Pukul 4 AM sudah terbangun lagi, padahal baru tidur mungkin sekitar tiga jam. Entah mengapa tidak mengantuk lagi. Teman-teman sekamar sudah beraktivitas jua. Jendela kubuka, langit sudah mulai terang, udara dingin menerpa tubuhku. Alhamdulilah, langit cerah pagi itu. Aku melihat jam, suhu kamar cukup normal, di 23 derajat celcius.

Pagi itu kami memulai perjalanan sekitar 09.30 AM, dimana sebelumnya kami sarapan terlebih dahulu dengan menu yang mewah menurutku. Panas matahari menerpaku, aku pun terpaksa menggunakan topi ala jepang, yang menutup wajah dan leher. Banyak pedagang di depan penginapan menjajakan barang-barang pendakian yang harganya cukup murah jika dibandingkan dengan harga toko disana. Kami berangkat dengan menaiki minibus lagi.

Tiba di Terskol sekitar 15 menit kemudian. Hari ini kami akan melakukan proses aklimatisasi pertama hingga ketinggian 3.300 mdpl. Namun, dari Terskol tidak jalan, melainkan menggunakan sky lift hingga ketinggian 3000 mdpl. Wow, ternyata hari ini kami jadi turis bukan pendaki gunung. Nick ternyata melihat kami masih lelah akibat perjalanan panjang, sehingga merencanakan hari itu hanya melakukan pendakian sekitar 300 mdpl saja. Perjalanan dengan sky lift merupakan hal baru bagiku, dan ternyata cukup menegangkan. Angin mulai bertiup cukup kencang setelah di ketinggian di atas 2500 mdpl. Segera kukenakan jaket windprof, dan ampuh untuk menahan dingin akibat terpaan angin.

Tiba di ketinggian 3000 mdpl, elbrus sudah kelihatan dengan jelas. Salju menutup seluruh puncaknya, kelihatan angkuh, gagah, dan kukuh. Tinggi menjulang diantara deretan pegunungan Kaukasus. Aku melihat ke arah pendakian yang akan kami lakukan hari ini, dibeberapa tempat sudah ditutup dengan es. Bebatuan banyak berserakan, dan di sebelah kiriku, deretan pegunungan Kaukasus jg ditutup dengan es di setiap puncaknya. Pemandangan yang luar biasa indah buatku, menyaksikan gunung-gunung es yang selama ini hanya bisa dilihat di gambar dan film saja.

Kami memulai pendakian dengan berjalan lambat saja. Cukup banyak orang yang melakukan pendakian hari ini. Bahkan kami berjumpa dengan dua tim dari Indonesia lainnya. Rencananya ada empat tim dari Indonesia yang akan muncak di tanggal 17 Agustus nantinya, untuk melakukan upacara di puncaknya. Cuaca berawan, suhu tidak terlalu dingin namun berangin. Aku begitu menikmatinya.

Sekitar pukul tiga sore, kami menyudahi pendakian dan memutuskan untuk kembali karena dikejauhan cuaca sudah buruk, langit gelap. Beberapa pendaki asing juga menyapa kami dan mengajak untuk segera turun agar tidak ditimpa badai. Kami pun turun dengan cukup cepat menuju stasiun dky lift, karena kalau diterpa hujan badai tentu tidak mengasikkan sewaktu berada di atas sky lift. Syukurnya sampai di Terskol kembali, hanya hujan gerimis yang menerpa. Tidak sampai deras.

Selepas makan sore di Terskol, kami menuju tempat penyewaan alat. Kami berencana menyewa plastic boot atau double boot, yang akan kami gunakan keesokan harinya untuk proses aklimatisasi kedua. Selesai sudah aktivitas hari ini. Dari proses aklimatisasi pertama ini, aku melihat timku tangguh-tangguh semua walaupun sudah berusia di atas 35an, dan akulah yang termuda di antara mereka. Tim yang keren, aku yakin pendakian ini akan berjalan menyenangkan.
Salam~~

-Pasid-

Azau,
Minggu, Agustus 2017, 09.50 PM

Angin dingin menggelitik kakiku, aku segera terbangun, ahh, rupanya jendela kamar belum tertutup. Jam menunjukkan pukul empat pagi. Air kamar mandi dingin sekali, aku tahankan saja, demi membiasakan diri dengan dingin disini.

Hari ini kami berencana melakukan aklimatisasi kedua. Aku mengenakan pakaian khusus untuk aklimatisasi hari ini yang akan mencapai ketinggian 4000an mdpl. Lapisan dalamnya adalah thermal, lapisan keduanya nanti tergantung kondisinya, apakah mau didobel dengan windprof atau memakai fleece dlu atau polar, atau lainnya. Sarapan pagi itu sama seperti hari sebelumnya, tetap terasa mewah karena menunya lengkap. Aku membiasakan lidahku dengan menu-menu makanan disini. Walaupun terkadang hambar atau terlalu manis. Susah juga memang menyesuaikan selera apalagi di negeri orang.

Pukul sembilan pagi, kami pun siap untuk berangkat. Mataharinya terik sekali. Di luar penginapan sudah ramai orang lalu lalang, suara tawar menawar saling bersahut-sahutan di pedagang-pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Kami menuju ke stasiun cable car. Hari ini kami akan menggunakan cable car sampai ketinggian 3400 mdpl, disambung dengan sky lift hingga 3600an mdpl. Cable car ukurannya bisa mengangkut 6-8 orang. Kayaknya kendaraan semacam cable car atau sky lift ini yang akan dibuat di gunung gede atau gunung rinjani, tapi kabarnya tidak jadi, entah mengapa.

Menggunakan cable car mungkin tidak terlalu menegangkan. Lain hal dengan sky lift. Ketika naik di atasnya, aku memperhatikan alatnya. Waah, sepertinya usianya sudah usang. Tempat kakinya sudah tidak ada, jadi hanya memakai pengaman palang besi satu tiang saja. Suaranya juga berderit-derit. Jarak ke tanah juga lumayan jauh, kalau melompat atau terjatuh mungkin bisa patah lah. Aku memikirkan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi sambil berkhayal menikmati pemandangan di sekitar. Aku melihat burung elang di kejauhan, yang terbang dengan anggun. Di bawah, bebatuan berserakan, pepohonan pun sudah tidak ada. Dan, begitu kerak-kerak es mulai dilihat di bawah, aku segera melupakan ketakutanku. Hanya perasaan senang yang aku rasakan.

Tiba di stasiun akhir sky lift, pemandangannya sungguh luar biasa. Deretan pegunungan Kaukasus membentang di belakangku, sementara di depanku Elbrus berdiri gagah. Hari ini adalah hari libur, banyak orang di sekitar lokasi stasiun sky lift.Memang pemandangan di ketinggian 3700 mdpl itu sungguh indah. Daerah sini memang dijadikan tempat wisata, kalau sedang musim dingin, tempat ini menjadi tempat untuk bermain sky. Angin mulai kencang disini. Aku mengenakan jaket windprof, topi ala jepang, buff, dan kacamata UV. Walaupun dingin, sinar mataharinya terik sekali.

Kami mulai berjalan mengenakan tas masing-masing. Aku membawa tas daypack ukurang 35 liter, yang akan aku gunakan sepanjang pendakian. Cukup untuk dipakai pada saat summit nanti juga. Tidak lama kemudian, es ada di depan mata. Maksudku disini jalanan yang penuh es! Waaaah..untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di jalanan bersalju. walaupun saljunya tipis, karena memang sedang musim panas. Aku seperti anak kecil saja, esnya aku genggam, terasa dingin (tentu saja!), dan aku lempar-lemparkan ke atas, hahaha. Nick bertanya apakah ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di es. Belum tau aja dia, di Indonesia mana ada yang beginian, kecuali di puncak Jaya di Irian.

Perjalanan kami lanjutkan hingga ketinggian 3848 mdpl, dan kami beristirahat sebentar disitu. Terdapat kafe kecil disana, karna memang di ketinggian 3847 mdpl ada stasiun cable car juga, namun saat ini sedang tidak beroperasi. Teh hangat dipesan, roti crackers dikeluarkan, uh, begini rasanya jadi turis. Sebentar beristirahat, kami lalu melanjutkan perjalanan. Sekitar 10 menit kemudian, kami menjumpai kembali jalanan es, dan mulai dari situ memang sudah es semua hingga ke atas. Nick mengajari kami bagaimana cara berjalan di es. Oh ya, hari ini kami sudah menggunakan double boot untuk proses aklimatisasi. Berjalan di atas es memiliki teknik tersendiri. Bagaimana kalau ascent, descent, traverse, dan lainnya. Aku senang-senang saja, ketika melangkah, sengaja langkahnya aku tekan keras-keras dan mendengarkan suara es berderak di bawah kakiku. Es berderak pecah itu rasanya seperti menginjak pecahan kaca halus. Ah perasaan senang ini..

Kami terus berjalan di atas permukaan es, terasa sulit karena saljunya tipis. Hari ini kami belum menggunakan crampon atau ice axe. Terkadang menjumpai cerukan sungai kecil. Nick bercerita, yang paling bahaya pada trek salju yang akan kami lewati adalah adanya cerukan lubang-lubang di bawah lapisan salju, jadi agar selalu berhati-hati. Pendakian ini kami lanjutkan hingga ketinggian 4000 mdpl. Di sela-sela waktu berjalan, aku mengabadikan view yang aku lihat.

Ketika turun, rasanya seperti berjalan di atas pasir apabila menjumpai lapisan salju yang tebal. Lain halnya kalo lapisannya hanya es belaka, akan terjatuh jika tidak hati-hati. Aku sering memegang saljunya, maklum belum pernah merasakan sensasi ini. Mungkin benar memang, yang kurang adalah membawa sirup kesini. Tinggal saljunya dikasih sirup, jadi minuman deeh. Kami belajar berjalan di atas es, kalau naiknya sangat pelan-pelan, turunnya sudah mulai terbiasa untuk berjalan. Syukurnya cuaca hari ini cerah, sehingga dingin tidak terlalu terasa, cukup menggunakan windprof saja.

Pukul empat sore kami sudah di stasiun sky lift lagi. Sebelum turun, makan dulu dengan menu sop kambing di sebuah kafe disitu. Kafenya terdiri dari dua tingkat, dan bersih. Oh ya, barrels yang akan kami jadikan menginap keesokan harinya berlokasi di atas stasiun ini juga, tidak terlalu jauh. Stasiun sky lift ini sebenarnya bukan stasiun juga disebut. Hanya semacam bangunan kayu sederhana tempat naik turun penumpang sky lift saja. Aku sering menyapa orang-orang lokal. Hanya beberapa kata saja yang aku pahami, seperti mengucap “Halo” dalam bahasa Rusia, dan itu sudah membuat mereka tersenyum kalo mendengar aku menyapa mereka dengan ucapan halo.

Selepas makan kami turun kembali hingga ke Azau, dan kemudian bergegas ke tempat penyewaan alat. Aku berencana meminjam sejumlah alat seperti down jacket, crampon, ice axe, sky mask, dan lainnya. Memang saat ini peralatan naik gunung es belum kumiliki, jadi, cukup meminjam saja. Finally, slesai sudah kegiatan aklimatisasi kami hari ini, alhamdulilah…mari istirahat.
Salam~

-Pasid-

 

 

to be continued…

COMEBACK!

 

Jakarta, 29 Juli 2017, 10:54 PM.

Mount Elbrus 3

(taken from http://crewtreks.com/elbrus.html)

Aku mendapati diriku begitu ingin kembali menulis, ataupun sejatinya adalah mengetik, karena dilakukan di laptop. Memang malam ini rasanya waktuku terbuang dengan menyenangkan. Aku melakukan aktifitas yang jarang-jarang aku lakukan beberapa waktu ini, yaitu ngemil sambil baca buku! Dan pada jam ini, aku ingin menuliskan kisah hidupku selama setahun belakangan, khususnya sejak terakhir kali aku menulis (aku pake istilah menulis saja).

Kisah yang terakhir kali aku tulis adalah mengenai perjalanan terakhir ekspedisi yang aku lakukan, kala itu saat menuntaskan puncak terakhir dari seven summits Indonesia ke Carstensz Pyramid di Papua. Semenjak perjalanan itu, aku sebenarnya merasa bolong, rasanya seperti tidak ada impian untuk mendaki gunung kembali. Dulu, aku bermimpi mencapai titik-titik tertinggi di Indonesia, dimana dalam menggapai tujuh puncak tertinggi di Indonesia beberapa tahun yang lalu rasanya seperti mustahil, disamping memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, juga membutuhkan waktu yang panjang. Ternyata takdir berkata lain, dimulai dengan aku masuk kuliah lagi sehingga waktuku untuk sementara tidak dipakai bekerja, juga ternyata kelompok pecinta alam di kampusku tercinta yaitu STAPALA mengadakan ekspedisi.  Memang Tuhan memeluk mimpi-mimpiku.

Selepas ekspedisi tersebut, aku menyibukkan diri di kampus. Aku merasa seperti kosong. Dan waktu pun berjalan dengan cepat, tidak terasa aku selesai juga kuliah dan kembali bekerja. Sekitar September, aku dipindahtugaskan ke KLIP, sebuah kantor yang berbeda dari kantor-kantor sebelumnya yang aku tempati. Di kantor ini, aku belajar banyak sekali hal. Dan, dimasa-masa itu juga, aku diajak oleh Coach Rahmat, pelatihku saat ekspedisi, untuk mengikuti inisiasi masuk ke komunitas Indonesian Spartans, dan aku berhasil menjalani inisiasinya yang terdiri dari lari, pullup, burpees. Aku menemukan kegairahan tersendiri untuk terus melatih tubuh agar dapat mengikuti kegiatan tersebut! Aku pun mulai rutin berlatih disamping kesibukan di kantor dan kegiatan lainnya.

Kemudian, pada waktu itu aku mulai rutin kembali naik gunung, salah satu alasannya karena ajakan salah seorang senior di STAPALA. Dimana sebelumnya aku merasa malas untuk naik gunung kembali karena merasa sudah menggapai puncak tertinggi Indonesia. Aku akui aku merasa agak terlalu tinggi hati untuk naik gunung di Indonesia lagi karena tidak menemukan kesenangan. Namun semuanya akhirnya perlahan berubah. Udara bersih, gemericik air, sahut-sahutan suara burung, denging jangkrik, dan lainnya membuatku kembali teringat kesenangan naik gunung. Aku merasa seperti tersegarkan kembali dari kepenatan rutinitas yang mendera.

Dan waktupun berjalan kembali. Pada awal 2017, aku mengikuti kompetisi lari halang rintang pertama kalinya, dimana kegiatan ini sangat membakar semangatku. Dan akhirnya pun aku mengikuti Spartan Race, kompetisi prestisius bagi para anggota Indonesian Spartans. Semenjak itu, aku seperti kecanduan untuk terus berlatih agar dapat lebih baik lagi ketika mengikuti kompetisi berikutnya. Dimasa-masa itu pulalah, STAPALA kembali mengobarkan semangatku dan menghidupkan mimpiku. STAPALA berencana untuk kembali melanjutkan ekspedisi seven summits, dan kali ini bukan berbicara tentang Indonesia, tapi tentang dunia. Dan aku pun kembali menemukan impian hidupku berikutnya. Ya, kita berbicara tentang tujuh puncak tertinggi di tiap benua di dunia! Brr…..membayangkannya saja membuatku gemetar dan berkeringat dingin.

Kalau ditanya padaku, apa sih mimpi tahun 2017 ini? Yang pertama, aku berencana untuk memulai kembali menggapai mimpiku di bulan Agustus ini, dengan menjalankan pendakian ke Rusia, untuk menggapai puncak tertinggi di benua Eropa, Gunung Elbrus. Dan pada Desember tahun ini juga, aku harap aku terpilih menjadi salah seorang atlet STAPALA untuk melakukan ekspedisi ke tanah Amerika, ke puncak tertinggi disana, ya itu adalah Gunung Aconcagua yang terletak di perbatasan Argentina dan Chile. Wuiiiih, aku sudah tidak sabar untuk menjalaninya. Dari impianku untuk mencapai tujuh puncak tertinggi di tiap benua di dunia, aku sebenarnya sudah memijakkan kakiku di tahap awal, dengan mencapai puncak Carstensz Pyramid tahun lalu. Aku merasa begitu optimis untuk melanjutkan mimpiku ini, dan semoga Tuhan tetap memeluk mimpi-mimpiku. Aku yakin itu, aku berani bermimpi!

Sekarang, apa sih yang aku lakukan? Saat ini, latihan-latihan dan kompetisi yang aku ikuti dengan Indonesian Spartans aku jalani sepenuh hati untuk terus menempa fisik dan mental yang aku yakin juga dapat menunjang diriku untuk menjadi salah satu atlet yang akan mengibarkan bendera STAPALA di puncak-puncak tertinggi tersebut. Walaupun terkadang rasa capai mendera, disamping latihan yang aku lakukan, aku tentu saja tetap berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil, yang bekerja menghimpun penerimaan negara. Juga, aku melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yang menunjang impianku. Sehingga sampai di kost-kostan seringnya tengah malam, dan sudah pergi lagi untuk berangkat bekerja pagi harinya.

Percayalah kawan, aku merasa saat ini kehidupan terasa berat! Namun aku yakin, usaha ini akan membuahkan hasil. Justru sebenarnya, dari pengalaman hidup yang sudah aku peroleh sepanjang usiaku yang baru 27 tahun ini, kebahagian terbesar dari pencapaian impian itu aku peroleh justru pada proses mendapatkannya. Karena begitu hasilnya aku peroleh, aku langsung berpikir dan bertanya pada diriku sendiri tentang apalagi impianku berikutnya.

Dan, apakah impian hidupku hanya berkutat di sekitaran puncak gunung saja? Sebenarnya tidak, banyak impian lain dalam hidupku, seperti membentuk keluarga (aamiin, semoga cepat ketemu jodoh), melanjutkan pendidikan S2 ke luar negeri tepatnya ke Inggris atau Amerika (accurate bgt ya maunya kemana, hehe..), berkontribusi terhadap masyarakat (nah ini yang menjadi harapanku setiap saat, aku berharap dapat memberi manfaat untuk masyarakat), dan lain-lainnya.

Tapi, naik gunung itu seperti sudah mendarah daging dalam hidupku, sudah berakar pada falsafah hidupku, dan itu tidak bisa diganggu gugat. Makanya ketika aku menemukan impian untuk naik gunung kembali, aku merasa hidup sehidup-hidupnya. Salah satu kalimat inspirasi dari Walt Whitman yang aku pegang sampai kini, “Now I see the secret of making the best person, it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth. Aku yakin semua yang aku lakukan ini akan membuahkan hasil yang baik. Insya Allah..

Salam! 

-Patuan “Pasid” Handaka-

Catatan Perjalanan: Carstensz Pyramid

Ekspedisi Saptanusa, Ekspedisi Seven Summits Indonesia. Kalimat tersebut yang selalu memotivasiku selama setahun terakhir. Mimpi untuk mencapai puncak-puncak tertinggi di Indonesia seakan-akan jalannya hadir di depanku. Dan kisahku di ekspedisi ini dimulai ketika aku ikut seleksi atletnya. Namun, kisah yang akan kuceritakan kali ini bukan tentang detail seluruh ekspedisinya. Mungkin hanya secara umum, namun khususnya akan aku fokuskan di gunung terakhir dalam rangkaian ekspedisi ini. Ya, Carstensz Pyramid, the highest place in Indonesia. Mungkin akan terasa cukup panjang, namun aku ingin mengabadikan momen tersebut di tulisan ini. Jadi, selamat menikmati kisah ini….

jalur-pendakian-empat-puncak-pegunungan-tengah-papua

(taken from https://jurnalbumi.wordpress.com/2015/09/04/menjejak-sendiri-puncak-jaya-dan-soemantri/)

DSCF0129

(puncak Carstensz Pyramid yang menjulang dengan indah, view dari Yellow Valley)

Satu tahun yang lalu…

   Ketika ekspedisi ini digaungkan ke publik, aku serta merta ingin ikut serta mendukungnya, entah bagaimana caranya. Mulailah masuk kepanitiaan. Dan ketika seleksi atlet dibuka untuk anggota STAPALA, aku pun berniat masuk. Walaupun pada awalnya, keder, mengingat fisik yang tentu kalah jauh dengan anggota yang lebih muda dan rutin olahraga. Namun, begitulah setiap cerita, selalu ada permulaan. Dan permulaanku pada cerita ini adalah mengikuti seleksi.

Periode seleksi dan latihan….

          Periodedisasi latihan yang ketat hampir membuatku menyerah. Aku yang disibukkan dengan kegiatan kampus dan kegiatan lainnya dibuat kewalahan dengan jadwal. Namun, walaupun terkadang bolos, namun aku tetap fokus pada tujuanku. Ikut serta dalam ekspedisi ini. Bagaimana hasilnya besok, yasudahlah, aku sudah berusaha.

Agustus-September 2015….

            Periode ini sangat menentukan, dan ternyata, aku termasuk dalam lima orang atlet yang akan berangkat! Senang dan tegang bercampur aduk. Melihat jadwal perjalanan yang padat, mampukah aku? Jadwalnya memang baru enam gunung, karena satu lagi masih dalam proses pengurusan izin yang sangat melelahkan. aku turut menyaksikan prosesnya yang sangat panjang. diterima dan ditolak dalam perizinan menjadi hal yang lumrah. Yang pada akhirnya pada periode ini, pendakiannya hanya di enam gunung dahulu.

            Walaupun sudah terpilih jadi atlet, tetap saja rasa tak percaya diri muncul. Bisakah aku melewati proses ini? Dan semuanya mengalir begitu saja. Dimulai dari proses karantina atlet di Posko, hingga latihan bersama-sama setiap harinya. Aku percaya, atlet lainnya mampu untuk melakukan tanggung jawab ini. Ya, benar, tanggung jawab. Kepada mereka yang telah memberikan harapan dan impiannya kepada kami, para atlet, untuk mencapai tujuh puncak tertinggi di Indonesia.

            Pada akhirnya, enam gunung berhasil kami selesaikan dengan baik dan selamat. Dimulai di Gunung Kerinci di Jambi, dan disudahi di Gunung Semeru di Malang. Periode pertama pendakian selesai sudah. Cerita di enam gunung ini telah dikisahkan di tulisan lainnya. Dan saatnya kami menanti pendakian tahap kedua, gunung terakhir sekaligus tersulit. Carstensz Pyramid….puncak tertinggi di Indonesia, salah satu tujuh puncak tertinggi di dunia.

Pasca ekspedisi tahap pertama…

            Di periode ini, kami terbuai dengan aktivitas kampus dan lainnya. Aku juga sempat mengikuti kegiatan lain yang menyita waktu dan pikiran. Sehingga terdapat jeda yang membuat ekspedisi ini tidak tersentuh sama sekali. Bahkan aku juga sempat berpikiran negatif, apakah ekspedisi ini tidak berlanjut? Sungguh naif sekali….

        Namun, dibalik seluruh kegiatan yang menyita waktu anak-anak Posko, tetap ada satu orang yang selalu memikirkan bagaimana agar ekspedisi ini selesai. Elang namanya, sang manager dalam kegiatan ini. Dan ternyata beberapa orang juga masih tetap memperjuangkan agar ekspedisi tetap berjalan. Namun, perjalanannya terjal dan tidak selalu mulus. Benar-benar perjuangan.

Sebelum ekspedisi tahap kedua dimulai….

            2016! Tahun penuh harapan. Di awal bulan kedua, seolah mendapat angin segar, ada operator yang bersedia membawa kami kesana. Namun, menumpang dengan private trip orang luar. Tentu saja kami menampung asa tersebut, sembari terus menanti kabar dari beberapa operator lainnya yang telah dihubungi terlebih dahulu. Biaya kesana amatlah mahal, dimana kas ekspedisi tidaklah terlalu besar. Hal ini membuat sang manager berpikir cermat untuk mengatasi masalah tersebut. Pada awal tahun juga, dana usaha telah bergerak kembali mencari dana untuk menambah kas ekspedisi yang menipis setelah ekspedisi tahap pertama walaupun hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Namun yang membuat aku salut, ternyata anggota-anggota Stapala lainnya berbondong-bondong memberi bantuan kepada ekspedisi, dan akhirnya tercukupilah dana untuk memberangkatkan atlet ke puncak tertinggi Indonesia ini. Alhamdulilah…

Beginning….

DSCF0012

            Hari itu tanggal 29 Februari. Aku masih ingat. Kami melakukan persiapan untuk berangkat. Kepastian telah diterima seminggu sebelum tanggal tersebut. Dan pada akhirnya, terpilihlah dua orang atlet yang akan berangkat. Dan aku salah satunya, aku tak menyangka awalnya. Kepastian berangkat didapat setelah kopi darat dengan sang operator di bilangan Sabang, Jakarta Pusat. Dan nego harga telah dicapai. Sang operator yang bernama Franki Kowas, berkata “Oke, sampai bertemu di Nabire, yah!”. Deg-degan tidak terkira ketika ditunjukkan video yang tersimpan di smartphone beliau. Video tentang perjalanan di Carstensz Pyramid.

            Sekilas mengenai Pak Franky, beliau berasal dari Manado. Dan ternyata sangat aktif di dunia outdoor. Beliau telah mengalami asam garam menjadi operator khusus pendakian Carstensz. Telah beroperasi hampir selama enam belas tahun lamanya. Dan telah menjajal hampir seluruh rute yang available untuk menuju Carstensz. Sugapa, Ilaga, Tembaga Pura, bahkan ternyata hampir berhasil membuka rute sendiri melalui Singa.

            Dua hari sebelum keberangkatan, praktis aku belajar banyak tentang teknik pendakian Carstensz, yang konon katanya terkenal sebagai gunung yang mempunyai akses dan jalur tersulit untuk menuju puncaknya. Jumaring, dan lainnya menjadi sesuatu yang wajib aku kuasai. Untungnya aku punya basic teknik rock climbing dulunya, sehingga tidak terlalu terkejut ketika melihat video-video pendakian puncak Carstensznya.

            Namun, jujur saja aku katakan, disamping perasaan senang karena akhirnya bisa menggapai mimpi pribadi untuk mencapai puncak tertinggi di Indonesia, ada perasaan tegang dan takut. Takut tidak mampu untuk kembali dengan selamat ke rumah. Takut tidak mampu mengatasi rintangan jalur pendakian yang terlihat amat sulit ketika mendengar cerita-cerita dan melihat video dokumentasi orang-orang yang telah berada di sana sebelumnya. Perasaaan itu terus hinggap hingga pada pada saat keberangkatan.

DSCF0018

            Kami berangkat dari Bandara Cengkareng di malam hari, setelah sebelumnya dilepas dengan meriah oleh anak-anak posko. Sempat transit di Makassar dan Jayapura, akhirnya tiba di Nabire pagi hari menjelang siang. Aku menghubungi Romi, guide kami disana. “Halo bg Romi, ini Patuan, tim STAPALA. Kami telah tiba di bandara,” ujarku saat menelepon bg Romi. Dan tidak sampai setengah jam, kami telah berada di mobil bersama Romi dan Loren. Mereka berdua adalah guide dari tim Manado Adventure, operator milik Pak Franky.

            Kami dibawa ke basecamp milik mereka, dan istirahat sepuasnya. Sorenya ketemu dengan Pak Franky, dan kami diajak makan. Oh ya, kami disini adalah aku sendiri, dan Turus. Kami berdua lah yang mewakili STAPALA untuk mendaki pada ekspedisi ke Carstensz ini. Oh ya, malam itu kami ketemu dengan anggota tim lainnya. Mereka adalah Russel Brice, Chris, Collin, dan Maria. Usut punya usut, ternyata mereka para pendaki profesional. Beruntung sekali rasanya kami. Kami mendengarkan mereka bercerita. Khususnya Brice, yang aku tanya mengenai beberapa hal tentang kegiatan pendakian yang dia lakukan. Aku sebelumnya sudah mencari-cari informasi tentang Brice, yang ternyata merupakan sosok yang luar biasa.

            Oke, untuk selanjutnya akan aku ceritakan di bawah, karena tidak elok digabungkan dengan Subtopik Beginning, karena esoknya kita sudah terbang dengan helicopter ke Lembah Kuning.

2 Maret 2016….

            Pagi itu kami sudah di bandara. Direncanakan akan terbang, namun sempat ketar-ketir akibat cuaca yang tidak bersahabat. Perlahan-lahan matahari mulai menampakkan sinarnya. Awan gelap yang menyelimuti langit nabire berangsur hilang. Akhirnya sekitar pukul delapan pagi, kami pun take off. Untuk ke Lembah Kuning, yang merupakan titik pertama pendakian kami ini, harus terbang ke Kota Enarotoli dulu. Oh ya, alat transportasi kami adalah helicopter. Pantas trip ini mahal harganya. Sejam aja sewa heli bisa sekitar USD 5,000. Wuih….

DSCF0056

(suasana ketika loading barang di bandara dan sesaat sebelum lepas landas menuju Enarotali)

DSCF0058

            Sejam sesudahnya, kami turun di Bandar Udara perintis di Enarotoli. Ternyata untuk ke Lembah kuning dari situ, butuh waktu sekitar setengah jam lagi dengan helicopter. Kami dibagi menjadi dua tim untuk diterbangkan secara bergantian, karena sang heli memiliki beban maksimal agar dapat terbang ke lembah kuning. Kami berjumlah delapan orang, dimana dua orang lainnya adalah Romi dan Loren. Posisi kami, aku dan Turus, adalah pendaki yang menyusup di trip private Russel Brice. Sehingga kami pun ditempatkan posisinya menjadi junior staf, ceritanya lagi magang di Operator Manado Adventure. Sehingga untuk selanjutnya, kami bukan berperan sebagai tamu di pendakian ini, namun sebagai asisten guide.

DSCF0077

DSCF0099

DSCF0075

          Giliran pertama yang terbang tentu saja Romi, Loren, dan dua orang tamu, yaitu Collin dan Maria. Aku sendiri di giliran berikutnya, karena dapat tugas nyari bensin di sekitar bandara, karena bensin yang jadi bahan bakar untuk masak di atas yang dibawa kurang. Kami sendiri menyusupkan bensin tersebut karena di bandara kalau ketauan tentu saja akan ditahan. Padahal itu sesuatu yang dibutuhkan ketika di camp, mengingat tidak mungkin masak pake kayu bakar. Gas dan parafin? Tidak ada dalam plan para guide.

            Keluar dari bandara sembari menunggu heli menjemput, aku menyusuri jalan yang becek minta ampun. Babi berkeliaran dimana-mana, aku bahkan harus menghindar sesering mungkin. Setelah berjalan seratusan meter, bensin pun didapat, dan aku sekalian beli paramex, obat sakit kepala. Kata Pak Franky, penting dibawa, karena akan sangat penting. Kenapa penting? Karena memang penting, hehe…nanti akan dijelaskan.

            Selanjutnya kami pun terbang. Itu merupakan pengalaman pertamaku naik helicopter, dan aku berusaha tetap cool dan tidak sampai selfie selama perjalanan. Namun aku khilaf di awal, karena berfoto dengan latar belakang si heli, hehe…Tidak lama saja, kami sudah memasuki kawasan Freeport, untuk selanjutnya aku singkat PTFI. Terlihat Grassberg Hole, yang sangat terkenal itu. Aku sempat-sempatnya mengabadikan perjalanan itu. Dan setelah melewatinya, lembah kuning pun terlihat. Dan tentu saja, puncak Carstensz Pyramid.

DSCF0112

(suasana camp, yang letaknya persis dibawah tebing Carstensz)

            Untuk gambaran, letak Lembah Kuning berada di atas Lembah Danau-danau, dengan ketinggian di atas 4,100 mdpl. Bayangkan betapa berbahayanya perjalanan ini. Dimulai dengan terbang memakai helicopter yang menyusup di antara pegunungan, hingga proses adaptasi tubuh yang terbang dari hampir 0 mdpl (Nabire berada di pinggir laut) ke atas 4,100 mdpl. Berikut aku sadur dari beberapa sumber:

“Perubahan fisiologis tubuh yang terjadi selama berada di dataran tinggi merupakan bentuk kompensasi tubuh untuk beradaptasi dengan keadaan yang tidak biasa. Mekanisme itu dapat berupa hiperventilasi (bernapas cepat, lebih dalam, atau keduanya) sebagai upaya untuk mendapatkan oksigen lebih banyak dan pengeluaran karbondioksida. Kalau pada kondisi normal hiperventilasi terjadi pada saat kita beraktivitas (misalnya saat berolahraga), maka pada high altitude hiperventilasi terjadi walaupun dalam keadaan istirahat. Hiperventilasi “memaksa” ginjal untuk menyesuaikan diri dengan cara meningkatkan pengeluaran bikarbonat melalui urin dan hal ini mengikut sertakan cairan. Akibatnya, volume buang air kecil semakin banyak (diuresis). Selain itu, level oksigen yang rendah merangsang ginjal untuk memproduksi Erithropoietin, dan selanjutnya merangsang sumsum tulang menghasilkan lebih banyak sel darah merah (polisitemia). Akan tetapi, keadaan ini justru kurang menguntungkan bagi tubuh karena peningkatan jumlah sel-sel darah merah menyebabkan darah menjadi kental (viskositas meningkat). Hal ini menimbulkan aliran darah di dalam pembuluh darah menjadi lambat, sehingga mempermudah terjadinya penyumbatan pembuluh darah (trombosis).”

            Tubuh kita punya kemampuan untuk beradaptasi terhadap ketinggian, bisa menyesuaikan diri terhadap “ketersediaan” oksigen yang rendah, yang biasa dinamakan Aklimatisasi. Kalau kita berjalan dari Sugapa/Ilaga, tentunya tubuh kita secara perlahan beraklimatisasi dengan perubahan ketinggian. Namun kalau naik heli, tentunya tubuh akan terkejut dengan perbedaan ketinggian tersebut. Nah disitulah salah satu tantangannya. Dan paramex sangat berguna di kondisi tersebut, karena salah satu alternatif yang bisa menekan sakit kepala yang menyerang. Pada akhirnya, sepanjang kami di gunung, sakit kepala menyerangku dengan hebat, apalagi kalau malam tiba. Baru reda ketika sudah turun. Luar biasa.

            Tiba di lembah kuning, kami segera membantu Romi dan Loren mendirikan tenda dan lainnya. Dan aku salut sama Brice, dkk. Mereka tidak segan ikut membantu, dan tidak merasa keberatan untuk melakukannya, bahkan menawarkan diri. Hari itu aku mendapat job pertama, yaitu mengambil air di danau yang ada di lembah tersebut, yang selanjutnya akan menjadi tugas rutin buatku selama disana. Lumayan juga buat olahraga. Koki dalam pendakian ini adalah Romi, yang dengan luar biasa mengolah semua bahan makanan dengan rata, dan lebih mengejutkan lagi, masakannya enak. Namun, tidak buatku, karena tubuhku sejak diserang sakit kepala, malas buat menelan nasi. Aku tidak menyentuhnya sama sekali, dan hanya makan lauknya saja terkadang. Lebih seringnya makan biskuit dan minum hangat saja yang kuperbanyak.

DSCF0109

(lembah kuning, di ujung lembah sanalah terdapat Grassberg Hole PTFI, sebelah kiri inilah tebing Carstensz)

            Oh ya, melanjutkan deskripsi letak lembah kuning. Berada setelah berjalan selama dua jam dari Lembah Danau-danau menuju puncak. Dan titik pendakian puncak berada di lembah kuning ini. Puncak sudah sangat dekat terlihat. “hanya” sekitar 800 mdpl saja. Dan itu tentu tidak mudah, karena dari titik pendakian puncak adalah tebing hingga ke atas. Memakai tali dan alat memanjat adalah keharusan untuk safety. Dari sini ke Grassberg hole milik Freeport terlihat sangat dekat.

DSCF0110

(lembah kuning)

3 Maret 2016….

            Hari ini kami masih melanjutkan proses aklimatisasi. Aku yang sejak pagi sudah bangun, berolahraga kecil di samping tenda. Disini dingin sekali, suhunya entahlah di titik berapa derajat. Jaket tidak pernah lepas dari tubuhku, dan pakaianku tiga lapis. Pagi itu aku mencoba berjalan ke arah titik pendakian. Mengamati ketinggian, dan merasa keder. Tebingnya hampir-hampir vertikal terus sampai titik summit ridge.

            Pulang ke tenda, orang-orang tidak ada. Ternyata mereka pergi berjalan ke arah lembah danau-danau. Hanya Romi yang tinggal di tenda. Sebenarnya tidak dijaga juga tidak masalah. Karena hanya kami yang berada disana. Tidak ada pendaki lain. Pendaki lain baru tiba sewaktu kami akan turun nantinya. Aku pun beranjak menyusul kesana. Sempat-sempatnya bikin video sepanjang jalan, aku menikmati pemandangan yang sangat indah di lembah tersebut. Cuaca pagi itu cerah. Dan kebiasaan cuaca di lembah ini adalah, dari pagi hingga pukul sepuluh biasanya cerah berawan, namun selanjutnya akan hujan hingga malam tiba. Terkadang memang hujan berhenti, dan matahari mengintip malu-malu dari balik awan, namun segera saja awan hitam menyelimuti langit lagi biasanya.

DSCF0134

            Hampir sejam berjalan, tiba di punggungan dan bertemu Loren dan Turus yang sedang berjalan pulang. Aku telah tiba di puncak punggungan ke lembah danau-danau. Di depanku menjulang indah puncak Jayawijaya, puncak salju abadi di Indonesia. Dan memang saljunya ada, menghiasi pucuk-pucuknya. Di sebelah kananku puncak Carstensz Timur. Sungguh indah panoramanya, seandainya bisa kudeskripsikan dengan lengkap. Aku tidak lama-lama disana, setelah mengambil foto secukupnya dan beristirahat, aku berjalan pulang ke Camp.

DSCF0150

(lembah danau-danau)

DSCF0156

(puncak Jaya Wijaya)

            Selanjutnya seharian itu kami hanya beraktifitas di sekitar tenda saja. Kalau kata Brice, aktifitasnya adalah Eating, Sitting, Sleeping, ada-ada saja.. aku ingin menambahkan kosa katanya dengan toiletting, namun rasanya kok tidak elok. Sehingga hanya sangkut di tenggorokan saja. Terkadang kami memang bercakap-cakap dengan Brice, dkk. Terutama dengan Brice sendiri yang aku belajar beberapa hal darinya selama pendakian ini. Berbincang dengan Maria juga sangat menyenangkan. Namun kalian akan kecewa sebagaimana aku juga, karena Maria berusia empat puluhan.

            Aktifitas kami bersama-sama biasanya ketika makan, karena kami yang menjadi junior staf tentu saja yang bertugas menyuci piring, menghidang, dan hal kecil lainnya. Loren akan berbincang dengan tamu, dan Romi hanya sesekali menimpali karena main jobnya adalah memasak. Namun, menyenangkan rasanya mendapat banyak ilmu baik dari Romi dan Loren, juga dari Brice,dkk. Ada beberapa quote dari Brice yang aku ingat sekali, aku bagikan deh di akhir tulisan ini.

            Brice merupakan pemilik operator Himex, operator terkemuka yang membawa tamu untuk mendaki puncak-puncak gunung di Himalaya, seperti Everest, K2, dan ke gunung lainnya. Namun, sebagai orang yang sudah beberapa kali seven summit dunia, dan memiliki segudang pengalaman pastinya, Dia tidak terlihat sombong dan tinggi hati. Bahkan sangat rendah hati. Ketika aku berbincang kepadanya dengan mengatakan aku mengaguminya dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, tebak apa yang dia bilang. Brice hanya berujar, “Look at me, im just an old man right now”. Dan Dia juga bilang nanti ketika naik ke Carstensz jangan cepat-cepat karena Dia akan berjalan dengan sangat perlahan. Dan nantinya itu tidak terbukti, karena mereka nantinya hanya membutuhkan lima jam saja untuk naik turun Carstensz….

            Oh ya, satu hal yang sangat menarik yang Brice lakukan setiap hari selama kami disana mulai dari hari pertama adalah membersihkan area di sekitar Camp dari sampah yang bertebaran dimana-mana. Awalnya sih aku hanya melihat-lihat saja. Sangat malas rasanya buatku berpartisipasi karena kondisi cuaca yang dingin, yang membuat badan malas bergerak. Namun, aku tergerak dengan aksi yang dilakukan Brice. Lama-kelamaan seluruh anggota tim ikut membantu Brice. Dan dalam kurun waktu sekitar enam hari di atas, area Camp Lembah Kuning sudah cukup bersih dari sampah yang bertebaran.

DSCF0123

4 Maret 2016….

            “Sial, aku ga bisa tidur lagi malam ini!,” begitu gumamku di dini hari itu. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, yang artinya sejam lagi kami sudah harus bangun karena akan summit. Yap, sehari sebelumnya tim memutuskan untuk summit tanggal empat pagi apabila cuaca mendukung. Dan ternyata sejam tadi malam gerimis tidak mau berhenti. Aku melangkah keluar dan melihat langit gelap sekali.

            Memang sakit kepala telah menyerangku dengan hebat sejak malam pertama, dan sedikit mereda kalau siang. Namun kalau malam, membuatku tidak bisa tidur sama sekali. Walaupun sudah mencoba banyak gaya tidur, tetap aja mata itu tidak mau terpejam. Selama di lembah kuning, sudah banyak obat kimia yang kutelan dengan rakus. Demi menghilangkan sakit tersebut. Sepertinya aku memang kena penyakit ketinggian itu.

            Bahkan Pak Franky cerita, dulu beberapa tamunya ada yang sampai pingsan, mimisan, dan tidak bisa mendaki sama sekali begitu tiba di Lembah Kuning. Akibat dari tidak tahan terhadap perubahan ketinggian yang terjadi secara tiba-tiba. Seram juga ternyata.

            Pukul tiga aku sudah mendengar di luar kasak kusuk. Sepertinya Brice, dkk sudah keluar dari tenda. Dan benar saja, Brice memanggil kami dari luar. Aku segera membangunkan Romi. Dalam sekejab, kami sudah di tenda dapur. Dan Romi mulai memasak. Brice bertanya bagaimana kelanjutan summit pagi tersebut. Dan demi melihat cuaca, Loren berujar akan menunggu cuaca membaik hingga pukul setengah lima pagi. Demi mendengar itu, aku izin ke tenda untuk tidur-tidur barang setengah jam.

            Pukul tengah empat, aku bersiap di dalam tenda. Memasang hardness, menyiapkan prusik di karabiner dan jumar. Dan mengaturnya demi memprediksi mana yang akan dipakai di pendakian ini. Total aku membawa lima karabiner, satu jumar, enam buah prusik, satu helm, dan satu figure of eight. Prediksiku, figure of eight akan berguna ketika turun nanti. Sementara aku sedang bersiap-siap di tenda. Di luar Romi sudah memanggil-manggil. Eh ternyata mereka akan berangkat tanpa menunggu pukul setengah lima. Wah sial, aku bahkan belum minum air sedikitpun dan sarapan apapun. Turus kemudian masuk tenda untuk persiapan juga. Karena aku sudah bersiap, aku keluar tenda. Dan demi melihat mereka sudah akan jalan, aku pun panik. Memang cuaca sudah agak membaik, dengan gerimis sudah berhenti turun. Romi dan Loren pun agak kerepotan karena tiba-tiba berjalan. Bahkan tidak ada briefing dan doa bersama.

            Di luar, aku masuk ke dapur tenda, dan menyambar tiga roti untuk dimasukkan ke dalam jaket. Syukurnya kami sudah mempersiapkan barang yang akan dibawa dalam satu daypack malam sebelumnya. Namun, ternyata Turus belum juga keluar dari tenda ketika Brice, dkk sudah berjalan. Romi memanggil-manggil sembari ikut berjalan. Aku pun dengan tergesa-gesa memanggil Turus, yang ternyata belum siap. Sembari berjalan aku melihat terus ke tenda. Dan Turus pun akhirnya keluar tenda dan mulai berjalan.

            Aku tiba di titik pendakian tebing, dan Turus belum juga sampai. Brice,dkk sudah mulai naik. Sembari menunggu, aku melepas celana jaket. Ternyata sangat mengganggu walaupun melindungi dari dingin. Duh, barangku rasanya berat sekali. Sepertinya aku terlalu membawa banyak barang. Isi tasku padahal cuma satu jaket cadangan, satu celana jaket, satu raincoat, beberapa makanan ringan, air minum 500 ml, dan survival kit. Loren agak sedikit panik, dengan mengatakan kami harus cepat berjalan. Aku memaksa Loren menunggu karena Turus belum tiba di titik pendakian.

            Lima menit berlalu, kami pun mulai mendaki. Sialnya, ternyata hardnessnya aku pasang dengan posisi tidak baik, akibat terburu-buru memakai kembali setelah melepas celana jaket. Namun untungnya tidak terlalu mengganggu, karena untuk membenarkannya tidak ada waktu lagi. Formasi tim untuk memanjat telah kami bicarakan malam sebelumnya. Romi yang paling berpengalaman berada di depan untuk memimpin, sekaligus memeriksa tali yang akan dipakai. Sudah cukup banyak tali yang bergantung di tebing Carstensz, menandakan sudah cukup banyak pendaki yang ikut membuat jalur pendakian di tebing tersebut. Romi memiliki pengalaman mendaki dari tahun 2000an, dan sedikitnya telah mendaki hingga ke puncak Carstensz sebanyak tujuh puluh kali. Loren baru bergabung dengan operator di tahun 2013. Setelah Romi, baru empat orang tamu, lalu Loren, disusul Turus, dan sebagai sweeper aku berada di belakang. Sepertinya Romi percaya akan kemampuan kami untuk memakai alat dan memanjat tebing. Padahal, sejujurnya, aku jarang manjat tebing sejak penempatan kerja tahun 2011. Mulai latihan memanjat lagi pun satu tahun terakhir, namun itu juga sangat sedikit.. Setidaknya seminggu terakhir, kami membiasakan diri dengan alat-alat yang kami bawa, sehingga memudahkan untuk memanjat. Juga tiga hari terakhir sebelum berangkat kemarin, kami intensif latihan memanjat di dinding panjat sembari latihan ascending dan descending memakai jumar dan figure of eight.

            Dan ternyata, jumar lah alat yang sangat berharga dalam pendakian ini. Tebing yang didaki ternyata benar-benar cukup vertikal. Seperti gambaran kami sewaktu menonton video-video pendakian Carstensz. Teknik Ascending yang kami lakukan, memakai satu jumar saja di tangan kanan. Terkadang, tangan kananku bergantung di jumar kanan, sementara anggota tubuh lainnya memanjat. Terkadang juga, jumar hanya dinaikkan saja, dan memanjat pakai dua buah tangan. Namun tidak jarang, hanya bergantung semata pada jumar, karena tidak ada celah tebing yang bisa dijadikan pegangan untuk merangkak naik. Tali-tali yang bergelantungan di tebing, ada yang sudah lapuk dan ada yang masih cukup baru. Tetap saja karena basah, membuatnya hampir tidak bisa dibedakan mana yang masih bagus. Jadi memang terkadang ada faktor untung-untungan sembari berharap bahwa tali yang dijadikan alat untuk naik masih bagus. Resikonya sangat tinggi sekali.

            Tebing Carstensz sendiri ada beberapa titik untuk menuju puncak. Teras 1, 2, dan 3, kemudian Teras Besar, lalu Summit Ridge. Selanjutnya jalur tyrolean yang panjangnya sekitar 20an meter. Lalu ada tyrolean kecil sebanyak 2 buah, dengan panjang sekitar 5-10 meter. Setelah itu, baru puncak Carstensz. Pendakian ke puncak dari lembah kuning biasanya memakan waktu delapan jam pulang pergi, dan itu kondisi normalnya.

            Balik lagi ke pendakian pagi itu, Turus sedikit kewalahan dalam naik. Loren yang beberapa kali menunggu, akhirnya tidak bisa menunggu lagi, dan meninggalkan kami karena mesti mengejar Brice, dkk. Main job mereka berdua, Romi dan Loren, memang adalah jadi guide buat para tamu private. Jadi, mereka percaya kami mampu ditinggal sendiri karena basic kami yang merupakan pencinta alam, dan sudah memiliki experience naik gunung dan panjat tebing. Sewaktu naik, aku awalnya berada di belakang, namun karena merasa terlalu lama, akhirnya mendahului Turus. Tujuannya agar aku saja yang mencari jalur naik. Karena sebelumnya Loren-lah yang memandu.

DSCF0162

            Pagi mulai menjelang, dan aku yakin sudah tiba di Teras 1. Jarak kami dengan Loren sudah cukup jauh. Setelah mengambil beberapa foto, aku melanjutkan pendakian. Seluruh pendakian tersebut menggunakan tali untuk tiba di Puncak. Beberapa kali aku menunggu Turus, dan kemudian akhirnya kami tiba di Teras Besar. Disebut Teras Besar, karena disini area terbukanya cukup luas walaupun miring. Aku sempat meninggalkan barang-barang seperti jaket dan raincoat karena merasa terlalu berat untuk dibawa melanjutkan pendakian. Aku masukkan di plastik warna merah agar mudah dicari kembali nantinya dan meletakkannya di cerukan batu. Kemudian mulai memakan roti dan menenggak air. Turus pun tiba juga di Teras Besar.

DSCF0157

DSCF0160

DSCF0155

DSCF0158

            Selanjutnya setelah Teras Besar, membentang tebing vertikal yang kemiringannya 90 derajat. Ketinggiannya cukup lumayan juga. Aku tidak tahu pasti. Aku pun mulai memanjat lagi. Dan ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan karena ada beberapa cerukan batu yang bisa dijadikan pegangan. Bahkan aku sempat merekamnya dengan Gopro yang aku bawa. Sesampai di Summit Ridge, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, yang artinya sudah hampir empat jam dari tenda. Dikejauhan aku mendengar suara Brice, dkk. Wah, mereka ternyata sudah turun. Aku memanggil-manggil Turus agar bergegas. Sembari menyemangati Turus, aku menanti Romi dan lainnya tiba di Summit Ridge. Dan setengah jam kemudian benar saja, Romi disusul empat orang lainnya tiba. Begitu melihat aku, Romi berkata agar aku bergegas sebelum cuaca semakin memburuk. Aku pun berkata aku sedang menunggu Turus. Kemudian aku bertanya-tanya, apa yang harus aku perhatikan sewaktu turun nantinya. Dan Romi mengatakan bahwa cukup pake figure of eight atau karabiner untuk alat safety ketika turun nanti.

            Brice, dkk menyemangatiku ketika melihatku. Karena jalur di tebing vertikal hanya satu, aku tahu mereka akan menunggu Turus dulu untuk naik. Aku segera berjalan kembali karena Romi mengatakan di Tyrolean, Loren sudah menungguku. Tidak jauh untuk sampai Tyrolean, hanya lima belas menit saja sepertinya. Disitu, Loren mengajariku cara menyeberang Tyrolean. Aku memasang carabiner di kedua sisi jembatan. Oh ya, jembatan tyrolean pertama ini merupakan jembatan yang dipersembahkan tim Trans TV setahun lalu. Terbuat dari satu tambang baja sebagai pijakan, dan dua tambang di sisinya. Sebelumnya untuk menyeberang tyrolean tersebut mesti memakaia Pule atau karabiner dan menyeberang memakai kekuatan lengan. Jembatan tersebut memudahkan pendaki berikutnya untuk menyeberangi tyrolean yang dibawahnya terbentang jurang yang sangat dalam. Kalau menyeberang sambil melihat ke bawah, seram loh. Dari titik pendakian tebing hingga ke tyrolean yang diuji adalah fisik, nah kalau di tyrolean yang diuji adalah mental.

            Setelah sukses menyeberang, aku berkata pada Loren, “Bg, Turus sepertinya agak kesusahan, coba abang tanyakan dulu, apakah dia masih bisa terus. Kalau tidak bisa, tolong abang temanin untuk pulang. Tapi kalau dia bisa, aku temanin dia ke atas.” Loren mengiyakan. Lima belas menit kemudian Turus pun muncul dan mulai menyeberang. Dan ketika Loren bertanya pada Turus, ternyata Turus masih memiliki tekad untuk sampai ke puncak.

DSCF0165

            Loren pun meninggalkan kami, setelah sebelumnya menjelaskan jalur ke atas yang masih harus melalui dua buah tyrolean yang walaupun tidak terlalu panjang, namun berbahaya apabila tidak hati-hati. Loren tidak mungkin mengantar kami, karena dia juga mesti mengejar Brice, dkk. Yasudah, dengan penuh semangat yang sempat hampir putus, kami pun melanjutkan perjalanan. Dan benar saja, ada dua buah tyrolean yang patahan tebingnya cukup berjauhan, dan tentunya tidak ada jembatan dari tambang besi lagi. Yang ada hanya beberapa tali tambang saja, dan itupun kondisinya tidak terlalu bagus. Aku menyangkutkan karabiner di semua tali yang ada, dan mulai menyeberang dengan melompati tebing. It took so much effot to do that. Dan lebih buruk buat Turus karena dengan kondisi fisiknya, agak susah untuk menggapai tebing berikutnya. Setelah usaha yang berat, Turus bahkan sempat jatuh ketika turun dari tebing, walaupun akhirnya bisa sampai juga di tebing seberang.

DSCF0179

            Setelah berjalan, memanjat, jumaring, dan memakai karabiner untuk safety sesering yang tak kami bayangkan, akhirnya puncak terlihat. Ada tiga puncak gunung yang mesti dilewati dari Summit ridge sebelum tiba di puncak tertinggi. Aku yang awalnya semangat untuk segera ke puncak, demi melihat Turus yang masih memanjat di bawah sana, akhirnya menundanya. Dan bertekad untuk menuju puncak bersama-sama sebagai sebuah Tim. Dan setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Turus tiba di tempatku menunggu. Dan kemudian kami memanjat lagi, dan akhirnya, Puncak Carstensz Pyramid terpampang di depan mata, ditandai adanya lempengan besi penanda puncak yang sering kami lihat di video-video. Alhamdulilah, kami berhasil menggapai puncak tertinggi di Indonesia, sekaligus puncak ketujuh dari seven summit Indonesia yang kami lakukan. Kami membawa nama STAPALA dan kampus PKN STAN ke puncak-puncak tersebut. Dan kami berhasil.

DSCF0170

DSCF0173

            Kami tiba di puncak setelah mendaki sekitar enam jam. Hmm, walaupun lama, kami berdua berhasil sampai di puncak. Dan, ketika di puncak, kami hanya sebentar saja, mengingat cuaca yang semakin gelap, bahkan hujan es sudah mulai turun satu-satu. Kami tidak berfoto banyak, dan mulai bergegas turun. Sejujurnya aku tidak bisa membayangkan bagaimana cara turun dari tebing ini. Mengingat ketika naik, banyak jalur yang vertikal. Kalau naik bisa memakai jumar sebagai pengaman, namun kalau turun tentu saja lebih berat.

            Aku memimpin jalan duluan, mencoba memakai segala cara. Pertama aku mencoba turun menyusuri jalur dengan figure of eight, yang ternyata sangat sulit dilakukan mengingat banyak tali yang terbentang dengan tegang. Lalu mencoba jumar, yang terkadang sangat tidak safe kalau menyusuri jalur yang tidak terlalu vertikal. Akhirnya sepanjang summit ridge aku kebanyakan memakai karabiner saja. Dan tantangan bagi kami ketika turun, paling utama ketika menyeberang tyrolean pendek lagi. Karena ketika turun bisa dengan melompat, kalau naik, mesti mencapai tebing sisi seberang. Akhirnya aku memakai jumar untuk menyeberang dua tyrolean pendek tersebut. Dan Turus walaupun kesulitan, namun bisa menyeberang juga. Aku tidak bisa membayangkan kalau salah satu dari kami jatuh ke jurang yang membentang di kedua sisi tebing, tentunya yang pulang hanya nama saja rumah. Waktu itu aku terus berpikir positif, dan membuang jauh-jauh kemungkinan buruk tersebut.

            Akhirnya, tiba juga di tyrolean pertama. Aku melewatinya dengan perlahan, kemudian menyemangati Turus untuk melewatinya juga. Sesampai di ujung summit ridge, aku turun duluan. Dari sini, aku descending dengan jumar dan karabiner sebagai pengaman. Dan ternyata memakai jumar terbukti efektif, dengan jumar sebagai pengaman dan stopper, aku turun perlahan menyusuri tebing vertikal tersebut. Memanjat turun walaupun tidak secapek ketika naik, namun, ternyata tubuhku mulai terasa lelah. Beberapa kali ketika memindahkan jumar ke bawah, jempol kananku mulai slip. Lapar, lelah, bercampur jadi satu.

            Tiba di teras besar, aku melihat Turus masih di atas summit ridge. Aku pun khawatir kalau-kalau Turus terkena hipotermia atau kelelahan. Aku memanggil-manggil dan berteriak dengan marah agar dia bergegas turun. Kemudian aku mencari barang yang aku tinggalkan. Sempat terpikir mengganti jaket yang basah dengan jaket cadangan. Namun, entah kenapa rasanya malas untuk melakukannya karena hal itu mesti melepas hardness dan lainnya. Aku turun perlahan dan setiap waktu memanggil-manggil Turus. Ketika ada suara sahutan, aku cukup yakin dia perlahan turun juga. Aku pun turun ke Teras 3.

            Sesampai di Teras 3, cuaca perlahan cerah. Aku berhenti di sana dan beristirahat. Roti yang aku bawa sudah hancur di saku jaket, mungkin terhimpit ketika memanjat, tidak bisa dimakan lagi. Aku hanya memakan cokelat saja. Agak lama juga menunggu Turus, sehingga aku sempat memejamkan mata. Kondisi tubuhku semakin drop karena berhenti dengan waktu yang lama. Suhu tubuh pun perlahan drop. Aku kedinginan akibat jaket yang aku pakai memang sudah basah, ditambah suhu udara yang sangat dingin. Akhirnya Turus tiba di Teras 3. Lega rasanya karena ternyata Turus aku lihat masih cukup fit untuk melanjutkan perjalanan.

            Dari Teras 3, aku menyuruh Turus untuk turun duluan, karena khawatir dia tertinggal lagi kalau aku yang turun duluan. Ditambah dengan hal bahwa tubuhku sudah kelelahan, sehingga aku sangat ingin duduk saja dan memejamkan mata. Begitu seterusnya, Turus memimpin perjalanan turun dari Teras 3, dan aku mengikuti sarannya. Dari Teras 1, tangan kananku sudah sangat lelah, sehingga tidak bisa menggenggam jumar lagi dengan baik. Ketika memindahkan jumar, jempol kananku susah digerakkan untuk melonggarkan jumar dari tali tambangnya. Aku memutuskan hanya memakai karabiner saja akhirnya. Dan rupanya usaha tersebut cukup berhasil. Turun dengan lebih cepat, namun stopper hanyalah tangan saja, karena karabiner tidak bisa mencengkeram tali. Sangat berbahaya, namun buatku sangat berguna waktu itu. Terkadang sewaktu turun dari tebing vertikalnya, aku meluncur dengan sangat cepat sehingga terjatuh. Namun, untungnya tidak ada cedera serius.

            Sekitar pukul empat sore, kami tiba di punggungan terakhir. Camp sudah terlihat di kejauhan. Dan kami melihat Loren sudah melambai-lambai. Cuaca cerah sekali. Matahari bersinar. Aku yang sudah sangat kelelahan tiba-tiba mendapat energi baru. Apalagi melihat Brice berjalan ke arah tebing tempat kami berada. Setelah turun dari jalur terakhir. Kami berjalan ke arah Brice. Dan Brice menyambut kami dengan senyum, “Congratulation, you two are great!”.

            Tiba di Camp, kami disambut semua anggota tim dengan senang. Mereka ternyata sangat khawatir dengan kami. Mengingat kami di atas sana selama dua belas jam, sementara mereka ternyata hanya membutuhkan waktu sekitar lima jam saja untuk naik turun. Luar biasa. Kami disuguhi teh dan makanan hangat oleh Loren. Bahagi sekali rasanya bisa selamat tiba kembali di tenda. Aku sangat bersyukur. Sepanjang perjalanan aku tidak henti-hentinya mengingat Tuhan. Karena aku merasa jarak dengan kematian sangat dekat sekali. Dan ternyata Tuhan masih memberikanku umur yang panjang untuk tiba kembali di tenda. Alhamdulilah..

            Malam itu aku bisa tidur, walaupun hanya sebentar, karena sakit kepala kembali menderaku. Syukurnya sewaktu di atas sana ketika itu sakit kepalanya tidak terlalu terasa. Sial, begadang lagi deh malam itu. Padahal tubuh sangat lelah sekali.

5-7 Maret 2016….

            Praktis sisa hari kami di lembah kuning hanya diisi dengan kegiatan malas-malasan. Makan, minum, bekerja sebagai guide, jalan-jalan di sekitar camp, berfoto, dan tidur. Tentu saja toiletting adalah hal yang sering dilakukan. Dan membersihkan sampah masih rutin kami lakukan.

            Harusnya kami turun di tanggal 6, namun ternyata helicopter belum siap berangkat, dan kepulangan pun ditunda sehari berikutnya. Aku sudah sangat-sangat bosan di atas, karena kedinginan dan sakit kepala. Ujung-ujung jari tangan bahkan mati rasa, dan itu terus kurasakan sampai aku menulis tulisan ini, walaupun sekarang sudah agak berkurang.

            Tanggal 7 kami pun bersiap pulang, helicopter katanya sudah siap berangkat dari Timika. Kami direncanakan turun lewat Timika, jadi tidak ke Nabire lagi. Namun hingga pukul delapan pagi, helicopter yang ditunggu tidak muncul-muncul. Sempat timbul kekhawatiran kepulangan ditunda lagi. Sementara logistik sudah habis, dan hanya tersisa mie saja. Bahan bakar juga sudah hampir habis. Cuaca juga perlahan-lahan gelap.

DSCF0182

            Akhirnya sekitar pukul setengah sembilan, helicopter muncul juga. Ternyata heli tersebut membawa tamu berikutnya yang akan mendaki Carstensz. Mereka rupanya dari Adventure Consultants, aku langsung teringat kembali dengan Rob Hall. Kami berangkat dengan heli sebanyak dua gelombang kembali. Dan sekitar setengah jam perjalanan, sudah tiba di Timika. Alhamdulilah, merasakan panas yang menyengat kembali, merasakan ketinggian dibawah 50 mdpl lagi. Berakhir sudah perjalanan kami tersebut. Terbersit rasa haru dan penuh kerinduan kembali suatu saat nanti ke Carstensz Pyramid. Namun untuk saat sekarang, tidak dulu deh.

Ending….

            Setelah semalam di Timika, kami pun berangkat pulang ke Jakarta. Begitulah akhir perjalanan itu, sekaligus akhir dari Ekspedisi Saptanusa yang kami emban. Misi yang kami usung tercapai semua. Kami berhasil menggapai tujuh puncak tertinggi di Indonesia. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa menurutku. Apalagi setahun yang lalu, ini rasanya seperti mimpi buatku yang sangat sulit untuk terwujud. Ternyata Tuhan memberikan jalan buatku untuk meraih mimpiku ini.

            Pelajaran yang aku dapatkan adalah, jangan pernah berhenti bermimpi. Berusahalah untuk menggapai mimpi tersebut, dan biarkan Tuhan yang memutuskan apakah kita layak untuk mencapainya. Di usiaku yang ke-26, aku berhasil menggapai puncak tertinggi di Indonesia. Ini adalah sebuah kisah yang tidak akan lekang oleh waktu. Aku akan dengan bangga bercerita tentang kisah ini kepada anak-anakku, atau kepada siapapun yang ingin mendengarnya kelak. Teruntuk buat STAPALA, aku sangat bangga telah membawa namamu ke puncak-puncak tertinggi di Indonesia, hal ini semoga menjadi langkah awal untuk meneruskan mimpi kita untuk berdiri dan mengibarkan bendera STAPALA di puncak-puncak tertinggi di dunia. Ini hanyalah awal.

            Oh ya, aku berjanji untuk bercerita tentang quote dari Brice yah. Ini beberapa di antaranya:

            Safety is everything, you can search for money, but not life”. Quote ini terucap ketika kami berbincang mengenai Rob Hall, sang pendaki kenamaan yang meninggal dalam tragedi Everest tahun 1996. Rob Hall dan Brice merupakan sahabat dekat, dan mereka sama-sama berasal dari New Zealand. Aku sempat bertanya pada Brice, “Jika kamu berada di posisi Rob, same situation, same time, apa yang akan kamu lakukan?”. Brice dengan yakin menjawab bahwa safety adalah segalanya, Dia akan turun dan tidak akan memaksakan diri membawa tamu untuk naik ke puncak karena sudah ada kesepakatan waktu muncaknya. Bahkan akan memaksa tamu untuk turun. Karena uang masih bisa dicari dikemudian hari dan bisa mendaki lagi untuk menggapainya, namun tidak dengan nyawa.
            Quote berikutnya yang aku ingat adalah ketika dia berujar, Every moment is important, there is no special one, so enjoy your every moment”. Ini dia ucapkan ketika aku bertanya kepadanya, momen mana yang paling special dalam perjalanannya yang sudah banyak. Brice ternyata tidak memiliki satu momen paling special, namun dia berujar, setiap momen yang dimilikinya adalah semuanya special. Jadi Brice berujar, nikmati semua waktu yang kamu miliki, setiap momen itu berharga.
            Terakhir, Learn with experience, the more you have, the more you get the confidence and skill. Ini Brice ucapkan di akhir perjalanan kami, ketika akan berpisah di hotel di Timika. Brice berpesan kepada kami, bahwa belajar itu tidak ada habisnya. Dengan semakin banyak mendaki, semakin banyak hal yang kita dapatkan, dan semakin timbul rasa percaya diri terhadap diri bahwa diri kita mampu untuk melewati rintangan yang timbul. Hal ini sangat memicu diriku untuk tidak berhenti mendaki gunung dan melakukan kegiatan outdoor. Semoga aku setidaknya bisa menggapai Everest, puncak tertinggi di dunia, suatu saat nanti, aamiin...

DSCF0202

DSCF0203

Bintaro, 7 Agustus 2016

-Patuan Handaka Pulungan-

 

Catatan Perjalanan: GUNUNG BINAIYA

Halooo guys! Selamat datang kembali di blog ini. Terima kasih atas kerelaan waktu untuk  membacanya. Untuk yang baru pertama mengunjunginya, salam kenal yaah. Di edisi ini, Aku akan menulis lagi tentang perjalanan kami sewaktu menjalani Ekspedisi Saptanusa, Ekspedisi Seven Summits Indonesia. Kali ini adalah tentang perjalanan di Ambon. Yap, ini adalah tentang Gunung Binaiya, gunung tertinggi di Kepulauan Ambon. And here we are….

2

My Journey!

Screen Shot 2016-01-31 at 2.34.35 PMScreen Shot 2016-01-31 at 2.28.29 PM

Pendakian Gunung Binaiya ini merupakan pendakian gunung keempat yang kami jalanin dalam Ekspedisi 7 summits Indonesia. Selepas dari tanah Celebes, Tim Ekspedisi Saptanusa bertolak ke Ambon. Tiba di tanah Ambon di pagi hari, di bandara kami disambut oleh semua anggota korwil STAPALA yang berdomisili disana (penempatan kerja). Selanjutnya kami diantar ke Pelabuhan Ambon untuk kemudian menyeberang ke Masohi di Pulau Seram. Perjalanan menyeberang dengan kapal laut tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga jam lebih.

3

19

Setiba di Kota Masohi, Pulau Seram, kami bergegas ke kantor Balai Taman Nasional Manusela, mengurus perizinan. Sempat ada hambatan ketika surat keterangan sehat diminta oleh Balai, dimana kami tidak membawa hard filenya. Akhirnya setelah berbagai upaya, perizinan pun keluar juga. Di kesempatan itu, kami juga ngobrol langsung dengan Kepala Balai, Beliau mengingatkan kami akan pentingnya air dalam pendakian. Baiklah, ini menjadi pengingat. Dan ternyata hal tersebut kejadian juga dalam pendakian ini. Nanti aku ceritakan.

Siang itu kami menuju ke Desa Piliana, desa terakhir sebelum memulai pendakian. Perjalanan via darat ini memakan waktu sekitar empat jam. Dalam perjalanan, mobil yang kami tumpangi sempat melintasi sungai yang airnya cukup dangkal namun lebar. Namun, menurut Bapak supirnya, sungai ini bisa dilewati hanya di kemarau, ketika debit air mengecil. Aih, aku membayangkan seandainya di musim penghujan, bisa-bisa batal juga kami ke Gunung Binaiya.

Gunung Binaia atau Binaiya atau Binaija adalah sebuah gunung yang terletak di Pulau Seram, Maluku di negara Indonesia. Gunung Binaiya merupakan gunung  tertinggi di Provinsi Maluku dengan ketinggian 3.055 meter di atas permukaan laut (mdpl) masuk ke dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Gunung ini membentang di Pulau Seram dan masuk ke  dalam lingkup Taman Nasional Manusela yang mempunyai luas 189.000 hektar, atau sekitar 20% wilayah Pulau Seram. Gunung Binaiya juga dikenal dengan nama 'Mutiara Nusa Ina'. Gunung Binaiya mempunyai Hutan Montane dan Hutan Ericaceous. (sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Binaia).

Tiba di ujung jalan yang bisa dilewati mobil, karena jalannya putus, ternyata Desa Piliana nya belum lah sampai, kami masih harus berjalan kaki sekitar satu jam. Lumayan juga. Sepertinya hari itu hari yang baik, di jalanan putus itu kami bertemu langsung dengan Bapa Raja, seseorang yang secara adat dan administratif memimpin Desa Piliana. Aku bersyukur karena perjalanan kami dimudahkan. Awalnya sempat merasa kesulitan bagaimana nantinya mencari rumah Bapa Raja, di daerah yang tidak kami kenal sama sekali. Bahkan di catper-catper yang ada juga sangat sedikit sekali informasi tentang ini. Dalam perbincangan kami dengan Beliau, kami menjelaskan maksud kami untuk menumpang di rumahnya malam itu sekaligus niatan mendaki ke Gunung Binaiya. Perkenalan tersebut awal yang baik menurutku.

Bapa Raja ini menurutku orang yang kepribadiannya menyenangkan. Beliau sangat informatif, dan tidak berbelit-belit. Bahasa Indonesianya juga sangat baik. Ternyata Beliau juga baru pulang dari berburu, ketika bertemu dengan kami. Usianya sudah cukup tua, pembawaannya menenangkan. Berwibawa sekali.

Memasuki kawasan desa, orang-orang desa ramai memperhatikan kami. Duh, serasa jadi artis! Tiba di rumah Bapa Raja sekitar pukul 6 sore, langit masih terang. Beberapa pemuda desa datang menghampiri kami. Mereka menanyakan apakah kami mau naik Gunung Binaiya, sembari menawarkan jasa untuk menjadi guide. Di kesempatan itu, aku sekalian mencari informasi, bagaimana kondisi medan pendakiannya. Juga tentang waktu tempuh serta info-info lainnya.

Malam itu kami habiskan dengan packing dan istirahat. Listrik belum masuk ke desa tersebut, namun tonggak listrik sudah berdiri gagah dimana-mana. Menurut penuturan orang-orang desa yang berkumpul di teras rumah Bapa Raja, karena tertarik dengan kedatangan kami, tonggak listrik tersebut sudah berdiri sejak dua tahun yang lalu, namun sampai sekarang belum dialiri oleh listrik. Bapa Raja punya sebutan keren untuk tonggak-tonggak listrik tersebut, yaitu Bunga Desa, hahaha…ada-ada aja! Oh ya, pada malam itu kami beristirahat di rumah Bapa Raja. Walaupun sempat ditawarkan tidur di guest house yang khusus dibuat untuk tamu.

Oh ya, sekilas info. Di gunung Binaiya, terdapat dua jalur pendakian umum. Satu dari sisi Selatan, atau dari Desa Piliana, satunya lagi dari sisi Utara, dari desa Kanikeh. Pendakian dari  Utara lebih dahulu populer, sebelum dari Selatan dibuka. Di kemudian hari, para pendaki lebih memilih naik Binaiya dari jalur Selatan karena selain waktunya yang lebih singkat, juga jalurnya yang lebih jelas. Dan karena tim kami sudah melakukan riset terlebih dahulu, kami memutuskan waktu itu untuk naik dari jalur Selatan.

Terdapat 4 shelter yang dibangun oleh Pemerintah, melalui Balai Taman Nasional Manusela, bekerjasama dengan masyarakat sekitar kalau mendaki dari jalur Selatan. Shelter tersebut berupa bangunan semi permanen, terbuat dari kayu, memiliki atap. Letaknya berada di Yamitala, Aimoto, High Camp, dan terakhir Isilali. Tentunya kalau mau naik dari jalur Selatan, bila disesuaikan dengan timeline perjalanan, tentunya tidak perlu membuka tenda sama sekali karena bisa bermalam di tiap shelter.

Pagi harinya, sebelum berangkat, kami mampir ke rumah tetua adat. Tetua adat melakukan ritual adat yang dimaksud untuk memohonkan keselamatan atas perjalanan kami. Setelahnya kami pun mulai berangkat. Tim yang berangkat berjumlah tujuh orang, yaitu lima orang atlet didampingi dua warga desa, Bapak Aten dan Bapak Guru. Satu orang dari kami, Ebi namanya, yang bertindak sebagai tim darat, tinggal di rumah Bapa Raja. Satu pesan dari istri Bapa Raja yang aku ingat betul, bahwa air adalah sumber kehidupan. Selalu perhatikan kebutuhan air. Dan aku mengkorelasikan pesan ini dengan pesan dari Kepala Balai. Wah, ada dengan sumber air di Gunung Binaiya ini? Bukannya menurut catatan perjalanan yang aku baca dan penuturan Pak Aten, sumber air hampir terdapat di semua shelter di Binaiya?

Sekilas mengenai guide kami yang berjumlah dua orang. Pak Aten adalah warga Desa Piliana, beliau berumur sekitar 30 tahun. Malam sebelumnya beliau yang setia ikut mendengarkan cerita kami di teras rumah Bapa Raja bersama putrinya yang masih berumur 6 tahun, sebelum akhirnya menawarkan diri untuk menjadi salah satu guide kami. Yang satu lagi adalah kita sebut saja Bapak Guru. Karena namanya sendiri aku tidak tahu, beliau cukup dipanggil Bapak Guru aja katanya. Sudah memiliki kalau tidak salah empat orang anak. Padahal menurutku sih usianya masih muda, belum sampai 30 tahun.

Pak Aten orangnya humoris, dan penuh rasa ingin tahu. Sedangkan Bapak Guru, menurutku orang yang tenang dan penuh pertimbangan. Di sepanjang perjalanan nantinya, Pak Aten yang memimpin jalan, dan Bapak Guru yang menjadi Sweepernya. Dan, mereka berdua adalah para pria yang tangguh. Bisa memimpin perjalanan dan mengetahui ruas-ruas jalur pendakian yang kami lalui, hingga letak-letak mata air.

Perjalanan kami dimulai dengan nafas tersengal-sengal. Peluh mendera, cuaca hari itu panasnya bukan main. Trek pendakiannya dimulai dengan memasuki perkebunan warga, lalu menyusuri sungai kecil (yang membuat sepatu basah). Selanjutnya memasuki kawasan hutan yang ditandai dengan banyaknya pepohonan tumbang. Menurutku treknya lumayan tidak jelas sewaktu memasuki kawasan hutan. Bahkan pendamping kami juga sempat kesulitan menemukan jalannya. Jalan setapak terhapus dan terhalang oleh kayu-kayu besar yang melintang.

Ketika tengah hari tiba, kami sampai di sebuah sungai yang ukurannya kecil, namun deras. kami melepas lelah sejenak sembari mengisi perbekalan air. Pukul 14.00 kami telah tiba di Pos Aimoto. Disini kami memutuskan untuk makan siang. Terdapat aliran air yang cukup jernih di bawah pos ini. Namun menurut penuturan Pak Aten, aliran air ini harusnya lebih besar lagi. wow..berarti memang pengaruh musim kemarau ini sudah sedemikian rupa.

Awalnya kami bermaksud memaksakan perjalanan hari itu sampai di Shelter High Camp, namun menurut Bapak Aten sebaiknya menginap di Aimoto saja, karena menurut beliau jarak ke High Camp masih jauh, sehingga dikhawatirkan berjalan di kegelapan malam. Sebagai ketua tim, akhirnya aku memutuskan untuk bermalam di Shelter Aimoto, selain karena saran Bapak Aten, juga melihat kondisi fisik tim yang mulai kelelahan. Sebuah keputusan yang kelak aku syukuri.

18

Hari ketiga, paginya kami berangkat dari Pos Aimoto. Kami membawa dua jerigen air, dengan pertimbangan di atas sumber mata air kering. Dan benar saja, sepanjang perjalanan, baik di Pos High Camp, Isilali, dan Nasapeha, kami tidak menemukan air, sumber mata airnya kering semua. Pendakian di hari kedua ini benar-benar menguras stamina. Kami dihadapkan dengan beberapa puncak. Ketika berjalan, begitu melihat titik tertinggi di depan mata, kaki semangat melangkah. Namun ternyata masih ada puncak-puncak lainnya menanti. Benar-benar menguji mental. Sempat ingin berhenti di Shelter Isilali, namun mengingat rundown perjalanan, akhirnya kami meneruskan langkah. Menuju tempat tertinggi yang masih bisa didaki hari itu. Mendekatkan diri ke puncak impian.

16

17

15

14

Tiba di Nasapeha sekitar pukul 17.00, disini kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan mulai masak untuk makan malam. Waktu itu kami sudah menakar kira-kira air yang kami butuhkan dan kami pakai setiap makan. Terlihat di sekitar tempat kami mendirikan tenda ada genangan air yang mulai mengering. Padahal sewaktu melintasi Puncak Bintang, kami sempat diterpa hujan. Ternyata hanya hujan lokal sepertinya. Karena di Nasapeha terasa kering sekali.

Keesokan paginya, atau hari keempat berada di Pulau Seram, kami memulai perjalanan ke puncak. Jarak dari Nasapeha ke Puncak sekitar satu setengah jam. Bukan hanya jalurnya yang menanjak yang menjadi tantangan,melainkan ketersediaan air lah yang membuat perjalanan ke puncak pada pagi itu terasa berat. Apalagi ketika matahari mulai naik dan terik. Mataku sampai berkunang-kunang dan lemas, akibat dehidrasi. Tapi dibalik tantangan itu semua, sampai sekarang aku masih bersyukur, kami bisa tiba di puncak dengan selamat dan sehat, walaupun lemas.

Perjalanan ke puncak sungguh luar biasa indah. Kami menemukan banyak sekali pohon palem,  seperti yang biasa ada di padang pasir, dan juga rusa! yaa, banyak sekali rusa di kawasan itu. Pemandangannya serasa berada di luar negeri. Apalagi ketika melihat Gunung Bintang di belakang, rasanya tidak percaya kami sebelumnya naik ke puncak Bintang dulu sebelum turun lagi ke Nasapeha kemarin. Di puncak kami memuaskan diri mengambil dokumentasi dan menikmati keindahan alamnya. Ada sekitar satu jam kami di atas puncak Binaiya sebelum mulai turun lagi. Nun tak jauh di depan mata, ada sebuah puncak gunung lagi, yang menurut Pak Aten adalah puncak paling tinggi dari pegunungan tersebut. Namun tidak diperbolehkan untuk didaki.

9

12

10

6

TIba kembali di Nasapeha, masalah air kembali mendera kami. Waktu itu masak dengan sekadarnya, memakai air sehematnya. Waktu itu kami memikirkan alokasi air untuk perjalanan turun hingga tiba di Aimoto, mengingat hanya di Aimoto lah yang masih terdapat sumber air. Dan, ketika berbagi jatah air untuk perjalanan turun, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, alhamdulilaah….masalah air seketika teratasi. Perjalanan kami rasanya dimudahkan oleh Tuhan. Di perjalanan turun aku dan rekan satu tim, Cupang, sesekali berhenti di tengah jalan sambil minum air langsung yang tertampung di daun-daun tumbuhan perdu. Berkali-kali juga berhenti sebentar hanya untuk merasai air hujan. Perjalanan turun ini sangat aku nikmati, bahkan kami bertemu dengan seekor rusa jantan yang berdiri dengan anggun di depanku, berjarak sekitar 3 meter.

Dalam perjalanan turun kami terbagi menjadi dua tim. Aku, Cupang, dan Bapak Aten memimpin jalan dengan berjalan duluan. Namun, beberapa kali kami ketinggalan oleh langkah kaki Pak Aten yang sangat cepat. Kayaknya beliau juga tidak sabar ingin segera pulang. Di rombongan belakang ada Turus, Jebul, dan Saha ditemani oleh Bapak Guru.

Ada satu momen yang sempat membuat perjalanan terhenti, sewaktu kami tiba di Isilali. Bapak Guru memanggil-manggil, ternyata tim belakang terpisah. Pak Aten segera menyusul sumber suara. Aku dan Cupang berusaha mengontak tim dengan HT yang kami bawa. Sempat timbul rasa waswas, mengingat jalur pendakian yang memang berbahaya, dimana hanya terdapat jalan setapak selebar 30 senti, disebelah kiri jurang, dan disebelah kanan adalah tebing.

Aku memanggil-manggil via HT, namun tidak ada jawaban. Dan kemudian berusaha ikut menyusul Pak Aten masuk ke dalam hutan di belakang Shelter Isilali. Sumber suaranya memang berasal dari sana. Setelah berteriak memanggil cukup lama, akhirnya ada balasan suara. Ternyata Pak Aten sudah ketemu dengan mereka. Dan ternyata, Saha, yang memegang GPS, keliru membacanya, jadi mengambil jalan lurus map, yang ternyata keluar dari jalur. Mereka masuk ke hutan, dan memang tembus ke Shelter Isilali, namun tentunya dengan merimba, tidak ada jalan setapak. Huft, apa yang ditakutkan tidak terjadi.

Tiba kembali di Shelter Aimoto sekitar pukul enam sore, kami minum dengan rakusnya di sungai kecil tersebut. Tim di belakang baru tiba pukul tujuh malam, dimana hari sudah gelap gulita. Aku pun lega ketika melihat mereka, akhirnya tim berkumpul kembali dan tidak ada kekurangan apapun. Pak Aten malam itu sempat bercerita misteri. Ternyata….dikaburkan aja deh, biar tetap misteri, hehe… Malam itu kami berpuas-puas memakai air, setelah hampir 30 jam terakhir berhemat air. Ada yang dijadiin minuman hangat, minuman jahe, susu, buat sop, dan lain-lain.

Hari kelima di Pulau Seram, atau hari keempat di Gunung Binaiya, pagi harinya hujan turun dengan derasnya, seakan menghapus kekeringan yang sebelumnya mendera kawasan pegunungan Binaiya. Awalnya kami berencana berangkat pagi hari, namun baru pukul sepuluh pagi kami mulai berjalan. Sekitar pukul 14.00 kami pun tiba kembali dengan selamat di Desa Piliana. Dan lagi-lagi ada momen dimana aku dan Cupang ketinggalan Pak Aten. Ketika menyusuri sungai kecil dalam perjalanan turun, kami kehilangan jejak Pak Aten. Dari GPS yang aku bawa, jalurnya ada, namun tidak terlihat jalur setapak keluar sungainya. Dan lagi-lagi, Pak Aten menyusul kami ke belakang, mungkin karena beliau tidak melihat kami lagi di belakangnya.

Di rumah Bapa Raja kami semua sudah disambut dengan hidangan Papeda dengan ayam goreng dan indomie rebus, waaaah, nikmat sekali. Selama empat hari terakhir aku sudah bosan dengan makanan-makanan instan yang kami bawa. Sore itu setelah bersih-bersih, kami berpesta. Alhamdulilah, perjalanan ini berakhir dengan baik. Dan kami pun siap melanjutkan perjalanan ke puncak berikutnya, yaitu di tanah Lombok. See you!

4

TIMELINE

GUNUNG BINAIYA – AMBON

07092015

06.50 Tiba di Ambon

09.15 Pelabuhan Ambon

11.25 Tiba di Pulau Seram

14.10 Perjalanan ke Desa Piliana

17.55 Tiba di jalan putus sebelum Piliana

18.30 Tiba di Desa Piliana

08092015

08.00 Persiapan

09.00 Start pendakian

10.40 Pos Yahe 578 mdpl

11.20 Shelter Yamitala

12.38 Pos Pelihata 1065 mdpl

13.35 Pos Lukuamano

14.04 Shelter Aimoto 1278 mdpl

09092015

08.56 Start pendakian

09.23 Pos Aiulasanai 1443 mdpl

10.36 Puncak Teleuna 1804 mdpl

11.40 Shelter High Camp 2008 mdpl

13.13 Puncak Manukupa 2313 mdpl

13.37 Shelter Isilali 2185 mdpl

16.25 Puncak Bintang 2673 mdpl

17.01 Shelter Nasapeha 2579 mdpl

10092015

07.10 Start pendakian

08.40 Puncak Binaiya 3027 mdpl

10.50 Nasapeha

13.00 Start turun

18.06 Tiba kembali di Shelter Aimoto

11092015

10.00 Start turun

14.07 Desa Piliana

7

Bintaro, 31 Januari 2016

-Patuan Handaka Pulungan-

Catatan Perjalanan : BUKIT RAYA

 

         Hai, guys! Lama tak bersua.. Ini adalah Catatan Perjalanan menuju Bukit Raya, puncak tertinggi di Pulau Kalimantan, tentunya wilayah bagian Indonesia. Kalau Pulau Kalimantan secara keseluruhan, puncak tertingginya adalah Gunung Kinabalu, yang berada di wilayah Malaysia. Dalam perjalanan ini, saya lagi dalam Ekspedisi Seven Summits Indonesia, yang kami namakan Ekspedisi Saptanusa, yang dilakukan oleh STAPALA dari STAN. And, Here We are!

My Journey!111

(taken from www.the7summitsindonesia.com)

         Selepas dari Gunung Kerinci, Tim Ekspedisi Saptanusa menuju pulau Kalimantan. Bukit Raya yang selama ini hanya ada dalam bayangan saya untuk didaki, kini akan terwujud. Pendakian Bukit Raya memakan waktu yang cukup lama, dan biaya yang cukup mahal (banget menurut saya), membuat saya berpikir realistis kala itu. Namun, Tuhan memiliki takdir yang berbeda, saya bisa kesana!

         Pendakian dimulai dengan tiba di Pontianak terlebih dahulu, disambut oleh senior-senior STAPALA yang berdomisi di kota itu, mulai dari bg Padel, bg Ciu, bg Eman, hingga bg. Sambutan yang begitu hangat membuat saya terharu, ternyata ikatan persaudaraan di STAPALA begitu kuatnya. Beliau-beliau merelakan waktunya untuk menyambut tim di bandara, mengajak makan besar, dan mengantarkan kami ke salah satu hotel terbaik yang ada di kota Pontianak.

611

         Keesokan paginya, kita berangkat menuju bandara lagi, untuk terbang ke Sintang, kota terakhir sebelum menuju titik pendakian Bukit Raya. Sempat delay selama 4 jam karena cuaca, akhirnya tim tiba di Sintang. Di bandara sudah disambut oleh bg Yusman, salah seorang senior STAPALA juga yang bekerja di sana. Kami diajak menuju Kantor Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) untuk mengurus perizinan. Sempat memakan waktu yang lama, diantaranya prosedur yang teliti hingga wawancara dengan kepala kantornya (beliau senang bercerita), dan akhirnya izin kami dapatkan juga. Sore itu kami akhiri dengan makan bersama di sebuah warung di sudut kota Sintang.

1089

         Hari ketiga di Pulau Kalimantan, rencananya yang semula akan langsung berangkat pagi-pagi, ditunda karena cuaca tiba-tiba berubah. Ya, ada hujan di pagi harinya, yang merupakan kejadian langka karena kemarau yang sudah cukup panjang terjadi. Karena hujan yang menurut saya tidak terlalu lama itu, perjalanan kami menuju Desa Rantau Malam yang merupakan desa terakhir sebelum memasuki kawasan hutan Bukit Raya batal. Dikarenakan via jalur darat yang tidak bisa lewat akibat berlumpur. Kalau mencoba lewat jalur darat, debit air yang kurang dalam mengakibatkan sepit, sebuah kendaraan perahu melintasi sungai besar yang bernama Sungai Melawi, tidak bisa lewat.

         Siangnya kami menuju TNBBBR, berdiskusi dengan para pegawai disana. Saya merasa disambut dengan baik sekali, dan banyak terbantu. Dan disitu bertemu juga dengan Pak Pius, yang merupakan Guide yang ditunjuk oleh TNBBBR untuk mendampingi kami selama ekspedisi di Bukit Raya. Beliau ternyata orang yang sangat baik dan penuh dengan pengalaman. Dengan beliau jugalah saya berdiskusi mengenai menyingkat waktu pendakian dan bagaimana transportasi yang tepat untuk menuju Resort Rantau Malam, yang merupakan titik awal pendakian Bukit Raya. Hingga kami meninggalkan Kantor Balai, transportasi belum jelas, dan akhirnya bisa kami fix kan hingga menjelang tengah malam, akibat minimnya akses menuju Resort tersebut.

         Ada satu hal yang saya ingat betul ketika menyampaikan rencana untuk menyingkat waktu pendakian yang semula 5 hari 4 malam di Bukit Raya, menjadi 4 hari 3 malam. Komentar Pak Pius waktu itu cuma satu, “Kita coba saja ya, belum ada selama ini yang melakukan perjalanan sesingkat itu!”. Hahaa…..saya sebenarnya keder juga. Namun mengingat itu harus dilakukan atau tidak jadi berangkat sama sekali, membuat saya yang selaku Ketua Perjalanan mengambil keputusan tersebut.

         Keesokan harinya barulah kami bisa berangkat. Melalui jalur darat selama 2 jam menuju Nanga Pinoh, dilanjutkan via jalur air dengan sepit selama 5 jam menuju Serawai, dan 3 jam lagi dengan sepit juga menuju Desa Tontang. Kemudian disambung dengan perjalanan darat, kali ini dengan sepeda motor yang didesain sedemikian rupa untuk melewati lumpur dan jalanan yang tidak rata selama 4 jam. Total perjalanan kami dari Sintang menuju ke Rantau Malam sekitar 14 jam, subhanallah…malam itu kami bermalam di resort milik TNBBBR.

         Sebelumnya di Tontang, terdapat Pos Perusahaan kayu terbesar di daerah itu. Rencana awalnya kami berniat menumpang mobil perusahaan menuju resort, namun ternyata kenyataan berbeda. Mobil masih terjebak di tengah hutan, dan karena kesorean, pegawai tidak ada yang bersedia mengantar kami. Walaupun pihak perusahaan menjanjikan akan mengantarkan kami keesokan harinya dan menawarkan kamar untuk beristirahat malam itu, kami bersikukuh untuk melanjutkan perjalanan sore tersebut, mengingat waktu kami yang semakin sempit.

         Oh ya, kenapa saya sangat concern terhadap waktu? Karena sebenarnya ekspedisi ini dirancang dengan waktu sangat singkat, sehingga keadaan-keadaan luar biasa yang diluar perkiraan tidak diperhitungkan ketika menyusun rundown ekspedisi. Seperti hujan yang tiba-tiba turun waktu pagi di Sintang, yang mengakibatkan kami tertahan lagi sehari di Sintang, hingga mobil perusahaan yang tertahan di tengah hutan. Pertimbangan saya waktu itu adalah, kalau ini tertunda sehari saja, akan mengakibatkan tiket perjalanan kami ke daerah-daerah selanjutnya (yang telah dipesan terlebih dahulu sebelum ekspedisi berjalan) akan hangus. Pilihan saya waktu itu adalah apakah menghentikan ekspedisi di Bukit Raya, atau menanggung beban tiket ke daerah selanjutnya hangus. Syukurlah waktu itu, penyingkatan waktu yang kami lakukan membuahkan hasil. Ceritanya akan saya lanjutkan di bawah.

42131

         Hari kelima di Pulau Kalimantan, pagi harinya, kami melaksanakan upacara adat sebelum memulai pendakian. Upacara yang merupakan tradisi adat warga Rantau Malam sebelum memasuki kawasan hutan Bukit Raya. Pukul 10 siang, kami pun mulai berjalan. Memasuki kawasan hutan yang menurut saya pepohonannya tidak terlalu rapat, kami disambut oleh suara monyet bersahut-sahutan seakan menyambut kedatangan kami. Tiba di Pos Rabang sekitar pukul 17.00, matahari terbenam cukup cepat di tanah ini, pukul 17.30 sudah gelap saja. Kami mendirikan tenda. Oh ya, pada pendakian ini kami terdiri dari 5 orang atlet, yaitu aku sendiri, Patuan Pasid, kemudian Mei Turus, Dimas Cupang, Fiki Jebul, dan Sirojul Saha. Kemudian kami ditemani oleh guide dari TNBBBR yaitu Pak Pius, serta dua orang warga Rantau Malam, Pak Edung dan Bang Ibor.

3

12

         Sekilas profil mengenai Guide kami yang merupakan penduduk asli Resort Rantau Malam. Pak Edung berusia sekitar 35 tahun, dan Bang Ibor berusia sekitar 27 tahun. Mereka setiap harinya bekerja di ladang, dan terkadang Pak Edung nyambi ngojek. Pak Edung dan Bang Ibor sudah berkeluarga, yang membuat saya tertohok, kenapa saya belum yaa, hehe…Dan satu hal yang paling menarik, mereka sangat menikmati hidup mereka.

         Di daerah sana, ada pekerjaan favorit warga desa, yaitu ngojek. Pelanggannya bukan hanya warga, namun sebagian besar malah barang-barang sembako ataupun minyak solar yang dikirimkan oleh perusahaan disana menuju Pos di tengah hutan belantara. Ongkos sekali mengantar konsumen tentu saja mencapai ratusan ribu, mengingat medan yang sangat berat dan berlumpur. Saya aja kapok.

27

         Hari keenam, kami berjalan lagi pukul 7 pagi, semakin memasuki kawasan hutan yang semakin pekat. Hewan pengisap darah, pacet, ada dimana-mana, dan semakin lama ukurannya semakin besar dan semakin ganas saja. Setiap lima langkah, pasti sudah ada 2-3 pacet yang menempel, hiii.. Sempat berhenti untuk makan siang, sekitar pukul 15.00 kami tiba di tugu perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, letaknya di tengah-tengah hutan banget. Setelah mengambil dokumentasi, kami mencari tempat mendirikan tenda, menuju ke arah puncak, ke arah hutan berlumut.

1415161718202124

         Keesokan paginya, atau hari ketujuh di Pulau Kalimantan, kami berjalan lagi pukul tujuh pagi, dan akhirnya tiba di Puncak Kakam sekitar pukul 10.00. Rasa puas dan bangga menyelimuti TIM, kami berhasil mencapai puncak dengan anggota yang lengkap tanpa ada yang tertinggal atau cedera. Di puncaknya, langit biru dan matahari bersinar cerah, menghapus dahaga kami akan sinar matahari selama pendakian ini, dimana rapatnya hutan Bukit Raya membuat sinar matahari susah tembus ke bawah. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam di atas sebelum kembali turun ke bawah.

25232226

         Selepas makan siang dan packing tenda, tidak berlama-lama kami langsung turun mengejar Pos Rabang lagi. Tim terbagi dua bagian, aku sebagai ketua Tim memutuskan rombongan depan yaitu aku, Dimas, Pak Edung dan Bang Ibor. Rombongan belakang sisanya dipandu oleh Pak Pius. Rombongan pertama tiba di Pos Rabang sekitar pukul 18.00, atau dimana kegelapan sudah menyelimuti langit Kalimantan. Sambil bergegas mendirikan tenda dan masak, kami menunggu tim belakang. Cemas sekali waktu itu rasanya ketika hingga pukul 20.00 tim belakang belum tiba juga, hingga aku meminta bantuan kepada Pak Edung dan Bang Ibor untuk menyusul tim Pak Pius. Dan ternyata sekitar setengah jam berselang, akhirnya suara mereka terdengar di atas, rupanya menurut keterangan Pak Edung mereka berhenti di persimpangan yang agak menipu dalam perjalanan turun ke Pos Rabang. Alhamdulilah, akhirnya sekitar pukul 21.00 tim berkumpul kembali semua dan makan malam dengan lahap.

         Hari kedelapan di Pulau Kalimantan, atau hari keempat di pedalaman hutan Bukit Raya, paginya kami beres-beres, dan melakukan perjalanan pulang ke desa Rantau Malam. Sempat diserang kawanan lebah yang banyaknya minta ampun di Pos Rabang, kami memulai langkah dengan mantap. Sekitar pukul 13.00 kami melangkah keluar dari kawasan hutan dan menemukan jalan perusahaan, suara sepeda motor juga sudah terdengar.

         Selesai sudah perjalanan kami ini, walaupun belum benar-benar selesai karena kami masih harus memikirkan perjalanan pulang ke Sintang kembali. Nantinya dalam perjalanan pulang kami akan menyusuri sungai selama delapan jam, lebih cepat dibandingkan perjalanan perginya. Dan kami tidak perlu merasakan lagi naik sepeda motor cross itu, sangat sakit perjalanannya kawan. Dan perlu diketahui juga, sebelum pulang kami juga melakukan upacara adat kembali pada malam sebelumnya sebagai adat selamatan bahwa tim kembali ke desa dengan selamat.

            Sore harinya tiba di Sintang, kemudian malamnya bertolak langsung ke Pontianak. Untuk kemudian akan berangkat langsung menuju tanah Celebes, Sulawesi, pada sore harinya. Terima kasih banyak buat korwil STAPALA Kalimantan yang telah menyambut kami selama pendakian ini. Walaupun kurang tidur, badan pegal, kepala pusing, cedera-cedera ringan akibat terkena pacet, duri, dan tawon, the show must go on, 7 summits Indonesia menunggu kita. STAPALA, djaia!!

Bintaro, di ruang kelas yang nyaman,

11 Januari 2016

Patuan Handaka Pulungan

2830


TIMELINE

BUKIT RAYA – KALIMANTAN

25 Agustus 2015

20.00 WIB Pontianak

23.00 Istirahat

26 Agustus 2015

08.00 Start from Hotel

13.50 Terbang dari Pontianak menuju Sintang

14.30 Sintang

15.00-17.00 Urus Perizinan di TNBBBR

17.00 Istirahat

27 Agustus 2015

04.00 Persiapan berangkat menuju Rantau Malam

07.00 Dapat kabar gagal berangkat akibat hujan singkat di subuh hari

08.00 Ke Kantor TNBBBR menyusun strategi selanjutnya

28 Agustus 2015

05.15 Menuju Nanga Pinoh dengan Mobil carteran

07.20 Tiba di Terminal Speed Boat

08.55 Start jalur air menuju Serawai, menyusuri Sungai Melawi

13.35 Tiba di Serawai

14.00 Menuju Tontang dengan jalur air lagi

15.10 TIba di Tontang

16.40 Menuju Rantau Malam dengan Sepeda Motor carteran

19.10 Tiba di Rantau Malam

21.00 Istirahat

29 Agustus 2015

05.00 Persiapan

08.20 Upacara Adat

09.00 Start dari Rantau Malam dengan Sepeda Motor menuju Korang HP

09.40 Korang HP, 511 mdpl

10.30 Start dari Korang HP

12.04 Sungai Menyanoi, 706 mdpl

12.59 Sungai Mangan

13.30 Start dari Sungai Mangan

17.17 Rabang, 782 mdpl

30 Agustus 2015

05.27 Persiapan

07.30 Start dari Rabang

11.00 Jelundung

12.13 Linang, 1430 mdpl

13.36 Start dari Linang

14.25 Soa Badak, 1574 mdpl

14.40 Soa Toatung, 1581 mdpl

16.50 Pos Saptanusa II,istirahat, 1776 mdpl

31 Agustus 2015

05.27 Persiapan

07.20 Start dari Pos

09.46 Tiba di Puncak

10.50 Start dari Puncak

11.19 Tiba di Pos

14.05 Start dari Pos

15.08 Tiba di Linang

18.11 Rabang

1 September 2015

05.00 Persiapan

07.19 Start turun

09.50 Sungai Mangan

10.35 Sungai Menyanoi

12.27 Korang HP

15.00 Tiba di Resort Rantau Malam kembali

2 September 2015

05.00 Persiapan

06.30 Menuju Desa sebelah, dengan Sepeda Motor

07.00 Menuju Serawai dengan jalur air, menyusuri sungai Serawai

14.50 Tiba kembali di Nanga Pinoh

16.35 Sintang

19.00 Berangkat menuju Pontianak dengan Bus

3 September 2015

03.50 Pontianak

16.25 Take off menuju Jakarta kembali

31

Catatan Perjalanan : Pulau Lombok (eksotis dan menawan)

Haloooo semua, kali ini aku menulis dari Bintaro, karena alhamdulilaaah sekarang sedang Tugas Belajar dan kembali lagi deh ke kampus tercinta, haha.. Sudah lama rasanya tidak menulis lagi, dan merasakan kangen yang luar biasa untuk menuliskan perjalanan-perjalanan yang sudah dilakukan, takut kelupaaan siiih! Ada beberapa perjalanan yang kulakukan di waktu belakangan ini, namun kali ini sih, aku ingin menuliskan kisah ketika berada di Pulau Lombok, sehabis naik Gunung Rinjani (cerita tentang perjalanan di Gunung RInjani sudah ada di postingan sebelumnyaa), and here we are!

My Journey!

1_petalombok(foto’s from www.lomboktravelnet.com)

Peta gili gili (foto’s from deltatravelindo.com)

Dimulai darimana yaa, hmm….oh ya, pada pagi hari ketika kami berlima, aku, friza, sarah, fata, and ryan meninggalkan desa Sembalun dengan mobil carteran..

Hampir tiga jam kali ya perjalanan dari Sembalun ke Pelabuhan Bangsal, waktu itu tujuan kami selanjutnya adalah menyeberang ke Gili Trawangan. Siapa yang tak kenal dengan pulau tersebut, pulau yang sangat indah dan menawan, salah satu icon pariwisata di Lombok, bahkan di Indonesia. Kami diturunkan di pertigaan deket dengan Pelabuhan Bangsal. Selanjutnya dari pertigaan tersebut, kami naik Cidomo, salah satu angkutan khas Lombok, kereta kayu yang ditarik dengan kuda, ongkosnya kalo ga salah Rp 10rb per orang. Jarak antara pertigaan dan pelabuhannya sendiri ada sekitar 100 meter juga, bisa aja jalan kaki, tapi kami kemarin barangnya banyaaak, habis naik gunung..

IMG_3506 (di Cidomo niiih)

Sesampai di pelabuhan, kami langsung nyari tiket penyeberangan ke Gili. Oh ya, sekedar informasi, tiket penyeberangan bisa langsung dibeli di loket, ga usah dari calo. Harganya waktu itu kalo ga salah sih Rp 10rb juga kali ya per orang, hehehe…lupa. Waktu itu hari sudah siang, sekitar pukul dua belas siang, yang artinya matahari sedang menyengat dengan ganas. Kapal penyeberangan ke Gili Trawangan hampir setiap satu jam tersedia, dan selalu penuh. Namun, jangan sampai melebihi jam lima sore yaa, kalo ga salah sih batas operasionalnya sampe jam tersebut. Memang sih pake sistem ngetem dulu nunggu penumpang (kayak angkot juga yaak), yang artinya bisa menunggu selama hampir sejam. Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang ke Gili Trawangan bisa sekitar dua jam. Lama loooh! kalo dibandingkan pake speedboat atau jasa kapal penyeberangan yang dari travel gitu, paling sekitar setengah jam dan ga pake ngetem segala. Harganya? berkisar Rp 150rb-an kayaknya. Kalo kami sih nyari irit, hahaha! Anyway, salah seorang teman kami, Fata, tidak ikut ke Gili karena akan pulang duluan, ada keperluan yang harus dikejar..

IMG_3510 (Mr Ryan lagi nungguin kapal penyeberangan, barangnya akeeh)

IMG_3509 (barang yang dibawa barang naik gunung, hahaha)

IMG_3511  (suasana pelabuhan bangsal)

Sesampai di Gili Trawangan, nyari penginapan, dapat juga yang murah, “hanya” Rp 100rb permalam perkamar! kamarnya gede lagi..baru sih, dan kebetulan waktu kami datang belum musim liburan, jadi agak sepi..aktivitas yang dilakukan disana? banyaaak men! nyari sunset (asli, keren bgt!), liat bule-bule berjemur, hahaha..(ups!), trus makan seafood (jelaaas), menikmati malam di pantai dengan segala kebisingannya (keramaiannya hampir sama dengan jalan Legian di Bali, penuh dengan bar), trus paginya nyari sunrise dong (tapi gagal, ternyata mesti mendaki ke sisi sebelah, jauuuh). Dan hal menakjubkan lainnya, banyak spot snorkling di sekitar pantai loooh, pantainya cantik bangeeeet! biruuuuuu, you must see!! Terus, yang kerennya, tidak ada kendaraan yang mengeluarkan asap di Gili Trawangan, hahaha, tidak ada kendaraan bermotor di Gili Trawangan (waktu itu, entah sekarang, ntar mau ngecek ah, haha). Kami sih nyewa sepeda buat keliling menikmati pagi hari di sana..

IMG_3530

IMG_3595

IMG_3586 (bersama Mr Edi from Gili Trawangan)

IMG_3581 (spot yang sangat pas menikmati sunset di Gili T.)

IMG_3571

IMG_3644

IMG_3661 (Sarah in action)

IMG_3660 (Friza in action too..)

IMG_3654 (ups, ada Friza lagi)

IMG_3685

IMG_3692

Hanya satu malam kami di Gili Trawangan, siangnya kami kembali menyeberang ke Lombok. Tidak sempat mampir ke Gili Meno dan Gili Air, sayang sekali. Dan sebelumnya sudah mencarter mobil yang akan membawa kami keliling Mataram dan sekitarnya selama satu hari termasuk ngantar ke Bandara keesokan harinya. Selanjutnya, sempat wisata kuliner, yaitu menikmati Ayam Taliwang (makanan khasnyaaa, ajiib), teruus belanja di pasar di sudut kota Mataram (tentunya low budget), belinya waktu itu ada kain khas Lombok, trus belanja kerajinan perak juga. Kemudian di sore harinya kami menikmati keindahan pantai Senggigi sambil menikmati jagung bakar. Waktu itu cuaca di Senggigi lumayan cerah, jadi kami menikmati sunset yang tampak di kejauhan, tau ga landscape nya apa? Gunung Agung yang berada di pulau Bali, yang puncaknya tampak diselimuti awan! kereeeeeeen..

IMG_3716 (ayam taliwang…)

IMG_3732 (menikmati senja di Senggigi)

IMG_3742 (di kejauhan tampak Gunung Agung)

IMG_3723 (sunset, mengapa begitu mengagumkan yaa..)

Malam itu kami menginap di sekitaran pantai Senggigi, tidak banyak aktivitas yang kami lakukan, hanya cari makan dan jalan-jalan saja. Karena memang tidak banyak juga aktivitas yang ada di seputaran pantai pada malam hari, hanya bar-bar lokal yang tampak ramai. Atau mungkin kaminya kali yang kurang jalan-jalan, hahahaha! Tapi sebenernya, malam itu kami istirahat, cape seharian berkeliling mengitari Mataram..

Keesokan harinya kami berangkat lagi, sekitar pukul delapan pagi, tujuan berikutnya adalah selatannya Lombok, yaitu Pantai Kute. Sesampai disana, matahari udah tinggi, jadi panas sekali. Tapi perjalanan yang cukup jauh tersebut setimpal banget dengan apa yang didapatkan disana. Subhanallah, pantainya sangaaaaat indah, rasanya tidak ada kata yang menggambarkan keindahannya, hehehe, tapi beneran, cakep pantainya. Puas berfoto-foto, kami pun kembali berangkat dengan berat hati, sayang banget, hanya sebentar disana, dikejar waktu sih.

IMG_3813 (pantai Kute!!)

IMG_3792 (masih pantai Kute..)

IMG_3788 (masih pantai Kute)

IMG_3769

Sampai lagi di bandara Praya, berat juga rasanya berpisah dengan pulau Lombok (jalan-jalannya beloom puaas!). Sangat indah, sangat berkesan. Thank you banget sama rekan seperjalanan kala itu, yang bersama dari Gunung Rinjani hingga jalan-jalan di Lombok, ada Ryan, Fata, Sarah, Friza, Bg Edi di Gili Trawangan, Mas Bambang di Senggigi (yang mobilnya kami carter), dan semua-semuanyaa, daan, foto-foto yang ada di tulisan ini adalah foto-foto yang diambil oleh yang punya kamera di perjalanan ini (izin make yaaaa). Insya Allah akan kembali lagi kesini, menikmati keindahan alam pulau Lombok, amiin… 🙂

Bintaro, 23 Februari 2015

Best Regards,

Patuan Handaka Pulungan

897/SPA/2010

IMG_3789

Catatan Perjalanan : Gunung Latimojong

Gunung Latimojong!

garissg-nenemori-3397-mdpl-6012011-11 (foot’s from latimojong.wordpress.com)

 

(sumber Wikipedia)

Gunung Latimojong adalah satu nama gunung di Kabupaten EnrekangSulawesi SelatanIndonesia. Gunung Latimojong berada di tengah-tengah Sulawesi Selatan. Sebagian besar pengunungan ini terletak di daerahKabupaten Enrekang.

Gunung Latimojong merupakan gunung yang tertinggi di Sulawesi Selatan dengan ketinggian 3.680 meter, puncaknya yang bernama Rante Kambola. Pegunungan Latimojong ini membentang dari selatan ke utara. Di sebelah barat Gunung Latimojong adalah Kabupaten Enrekang, sebelah utara Kabupaten Tana Toraja, sebelah selatan adalah daerah Kabupaten Sidenreng Rappang dan area sebelah timur seluruhnya wilayah Kabupaten Luwu sampai di pinggir pantai Teluk Bone.

My Journey!

kaki latimojong  (foot’s from www.diskusilepas.com)

latimojongPW1 (foot’s from archive.kaskus.co.id)

Sudah lama rasanya saya tidak menulis lagi karena kesibukan di keseharian saya, dan juga seperti kehilangan semangat untuk menulis. Okay, kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya sewaktu melakukan perjalanan ke Gunung Latimojong, di tanah Sulawesi. pada Mei 2014 kemarin. Here we are

Pada medio Januari 2014 kemarin, Fauzan, seorang teman kuliah dan saudara STAPALA yang sekarang bekerja di Kota Sorong memposting rencana perjalanan naik gunung melalui jejaring Facebook. Tidak tanggung-tanggung, gunung yang akan didaki adalah gunung Latimojong, yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Sulawesi, yaitu dengan Puncaknya yang bernama Rante Mario. Apakah saya berpikir panjang untuk join? tentu tidak! haha..tanpa memikirkan kecukupan biaya ataupun cuti, saya langsung menghubungi Fauzan, dan mengatakan untuk ikut bergabung dalam perjalanan itu!

Nah, niat sudah ada, tinggal memperkirakan waktu dan biaya nya nih. Mulai deh nabung, dan berniat untuk memulai lari pagi minimal tiga hari seminggu. Dan realisasinya? Dari bulan Januari sampai H-1 berangkat, total pagi hari yang dipakai untuk olahraga hanya tiga kali, suram memang, tiap pagi suka telat bangun, keasikan begadang, haduh..

Selanjutnya adalah, mempersiapkan dari jauh-jauh hari perlengkapan yang akan dibawa. Dari kupluk hingga sepatu gunung, dari pakaian dalam hingga jaket, dan sebagainya. Lengkapnya ini nih listnya, kali aja bisa sebagai referensi buat teman-teman yang pengen naik gunung:

1. Pakaian secukupnya, (celana, kaos, kemeja, dll)

2. Slayer, topi rimba, atau apapun itu yang penting menutupi kepala,

3. Jaket hangat, Wajib coy!

4. Kerir/tas gunung,

5. Raincoat/jas hujan, Wajib juga!

6. Sarung tangan,

7. Sepatu gunung/sandal gunung, mau swalloan jga oke2 aja, tergantung ketahanan, hehe..

8. Kaos kaki 2 pasang dipake jalan, 1 pasang dipake kalo mau tidur,

9. Sleeping bag,

10. Kompor,

11. dll….

okee, selesai mempersiapkan perlengkapan, seterusnya tinggal menunggu tanggal mainnya. Waktu itu Fauzan sendiri yang mengurus proses administrasi dan mencari transportasi selama di Baraka, sehingga saya tinggal datang pada meeting point yang telah disepakati. Namun buat teman-teman yang pergi sendiri yang ingin ke Gunung Latimojong, sebelum berangkat kesana diperhatikan proses perizinannya, kemudian cari informasi mengenai transportasi dari Kecamatan Baraka ke dusun Karangan, dusun terakhir sebelum memulai pendakian gunung Latimojong, karena biasanya menyewa mobil Jeep disana agak susah.

Hari 1:

Nah, seperti biasa, saya berangkat dari kota Padang Sidempuan dengan bus terlebih dahulu menuju Kota Medan selama 10 jam perjalanan hingga sampai di Bandara Kuala Namu. Selanjutnya saya naik pesawat ke Makassar, dan transit di Jakarta, kemudian sekitar pukul 10 pagi waktu setempat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, bandara di Makassar. Alhamdulilah, akhirnya saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Sulawesi. Selanjutnya saya menuju Tanah Bira di ujung selatan Pulau Sulawesi, yang nantinya akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Hari 2:

(Bira)

Hari 3:

Setelah puas selama tiga hari di Bira, sekitar pukul 11 siang, saya melanjutkan perjalanan pulang ke Makassar, dan sampai di Makassar sekitar pukul 5 sore. Sempat kesulitan mencari terminal bus, nanya-nanya orang, akhirnya setelah berganti angkot 2 kali, sampai juga di terminal bus  kota Makassar di seputaran Jalan Perintis Kemerdekaan. Langsung saya cari bus dengan tujuan Toraja, karena saya berencana mengunjungi Tana Toraja dulu sebelum ke Baraka. Saya mengambil bus dengan nama perusahaan Litha & co waktu itu. Busnya cukup nyaman menurut saya. Malam itu juga saya bertemu dengan teman saya Pardamean Harahap di terminal, dan tak lama kemudian bus pun berangkat.

Sempat mengalami pengalaman tak enak, ketika bus ngetem di sebuah terminal entah dimana namun masih di Kota Makassar, masuklah serombongan penjaja buah, yang rata2 adalah pemuda tanggung sekitaran 10 orang. Mereka menawarkan buah yang dibungkus plastik seharga Rp 5.000, ya betul, cuma Rp 5.000 untuk sebungkus apel yang terdiri atas 4 buah, dan sebungkus anggur juga. Saya sudah tak tertarik beli, namun teman saya karena tertarik dengan harga yang sangat miring itu, berniat membeli 2 bungkus. Dan yang terjadi adalah, ya, scamming! ternyata harganya Rp 45.000 satu bungkus. Bangke banget ya! dan saya sudah sempat adu mulut, dan mereka tiba-tiba bergerombol di bangku kami sambil ngancam-ngancam, untunglah teman saya itu orangnya berkepala dingin, dengan segera dia mengambil satu bungkus apel kemudian membayarnya, dan mengembalikan sisa bungkusan yang kami pegang. Kalau saya sendirian disitu, sudah berkelahi pun jadilah!

Hari 4:

(seharian penuh kami di Toraja, nanti saya ceritakan di lain kesempatan)..

Malamnya dari Tana Toraja, kami agak kerepotan menuju Kecamatan Baraka, dikarenakan tidak ada bus ataupun travel yang langsung ke Baraka, hanya turun di suatu tempat di Enrekang. Jadinya kami mencari-cari informasi, dan akhirnya berkat bantuan bapak angkot yang kami tumpangi mencari bus, kami pun mendapatkan bus pada malam itu dengan tujuan Enrekang. Kecamatan Baraka itu terletak di Kabupaten Enrekang, sehingga pemikiran kami waktu itu kami cukup ke Enrekang dulu, dan ke Barakanya nanti saja dipikirin, hehe..

Di perjalanan menuju Enrekang, saya menghubungi no kontak yang ada di Baraka, yaitu Pak Dadang, dari KPA Lembayung (salut sama beliau, beliaulah yang menjembatani kami untuk dapat transportasi dari Baraka ke Karangan, kemudian yang menjadi tempat persinggahan kami selama di Baraka). Dan setelah menceritakan kronologisnya, beliau berjanji akan menjemput kami di Enrekang, yang pada awalnya kami kira jaraknya ga terlalu jauh. Ada sekitar 3 jam perjalanan dari Toraja menuju Enrekang, dan sesampai di sana, kami pun menghubungi beliau kembali. Dan ternyata sudah ada dua orang anak muda yang menjemput kami dengan motor. Alhamdulilah..

Perjalanan dari suatu tempat di Enrekang itu ke Kecamatan Baraka ternyata sangat jauh, sekitar satu jam perjalanan, wah wah, kami sangat merepotkan mereka. Sesampai di rumah Pak Dadang, kami disambut beliau dengan hangat. Kami bercerita banyak hal, bahkan mengenai Gunung Latimojong juga, sembari minum kopi yang disediakan istri beliau. Ternyata Pak Dadang merupakan pendiri KPA Lembayung yang berada di Kecamatan Baraka tersebut. KPA tersebut sering membantu para pendaki yang ingin menaiki Gunung Latimojong. Salut deh! Dan kemudian sisa malam itu kami lanjutkan dengan mengistirahatkan badan yang sudah lelah..

Hari 5:

Sekitar pukul 5 pagi, saat masih asik terlelap dalam dinginnya cuaca, rombongan tim akhirnya tiba di Baraka juga. Mereka adalah teman-teman seperjalanan yang baru berangkat tadi malamnya dari Makasar, yah, rombongan Fauzan, leader perjalanan kali ini. Kami segera packing, karena diperkirakan mobil Jeep yang akan membawa tim ke dusun Karangan akan tiba pada pagi ini. Rencana kami yang semula akan berangkat jam 11 siang kami percepat, dengan harapan nanti sore sudah bisa sampai di Pos 2 untuk nge-camp.

Sekitar jam 7 pagi, mobil tumpangan kami akhirnya tiba. Ternyata supirnya adalah teman Pak Dadang sendiri, yang sudah biasa mengantar jemput para pendaki dari Baraka ke Karangan. Sekedar informasi, jarak antara Baraka menuju Karangan sendiri ditempuh dalam waktu lebih kurang empat jam dengan mobil Jeep. Kebayang kan kalau jalan kaki, haha… Namun alternatif lain adalah bisa menyewa ojek dari Baraka. Terkadang ada juga pendaki solo atau cuma berdua yang menyewa ojek sebagai transportasi dari dan ke dusun Karangan.

Jam 8 pagi, kami pun berangkat setelah sebelumnya dijamu sarapan pagi oleh istri Pak Dadang. Selanjutnya mampir di Pos Polisi Baraka untuk membuat perizinan dan laporan tim yang berangkat. Ketika itu cuaca berawan, diselingi oleh gerimis. Dan perjalanan pun dimulai…

10440793_10202157925016717_2717450757663172067_n

10353179_10202157929416827_1783689157519255242_n (dalam perjalanan dari Baraka menuju Dusun Karangan)

Sekitar pukul 1 siang kami akhirnya tiba di dusun Karangan, dusun terakhir sebelum memulai start pendakian. Perjalanannya agak terlambat dikarenakan sempat terjadi kerusakan pada mobil Jeep yang kami tumpangi. Wajar saja, mengingat medannya yang berat dan berlumpur, dimana di sepanjang jalan, jurang mengaga lebar di sebelah kanan, membuat mobil berjalan perlahan. Kami segera melapor ke Kepala Dusun Karangan, yang ternyata rumah beliau sering dijadikan Basecamp oleh para pendaki.

1236132_10202157951617382_8162170467039788468_n (pose tim lengkap bersama porter)

10396289_10202157910216347_231811234596670032_n (di depan Basecamp rumah Kepala Dusun Karangan)

Sekitar pukul 2 siang lebih, kami pun memulai perjalanan, trek dari Karangan menuju Pos 1 adalah melewati ladang masyarakat, jalanan terkadang berlumpur, dan sesekali melewati sungai kecil. Di awal perjalanan ini saya tidak terlalu memperhatikan jalur, dan itu sangat fatal bagi saya pada waktu turunnya kelak. Banyak persimpangan sepanjang perjalanan menuju Pos 1. Adapun waktu tempuh kami hingga ke Pos 1 memakan waktu sekitar satu setengah jam, karena kami berjalan pelan. Oh ya, di perjalanan ini kami ditemani oleh tiga orang porter dari KPA Lembayung yang kesemuanya adalah anak muda, lebih muda dari saya, haha… Tim kami sendiri terdiri atas sembilan orang lelaki dan seorang perempuan yang merupakan senior saya sewaktu di kuliah. Beliau ikut karena suaminya juga ikutan, haha..

1384206_10202157955297474_3334849072896147917_n (pondokan sebelum Pos 1)

10407694_10202157952457403_5088547632686097606_n

10440822_10202157958737560_9113430759794241927_n (jalur maut di Pos 2)

Pukul empat sore kami tiba di Pos 1, adapun Pos 1 berupa tanah gundul dan tidak ada mata air disekitar pos ini, dan menurut saya juga tidak cocok dijadikan lokasi perkemahan. Kami hanya berhenti sebentar disini karena berharap sampai di Pos 2 tidak kemalaman. Perjalanan menuju Pos 2 sendiri adalah memasuki kawasan hutan lebat dan gelap. Treknya terkadang naik dan kadang turun, tanahnya berlumpur, dan disebelah kirinya adalah jurang, sangat berbahaya. Di sepanjang trek ini tenaga saya terkuras, bahkan ada seorang teman yang hampir jatuh saat melewati kayu yang berfungsi sebagai jembatan darurat melewati jurang. Treknya cenderung banyak menurun karena ternyata Pos 2 berada di lembah.

Sekitar pukul setengah 6 kami pun sampai di Pos 2, dan ternyata sudah banyak pendaki lain yang tiba. Rupanya kami cukup apes karena hampir saja tidak mendapatkan lokasi untuk mendirikan tenda, dikarenakan rombongan pendaki yang telah tiba terlebih dahulu berjumlah lebih dari 30 orang, ternyata mereka berasal dari satu universitas di Makasar yang melakukan pendakian massal. Untuk melanjutkan perjalanan ke Pos 3 tim kami sudah tidak sanggup lagi dikarenakan trek dari Pos 2 ke Pos 3 itu adalah trek yang paling terjal. Pos 2 itu sendiri berada di sebelah sungai kecil yang sangat deras. Ada juga cekungan batuan serta tanahnya cukup datar sehingga Pos 2 merupakan tempat yang sangat ideal untuk mendirikan kemah walaupun luasnya tidak seberapa.

Setelah menunggu sekitar sejam, akhirnya kami pun kebagian tempat untuk mendirikan tenda walaupun letaknya tidak terlalu bagus, namun itu juga diperoleh setelah rombongan sebelumnya membereskan peralatan masak mereka dan barang mereka lainnya untuk memberikan tempat bagi kami, terima kasih.. Kegiatan malam itu kami isi dengan beristirahat penuh setelah makan malam karena badan yang sudah lelah serta berupaya mengumpulkan tenaga lagi untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Beruntung cuaca pada malam itu cukup cerah, dan tidak ada hujan setelah sebelumnya hujan menyertai perjalanan kami di sepanjang perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2.

10376063_10202157959977591_8595714843558663779_n

10380889_10202157964897714_5440985203196694452_n (Pos 2)

Hari 6:

Kami bangun cukup cepat keesokan harinya, saya tidur tidak terlalu nyenyak karena kedinginan. Setelah sarapan dan packing, sekitar pukul sembilan pagi, kami pun memulai pendakian kembali. Trek dari Pos 2 ke Pos 3 adalah trek yang paling terjal menurut saya, tingkat kecuraman bisa sampai 70 derajat kawan! Namun dikarenakan suasana pegunungan yang begitu terasa indah bagi saya, cuaca yang cukup cerah, dan bau pohon yang khas membuat saya tidak terlalu merisaukan trek. Saya begitu menikmati perjalanan ini. Adapun waktu tempuh dari Pos 2 ke Pos 3 sekitar satu jam perjalanan. Sesampai di Pos 3, tim kami mulai berpencar, ada rombongan yang cepat, rombongan menengah, dan rombongan sweeper, dan disitulah saya berada, hehe..

10447130_10202157968017792_7634268116029177078_n

Hanya beristirahat sejenak, kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Pos 4. Trek dari Pos 3 ke Pos 4 tidak seperti trek sebelumnya, walaupun ada yang terjal tapi menurut saya cukup landai. Waktu tempuh dari Pos 3 ke Pos 4 sekitar sejam perjalanan juga. Keadaan Pos 4 sama seperti Pos 3, yaitu tanah datar dan tidak terlalu luas. Di Pos 3 dan Pos 4 tidak ada mata air.

10262176_10202157990458353_581370669538256756_n

Di Pos 4 lagi-lagi hanya beristirahat sekadarnya sembari menikmati cemilan dan minum, kami melanjutkan perjalanan kembali. Trek menuju Pos 5 dari Pos 4 cukup jauh, sekitar satu setengah jam perjalanan. Walaupun treknya terkadang terjal, namun cukup landai juga seperti dari Pos 3 ke Pos 4. Sesampai di Pos 5, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, dan di Pos 5 juga tim kami yang semula berpencar akhirnya berkumpul lagi. Adapun Pos 5 sendiri berupa tanah datar yang luas, dan juga terdapat mata air sehingga banyak pendaki sering bermalam di sini. Di Pos 5 kami makan siang seadanya saja, dan tidak makan berat, serta mengisi perbekalan air.

10374977_10202157985858238_8871622835956054251_n

10173797_10202157993658433_5599229530705789623_n

Setelah beristirahat cukup lama, kami pun berjalan lagi menuju Pos 6. Memang target kami hari ini adalah sampai ke Pos 7 dan bermalam disana, disambung muncak keesokan harinya. Trek dari Pos 5 ke Pos 6 terjal juga, dan sesekali ada jalan bonus, lama perjalanan sekitar satu jam. Di Pos 6 sendiri berupa tanah datar yang tidak terlalu luas serta terbuka, tidak ada mata air disekitarnya. Hanya beristirahat sejenak kami berjalan kembali menuju Pos 7. Dan trek dari Pos 6 menuju Pos 7 sendiri juga cukup terjal dan sesekali ada jalan bonus. Disini vegetasi tanamannya mulai berubah, pepohonannya semakin pendek dan berdaun jarang. Dan segera saja hutannya berubah menjadi hutan lumut yang indah menurut saya. Jarak tempuh dari Pos 6 ke Pos 7 sekitar satu setengah jam perjalanan.

10411789_10202157997218522_3962772501695401095_n

Tiba di Pos 7 hari sudah sore, matahari hampir tenggelam. Teringat bahwa saya belum sholat, sehingga memutuskan untuk sholat terlebih dahulu, cuaca sangat dingin sekali. Angin senja menerpa saya saat sholat dan saya menggigil kedinginan. Bahkan salah seorang teman saya juga dengan pedenya membuka baju, dan akhirnya ikut kedinginan juga, hahaa..memang sewaktu berjalan dari Pos 6 ke Pos 7 kami kegerahan. Namun sesampai di Pos 7 cuaca tiba-tiba berubah menjadi dingin sekali. Lokasi Pos 7 cukup datar, dan memiliki lokasi terbuka, pepohonan pendek terdapat di sekitarnya sehingga wajar saja angin langsung menerpa kami yang beristirahat di pos tersebut. Terdapat mata air bersih di sekitar Pos 7, agak mlipir kebawah untuk mencapai lokasi mata air, sehingga para pendaki terkadang ada juga yang mendirikan tenda di pos ini.

10341855_10202158001178621_755900151796257470_n

10422239_10202158002858663_6698864319750359664_n

10426574_10202158003818687_7333602652653050483_n

Ternyata kami tidak mendirikan tenda di Pos 7, namun berjalan agak kedepan lagi, karena di Pos 7 itu sangat tidak kondusif untuk mendirikan tenda. Disamping tempatnya yang terbuka, yang pasti angin langsung menerpa kita, juga tidak terlalu luas. Saya segera berjalan kembali menuju tenda kami didirikan, dan malam pun menjelang. Cuaca sangat dingin, saya menggigil dengan hebat. Ya benar, cuacanya sangat dingin. Ada sekitar lima belas menit berjalan, dan akhirnya kami menemukan posisi tenda kami. Adapun malam itu saya menggigil kedinginan lagi, walaupun sudah memakai jaket yang tebal. Suhunya menurut saya sangat ekstrim. Kegiatan malam itu kami isi dengan beristirahat, dan tidak melakukan banyak aktivitas.

10441198_10202158005898739_5635977972779598086_n

Hari 7:

10274015_10202158018099044_1894861563431237736_n

10349014_10202158031339375_3776439198349436096_n

Pagi harinya, sekitar pukul  6 pagi, kami bergegas muncak. Memang dari awal kami tidak berniat untuk mencari sunrise pagi itu. Jarak puncak Latimojong dari lokasi kami berkemah hanya sekitar setengah jam saja. Namun, jalurnya cukup terjal, dan memiliki banyak simpang, sehingga harus berhati-hati memilih jalur. Sekitar pukul tujuh kurang, sampailah kami di puncak tertinggi pulau Sulawesi, ya puncak Rante Mario, 3478 mdpl!! Saya segera sujud syukur kepada Sang Pencipta, bersyukur diberikan kesempatan untuk menikmati keindahan dan kebesaran ciptaan-Nya. Alhamdulilah….

1601493_10202180419939076_7727024611096169489_n

10406376_10202158022019142_2466931439728929710_n

10405485_10202158025659233_6661409144290960830_n

Cuaca di puncak sangat dingin, saya yang sudah memakai pakaian berlapis saja masih kedinginan. Kami di puncak ada sekitar setengah jam saja. Puas mengabadikan momen, kami pun segera beranjak pulang. Sesampai di tenda, kami pun segera packing. Rencana kami hari ini adalah segera turun dan berharap sore sudah sampai kembali di Basecamp Karangan.

Pada saat perjalanan turun, tim kami terpencar kembali menjadi tiga bagian, rombongan yang dipimpin Fauzan melesat pertama, selanjutnya adalah saya, dan terakhir rombongan teman-teman lainnya. Medan pendakian yang sangat menyiksa, membuat perjalanan turun ini terasa sama melelahkannya dengan saat naik, terkadang saya harus berhenti untuk melemaskan kaki yang sudah mulai kram.

Tiba kembali di Pos 2 yang menjadi tempat kemah saat naik, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, saya bertemu dengan rombongan Fauzan. Jarak kami ternyata lebih dari setengah jam, cukup jauh juga ternyata. Di Pos ini saya sholat dan makan cemilan seadanya, serta melemaskan otot-otot yang sudah tegang. Tak lama kemudian rombongan Fauzan pun melanjutkan perjalanan, sebenarnya saya ingin mengikutinya, namun dikarenakan waktu itu kaki saya masih lemas, saya terpaksa menunda keberangkatan saya. Asumsi yang saya peroleh dari keterangan teman-teman pendaki lainnya, jarak antara Pos 2 dengan desa sekitar dua jam. Kala itu waktu masih menunjukkan pukul hampir setengah lima sore.

Saya pun dengan pede memulai berjalan sendirian lagi, keterangan dari porter yang ditemui di Pos 2 mengatakan tidak akan ada jalur yang membingungkan, hanya berbelok ketika sudah memasuki perkebunan warga. Disinilah letak kesalahan saya yang kedua, yaitu berjalan sendirian. Dan kesalahan saya yang pertama adalah tidak mengingat jalur pendakian awal dari desa ke Pos 2 dikarenakan keasikan ngobrol dengan porter sepanjang perjalanan. Yang saya ingat hanyalah medan dari Pos 1 ke Pos 2 sangat sulit, dimana di sebelah kiri jurang, ditambah kondisi jalur yang licin dan berlumpur.

Saat saya sudah berada di tengah perjalanan, hujan kembali mengguyur, jalur kembali sangat licin, dengan sangat perlahan saya menyusuri jalur sembari berpegangan dengan tanaman-tanaman yang tumbuh di pinggir jalur. Perkiraan saya jarak Pos 2 ke Pos 1 hanyalah satu jam, yang ternyata salah, karena setelah lama berjalan, saya belum juga keluar dari hutan. Sekadar informasi, jalur Pos 2 ke Pos 1 adalah menembus hutan lebat. Namun saya masih pede bahwa jalur saya benar dikarenakan terdapat beberapa pita tanda penunjuk jalan di sepanjang jalur. Jadi ketika saya mulai merasa ragu terhadap jalur tersebut, saya kemudian melirik kiri kanan untuk menemukan pita, dan setelah menemukannya, merasa lega, dan kembali berjalan.

Pukul enam sore, akhirnya saya keluar dari hutan tersebut, dan dikejauhan terlihat papan penunjuk Pos 1, alhamdulilah, batin saya. Sempat beristirahat di Pos 1, namun hanya sebentar, karena senja sudah turun. Syukurnya hujan telah berhenti. Dari belakang, sama sekali tidak terlihat pendaki yang menyusul, dan di depan sama sekali tidak terlihat juga rombongan pendaki ataupun penduduk lokal. Saya melanjutkan perjalanan kembali, disini saya hanya mengingat satu spot saja, yaitu gubuk di samping sungai kecil, dan malam pun menjelang, sehingga saya pun menyalakan senter.

Selanjutnya, saya sudah tidak ada ingatan sama sekali dengan jalur tersebut, yang saya ingat adalah, hanya terdapat satu jalur saja, dan ada pertigaan, satu menuju ke desa, satu kembali ke arah hutan. Kegelapan menyelimuti areal perkebunan, saya berjalan dengan perlahan, disini saya sudah gamang, sambil terus mengingat Tuhan. Saya banyak berdoa, sembari mengusir ketakutan, yah, bagaimanapun, selain takut salah jalan, saya juga takut adanya makhluk halus yang mengganggu. Apalagi informasi tentang jalur Latimojong ini sedikit sekali yang saya dapatkan dari internet.

Semakin jauh saya melangkah, saya menemukan persimpangan lagi, satu ke arah atas, satu ke arah bawah, disini saya benar-benar tidak ingat sama sekali. Walaupun saya sudah sering naik gunung, namun kala itu, saya benar-benar bingung untuk menentukan arah. Pita-pita yang sepanjang pendakian sangat membantu, namun begitu malam tiba, tidak terlihat lagi, atau mungkin bahkan tidak ada lagi sejak memasuki areal ladang warga. Terkadang memang saya masih melewati hutan. Ketika itu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

Ada sekitar satu jam saya bolak-balik, pertama saya mengambil persimpangan ke arah bawah, namun setelah cukup jauh berjalan, ternyata  dan memasuki areal hutan lagi sehingga saya ragu, dan memilih kembali ke persimpangan lagi. Ketika saya melihat cahaya, saya mengira itu adalah cahaya senter pendaki yang telah sampai juga, ketika saya kejar kebelakang, ternyata hanyalah cahaya kunang-kunang.

Pun ketika saya memutuskan untuk mengambil persimpangan ke atas, saya meninggalkan tas dan berjalan. Namun, setelah di atas, tidak ada sama sekali jejak kaki di lumpur di jalur, sehingga saya ragu juga, karena saya berpikir rombongan Jane pastilah kalau lewat jalur ini akan meninggalkan jejak langkah. Saya kembali ke tempat asal, dimana tas saya lepaskan, dan mulai duduk. Saya berpikir, apa saya salah mengambil jalur sebelumnya?

Setelah cukup lama duduk di persimpangan karena lelah bolak-balik, tiba-tiba di kejauhan saya melihat cahaya beriringan, sempat ragu itu cahaya kunang-kunang lagi. Lama saya perhatikan, dan saya mengambil keputusan untuk mencari tahu. Saya memanggul tas saya, dan mengejar cahaya tersebut, dan alhamdulilah, ternyata rombongan pendaki asal Bandung yang sempat turun bersama sebelumnya. Pastilah mereka mengira saya makhluk jadi-jadian atau apalah, karena kondisi saya yang ngos-ngosan dan berkeringat, saya menyapa mereka dan berkata saya bingung terhadap jalur turun. Mereka hanya tertawa kecil, dan mengajak untuk turun bersama. Selanjutnya kami pun akhirnya sampai di desa.

Tiba di desa, saya agak kesulitan mencari posisi Basecamp, dikarenakan malam yang sudah menyelimuti dusun, dan juga orientasi saya terhadap jalan di dusun kala itu blank sama sekali. Namun akhirnya, setelah bertanya sana-sini, sampai juga saya di Basecamp, yang tak lain rumah Kepala Dusun. Saya disambut Fauzan dan lainnya, sembari bertanya kenapa sendirian. Sekitar satu jam berselang, teman saya Pardamean juga tiba sendirian, haha, dan ternyata dia juga sempat mutar-mutar sendirian di persimpangan dimana saya juga bingung tadi. Sepertinya untuk kedepannya perlu dibuat papan penunjuk arah rasanya.

Setelah menunggu hingga pukul 11 malam, teman kami yang lainnya belum juga sampai. Kami sudah khawatir dan mulai berpikir bahwa mereka melanjutkan menginap di Pos 2, karena berdasarkan informasi dari Pardamean, dia juga sudah ketemu rombongan di Pos 2. Kami pun berembuk, dan sepakat seperti yang kami asumsikan sehingga kami pun beranjak tidur. Kami juga cukup tenang dan tidak terlalu cemas mengingat semua porter yang kami bawa berada di kelompok belakang.

Sekitar pukul 12 malam, saat mulai terlelap, tiba-tiba dua orang teman sampai di Basecamp. Kami pun terkejut bukan main. Mereka menjelaskan kondisi terkini bahwa beberapa teman kami ada yang tidak sanggup berjalan kembali karena mengalami kram. Mereka ternyata berada di pondokan penduduk di sekitar Pos 1. Setelah berembuk, diputuskan tiga orang dari kami menyusul kesana seraya membawa bahan makanan dan baju hangat.

Keesokan harinya barulah tim kami berkumpul kembali semua. Ternyata tim yang menyusul tadi malam ikut bermalam disana mengingat ada teman yang tidak memungkinkan untuk berjalan kembali malam itu karena butuh istirahat. Alhamdulilah, semua selamat kembali ke Basecamp tanpa kekurangan apa pun. Setelah itu kami istirahat sambil menunggu mobil Jeep menjemput kami kembali. Sekitar pukul 10 siang, kami pun meninggalkan Basecamp Karangan, dan empat jam kemudian sudah sampai kembali di rumah Pak Dadang, di Baraka.

Terima kasih yang sebesar-besarnya buat tim saya, buat Pak Dadang dan KPA Lembayung, buat para porter kami, buat Bapak sopir mobil Jeep, dan buat Bapak Kepala Dusun Karangan. Oh ya, sebagian besar dari foto yang ada di Catatan Perjalanan ini adalah hasil jepretan teman saya Pardamean Harahap yang dengan cemerlang mengabadikan momen yang ada. Banyak sih sebenarnya fotonya, tapi hanya sebagian kecil yang saya muat di Catatan Perjalanan ini, dan atas seizin beliau. Dan, saya senang mendapat kenalan baru dari perjalanan kali ini. Alhamdulilah… see you guys, on the next journey!!

Jakarta, 9 Oktober 2014

Best Regards,

-Andha-

Patuan Handaka Pulungan, 897/SPA/2010

10414909_10202158029099319_7491419887082695578_n

Catatan Perjalanan : Pulau Bali (Part I)

Siapa yang tak kenal Pulau Bali, pulau dewata yang merupakan icon Indonesia di dunia Internasional. Selain terkenal dengan keindahan pantainya, juga kaya akan budaya tradisionalnya. Hal itulah yang memaksa kami, yaitu aku dan teman-temanku semasa kuliah dulu, berpikir keras bagaimana cara untuk mencapai pulau tersebut. Kalau tidak salah sekitar pertengahan 2010, selepas aku diklat lapangan Pecinta Alam di kampus, inget banget dah, hehe..

My Journey! 

bali-map-high (foto’s from www.indonesia-tourism.com)

Dengan team yang sama seperti ke Yogyakarta sebelumnya., kami merencanakan untuk berangkat ke Bali dengan memakai jasa kereta api ekonomi kembali, murah meriah, hehe.. Setelah beberapa persiapan ini itu, nabung, ngebut ngerjain tugas kuliah, kami pun berangkat dari Stasiun Senen dengan menaiki kereta api tujuan Surabaya. Ya, sebelum ke Bali, kota Surabaya menjadi tempat persinggahan kami yang pertama. Perjalanan di kereta api sendiri, apalagi yang namanya kereta api ekonomi, penuh dengan tantangan tersendiri. Mulai dari mencari tempat tidur yang enak, selalu terjaga akibat teriakan penjaja makanan minuman, kemudian selalu awas terhadap resiko kehilangan barang, yang nantinya akan terjadi pada kami, hiks..

Kami tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya, sekitar pukul tujuh pagi. Selanjutnya kami akan naik kereta ekonomi lagi dari Surabaya ke Banyuwangi, namun di siang harinya sehingga ada waktu free sekitar lima jam yang kami habiskan untuk beristirahat di rumah kontrakan temen di Surabaya. Pada waktu itu kami tidak banyak melakukan perjalanan mengelilingi kota Surabaya karena keterbatasan waktu, maybe next time deh..

Perjalanan ke Banyuwangi, ujungnya pulau Jawa, kata temenku memakan waktu sekitar tujuh jam dari Surabaya, sungguh perjalanan yang panjang. Namun asiknya dengan kereta ekonomi, tiap singgah di beberapa stasiun, maka penjaja makanan pun naik ke atas kereta, dan makanan yang dijajakan itu biasanya makanan khas dari daerah itu sendiri, sehingga sekalian wisata kuliner juga, hihi.. Sekitar pukul sepuluh malam, kami tiba di stasiun terakhir, Banyuwangi. Tujuan kami selanjutnya adalah menuju Pelabuhan Ketapang, yang letaknya ternyata tidak terlalu jauh dari stasiun kereta, cukup berjalan selama 10 menit. Kami merencanakan untuk menyeberang ke Bali dengan kapal Feri yang berangkat Subuh keesokan harinya.

Stasiun Banyuwangi baru ketapang01 (foto’s from wardie99.blogspot.com)

Malam itu kami habiskan di sekitar pelabuhan. Muter-muter nyari makan, terus beli tiket kapal yang ternyata mesti beli dini harinya. Sempat ketemu rombongan teman yan ternyata baru dari Bali, wow, kejadian tak terduga. Kemudian kami mencoba mencuri waktu untuk tidur dengan berbekal matras yang kebetulan kubawa dan berbantalkan tas masing-masing. Sekitar pukul tiga pagi, kami sudah bangun kembali dan bergegas untuk membeli tiket. Lama penyeberangan itu sendiri sekitar satu jam, dan setelahnya, Pulau Bali!!

pelabuhan ketapang (foto’s from www.elshinta.com)

Sesampai di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, kami sempat kesulitan saat akan keluar kawasan Pelabuhan karena ada seorang calo tiket yang mengingatkan kami ada pemeriksaan KTP di situ dan menawarkan jasa untuk mengeluarkan kami dari Pelabuhan, waduh, masa sih! Aku jelas tidak percaya, dan kami juga tidak terburu-buru keluar, sempat Subuhan juga dan beli roti buat sarapan. Sewaktu akan keluar dari Pelabuhan, memang terlihat di depan kami banyak orang berdesak-desakan, aku berpikir, “apa ini ya waktu pemeriksaannya?”. Parno juga pada waktu itu. Namun aku mengajak kawan lainnya untuk ikutan menyusup dalam barisan yang keluar tersebut, dan.. Berhasil! Tidak ada sama sekali yang menghentikan langkah kami untuk mulai menjelajah Pulau Bali, hahaha… Sebenarnya sih kami tidak takut akan pemeriksaan KTP tersebut, karena toh kami semua bawa KTP, tapi yang kami khawatirkan adanya hal-hal diluar dugaan, you know lah..

pelabuhan-gilimanuk130311b (foto’s from news.liputan6.com)

Dari luar pelabuhan kami menaiki angkutan semacam elf, dengan tujuan Terminal Ubung. Di sepanjang perjalanan aku terpana melihat banyaknya tradisi budaya dan agama yang dilaksanakan. Beneran deh, pergilah ke tempat-tempat yang belum pernah kau kunjungi, dan temukan hal-hal baru yang akan membuatmu takjub! Perjalanan yang memakan waktu empat jam itu tak terasa bagiku karena selalu takjub melihat pemandangan pagi itu di Pulau Bali.

ubung (foto’s from www.bali-bisnis.com)

Sesampai di Terminal Ubung, kami berencana untuk langsung ke Denpasar. Karena semuanya tuh baru pertama kali kesini, jadinya kami masih meraba-raba jalan. Setelah nego dengan angkot di terminal, disepakatilah ongkos sampai ke Kuta, ya, bukan ke Denpasar lagi, tapi langsung ke Kuta! Berdasarkan rekomendasi teman yang sehari sebelumnya ketemu di Banyuwangi, kami langsung mencari penginapan di Kuta. Penginapan yang mereka rekomendasikan tersebut berada di kawasan Poppies Line.

Memasuki Jalan Legian, Kuta, yahpada tau kan pemandangan apa yang akan kalian jumpai disitu, yap! bule-bule yang berkeliaran di sepanjang jalan, sehingga terlihat seperti bukan berada di Indonesia lagi kawan! Kami segera ke penginapan yang direkomendasikan tersebut, dan beruntung masih tersedia dua kamar kosong. Fasilitas yang ditawarkan oleh penginapan tersebut cukup lumayan juga buat kami, yaitu tempat tidur plus kipas angin, kamar mandi di dalam kamar, dan tersedia breakfast tiap paginya. Lokasinya juga strategis, deket dari Jalan Legian, dan ternyata Jalan Poppies Line tersebut tembusnya ke kawasan pantai Kuta. Kami sangat excited pada waktu itu, aku masih ingat..

26772_1254778485015_1096152716_30585651_2412961_n

Nah, apa yang selanjutnya kami lakukan di Bali, adalah hal yang mungkin semua orang yang sudah ke Bali melakukannya juga, jadi aku akan membahasnya secara singkat, hehe… (janji deh lain waktu akan diceritakan). Dengan berbekal motor yang dirental di penginapan tersebut, brosur wisata di Bali, dan peta pulau Bali, serta om Google, kami pun dengan pedenya mengelilingi Bali. Sebenarnya tidak tepat sih kata mengelilingi, karena pada kenyataaannya perjalanan paling jauhnya waktu itu hanya sampai Tanah Lot, hehe.. Okay, ini dia list perjalanan kami kala itu:

Hari 1 : Pantai Kuta – Pura Uluwatu (tempat menyaksikan sunset yang paling kurekomendasikan)

Hari 2 : Pantai Kuta (lagi) – Tempat sodara temen di dekat daerah Tanah Lot (waktu itu kebetulan hari Jumat, dan kami lama disitu, lupa nama tempatnya) –Tanah Lot (sunset cuy)

Hari 3 : Pantai Sanur (niat cari sunrise, apa daya sempat tersesat, nyampe udah jam tujuh aja) – Pantai Kuta (lagi-lagi)

26772_1254741444089_1096152716_30585608_6076734_n

26772_1254742244109_1096152716_30585612_2596702_n

26772_1254785605193_1096152716_30585680_5354285_n

26772_1254875207433_1096152716_30585943_1322250_n

Memang waktu itu kami lebih banyak menghabiskan waktu di Pantai Kuta dan di sepanjang kawasan Kuta. Apalagi kami memang tidak memiliki rencana muluk-muluk untuk mengelilingi Pulau Bali, disebabkan manajemen perjalanan kami yang kurang dan belum adanya pengalaman. Secara overall, aku belum puas pada waktu itu, dan berencana untuk kesana lagi suatu hari nanti (dan ternyata benar deh kesana lagi).

Di hari ketiga, siang itu juga setelah check out dari penginapan, kami mencari carteran mobil untuk ke Terminal Ubung lagi. Kami berencana kembali ke Pulau Jawa dengan cara yang sama sewaktu kami pergi. Dari Terminal Ubung kami menaiki bis besar dan sampai di Pelabuhan Gilimanuk pada malam harinya. Menyeberang pada dini harinya, dan sejam kemudian sudah tiba kembali di Pelabuhan Ketapang, yang artinya kami telah kembali ke tanah Jawa.

Sesampai di stasiun Banyuwangi, kami terpisah menjadi dua, ada seorang teman yang melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dimana temannya telah menunggunya disana, dan empat orang termasuk aku memutuskan untuk berangkat ke Malang. Yap, kota Malang, kota yang terkenal dengan apelnya dan klub sepakbola Arema Malang. Sebelum kami kembali ke Jakarta lagi, kami singgah dulu di Solo dan Malang, karena waktu liburan kami masih ada (nantinya aku ceritakan di lain kesempatan, dan alasan kenapa foto di perjalanan kali ini begitu sedikit).

Yang pasti, pengalaman yang kudapat di perjalanan kali ini begitu berkesan, karena merupakan perjalanan yang serba mendadak dan buta sama sekali lokasi yang dituju, sangat berkesan sekali perjalanan pergi dan pulangnya. Kalo ke Yogyakarta sebelumnya, kami merasa cukup tenang karena ada teman disana, kalo ini? kami meraba-raba jalan! Ada sekitar sepuluh hari juga kami habiskan di perjalanan kali ini, dari Jakarta dan kembali lagi ke Jakarta.

Akhirnya, sampai jumpa di lain kesempatan. Teruslah berpetualang kawan, dan cobalah keluar dari zona nyaman kalian sekarang untuk pergi ke tempat yang selama ini hanya bisa kalian impikan dan kalian bayangkan saja, karena alasan waktu dan duit kalian tidak melakukan perjalanan tersebut. Salam! 🙂

Padang Sidempuan, 30 Januari 2014

Best Regards,

Andha-

Patuan Handaka Pulungan, 897/SPA/2010