Catatan Perjalanan: Carstensz Pyramid

Ekspedisi Saptanusa, Ekspedisi Seven Summits Indonesia. Kalimat tersebut yang selalu memotivasiku selama setahun terakhir. Mimpi untuk mencapai puncak-puncak tertinggi di Indonesia seakan-akan jalannya hadir di depanku. Dan kisahku di ekspedisi ini dimulai ketika aku ikut seleksi atletnya. Namun, kisah yang akan kuceritakan kali ini bukan tentang detail seluruh ekspedisinya. Mungkin hanya secara umum, namun khususnya akan aku fokuskan di gunung terakhir dalam rangkaian ekspedisi ini. Ya, Carstensz Pyramid, the highest place in Indonesia. Mungkin akan terasa cukup panjang, namun aku ingin mengabadikan momen tersebut di tulisan ini. Jadi, selamat menikmati kisah ini….

jalur-pendakian-empat-puncak-pegunungan-tengah-papua

(taken from https://jurnalbumi.wordpress.com/2015/09/04/menjejak-sendiri-puncak-jaya-dan-soemantri/)

DSCF0129

(puncak Carstensz Pyramid yang menjulang dengan indah, view dari Yellow Valley)

Satu tahun yang lalu…

   Ketika ekspedisi ini digaungkan ke publik, aku serta merta ingin ikut serta mendukungnya, entah bagaimana caranya. Mulailah masuk kepanitiaan. Dan ketika seleksi atlet dibuka untuk anggota STAPALA, aku pun berniat masuk. Walaupun pada awalnya, keder, mengingat fisik yang tentu kalah jauh dengan anggota yang lebih muda dan rutin olahraga. Namun, begitulah setiap cerita, selalu ada permulaan. Dan permulaanku pada cerita ini adalah mengikuti seleksi.

Periode seleksi dan latihan….

          Periodedisasi latihan yang ketat hampir membuatku menyerah. Aku yang disibukkan dengan kegiatan kampus dan kegiatan lainnya dibuat kewalahan dengan jadwal. Namun, walaupun terkadang bolos, namun aku tetap fokus pada tujuanku. Ikut serta dalam ekspedisi ini. Bagaimana hasilnya besok, yasudahlah, aku sudah berusaha.

Agustus-September 2015….

            Periode ini sangat menentukan, dan ternyata, aku termasuk dalam lima orang atlet yang akan berangkat! Senang dan tegang bercampur aduk. Melihat jadwal perjalanan yang padat, mampukah aku? Jadwalnya memang baru enam gunung, karena satu lagi masih dalam proses pengurusan izin yang sangat melelahkan. aku turut menyaksikan prosesnya yang sangat panjang. diterima dan ditolak dalam perizinan menjadi hal yang lumrah. Yang pada akhirnya pada periode ini, pendakiannya hanya di enam gunung dahulu.

            Walaupun sudah terpilih jadi atlet, tetap saja rasa tak percaya diri muncul. Bisakah aku melewati proses ini? Dan semuanya mengalir begitu saja. Dimulai dari proses karantina atlet di Posko, hingga latihan bersama-sama setiap harinya. Aku percaya, atlet lainnya mampu untuk melakukan tanggung jawab ini. Ya, benar, tanggung jawab. Kepada mereka yang telah memberikan harapan dan impiannya kepada kami, para atlet, untuk mencapai tujuh puncak tertinggi di Indonesia.

            Pada akhirnya, enam gunung berhasil kami selesaikan dengan baik dan selamat. Dimulai di Gunung Kerinci di Jambi, dan disudahi di Gunung Semeru di Malang. Periode pertama pendakian selesai sudah. Cerita di enam gunung ini telah dikisahkan di tulisan lainnya. Dan saatnya kami menanti pendakian tahap kedua, gunung terakhir sekaligus tersulit. Carstensz Pyramid….puncak tertinggi di Indonesia, salah satu tujuh puncak tertinggi di dunia.

Pasca ekspedisi tahap pertama…

            Di periode ini, kami terbuai dengan aktivitas kampus dan lainnya. Aku juga sempat mengikuti kegiatan lain yang menyita waktu dan pikiran. Sehingga terdapat jeda yang membuat ekspedisi ini tidak tersentuh sama sekali. Bahkan aku juga sempat berpikiran negatif, apakah ekspedisi ini tidak berlanjut? Sungguh naif sekali….

        Namun, dibalik seluruh kegiatan yang menyita waktu anak-anak Posko, tetap ada satu orang yang selalu memikirkan bagaimana agar ekspedisi ini selesai. Elang namanya, sang manager dalam kegiatan ini. Dan ternyata beberapa orang juga masih tetap memperjuangkan agar ekspedisi tetap berjalan. Namun, perjalanannya terjal dan tidak selalu mulus. Benar-benar perjuangan.

Sebelum ekspedisi tahap kedua dimulai….

            2016! Tahun penuh harapan. Di awal bulan kedua, seolah mendapat angin segar, ada operator yang bersedia membawa kami kesana. Namun, menumpang dengan private trip orang luar. Tentu saja kami menampung asa tersebut, sembari terus menanti kabar dari beberapa operator lainnya yang telah dihubungi terlebih dahulu. Biaya kesana amatlah mahal, dimana kas ekspedisi tidaklah terlalu besar. Hal ini membuat sang manager berpikir cermat untuk mengatasi masalah tersebut. Pada awal tahun juga, dana usaha telah bergerak kembali mencari dana untuk menambah kas ekspedisi yang menipis setelah ekspedisi tahap pertama walaupun hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Namun yang membuat aku salut, ternyata anggota-anggota Stapala lainnya berbondong-bondong memberi bantuan kepada ekspedisi, dan akhirnya tercukupilah dana untuk memberangkatkan atlet ke puncak tertinggi Indonesia ini. Alhamdulilah…

Beginning….

DSCF0012

            Hari itu tanggal 29 Februari. Aku masih ingat. Kami melakukan persiapan untuk berangkat. Kepastian telah diterima seminggu sebelum tanggal tersebut. Dan pada akhirnya, terpilihlah dua orang atlet yang akan berangkat. Dan aku salah satunya, aku tak menyangka awalnya. Kepastian berangkat didapat setelah kopi darat dengan sang operator di bilangan Sabang, Jakarta Pusat. Dan nego harga telah dicapai. Sang operator yang bernama Franki Kowas, berkata “Oke, sampai bertemu di Nabire, yah!”. Deg-degan tidak terkira ketika ditunjukkan video yang tersimpan di smartphone beliau. Video tentang perjalanan di Carstensz Pyramid.

            Sekilas mengenai Pak Franky, beliau berasal dari Manado. Dan ternyata sangat aktif di dunia outdoor. Beliau telah mengalami asam garam menjadi operator khusus pendakian Carstensz. Telah beroperasi hampir selama enam belas tahun lamanya. Dan telah menjajal hampir seluruh rute yang available untuk menuju Carstensz. Sugapa, Ilaga, Tembaga Pura, bahkan ternyata hampir berhasil membuka rute sendiri melalui Singa.

            Dua hari sebelum keberangkatan, praktis aku belajar banyak tentang teknik pendakian Carstensz, yang konon katanya terkenal sebagai gunung yang mempunyai akses dan jalur tersulit untuk menuju puncaknya. Jumaring, dan lainnya menjadi sesuatu yang wajib aku kuasai. Untungnya aku punya basic teknik rock climbing dulunya, sehingga tidak terlalu terkejut ketika melihat video-video pendakian puncak Carstensznya.

            Namun, jujur saja aku katakan, disamping perasaan senang karena akhirnya bisa menggapai mimpi pribadi untuk mencapai puncak tertinggi di Indonesia, ada perasaan tegang dan takut. Takut tidak mampu untuk kembali dengan selamat ke rumah. Takut tidak mampu mengatasi rintangan jalur pendakian yang terlihat amat sulit ketika mendengar cerita-cerita dan melihat video dokumentasi orang-orang yang telah berada di sana sebelumnya. Perasaaan itu terus hinggap hingga pada pada saat keberangkatan.

DSCF0018

            Kami berangkat dari Bandara Cengkareng di malam hari, setelah sebelumnya dilepas dengan meriah oleh anak-anak posko. Sempat transit di Makassar dan Jayapura, akhirnya tiba di Nabire pagi hari menjelang siang. Aku menghubungi Romi, guide kami disana. “Halo bg Romi, ini Patuan, tim STAPALA. Kami telah tiba di bandara,” ujarku saat menelepon bg Romi. Dan tidak sampai setengah jam, kami telah berada di mobil bersama Romi dan Loren. Mereka berdua adalah guide dari tim Manado Adventure, operator milik Pak Franky.

            Kami dibawa ke basecamp milik mereka, dan istirahat sepuasnya. Sorenya ketemu dengan Pak Franky, dan kami diajak makan. Oh ya, kami disini adalah aku sendiri, dan Turus. Kami berdua lah yang mewakili STAPALA untuk mendaki pada ekspedisi ke Carstensz ini. Oh ya, malam itu kami ketemu dengan anggota tim lainnya. Mereka adalah Russel Brice, Chris, Collin, dan Maria. Usut punya usut, ternyata mereka para pendaki profesional. Beruntung sekali rasanya kami. Kami mendengarkan mereka bercerita. Khususnya Brice, yang aku tanya mengenai beberapa hal tentang kegiatan pendakian yang dia lakukan. Aku sebelumnya sudah mencari-cari informasi tentang Brice, yang ternyata merupakan sosok yang luar biasa.

            Oke, untuk selanjutnya akan aku ceritakan di bawah, karena tidak elok digabungkan dengan Subtopik Beginning, karena esoknya kita sudah terbang dengan helicopter ke Lembah Kuning.

2 Maret 2016….

            Pagi itu kami sudah di bandara. Direncanakan akan terbang, namun sempat ketar-ketir akibat cuaca yang tidak bersahabat. Perlahan-lahan matahari mulai menampakkan sinarnya. Awan gelap yang menyelimuti langit nabire berangsur hilang. Akhirnya sekitar pukul delapan pagi, kami pun take off. Untuk ke Lembah Kuning, yang merupakan titik pertama pendakian kami ini, harus terbang ke Kota Enarotoli dulu. Oh ya, alat transportasi kami adalah helicopter. Pantas trip ini mahal harganya. Sejam aja sewa heli bisa sekitar USD 5,000. Wuih….

DSCF0056

(suasana ketika loading barang di bandara dan sesaat sebelum lepas landas menuju Enarotali)

DSCF0058

            Sejam sesudahnya, kami turun di Bandar Udara perintis di Enarotoli. Ternyata untuk ke Lembah kuning dari situ, butuh waktu sekitar setengah jam lagi dengan helicopter. Kami dibagi menjadi dua tim untuk diterbangkan secara bergantian, karena sang heli memiliki beban maksimal agar dapat terbang ke lembah kuning. Kami berjumlah delapan orang, dimana dua orang lainnya adalah Romi dan Loren. Posisi kami, aku dan Turus, adalah pendaki yang menyusup di trip private Russel Brice. Sehingga kami pun ditempatkan posisinya menjadi junior staf, ceritanya lagi magang di Operator Manado Adventure. Sehingga untuk selanjutnya, kami bukan berperan sebagai tamu di pendakian ini, namun sebagai asisten guide.

DSCF0077

DSCF0099

DSCF0075

          Giliran pertama yang terbang tentu saja Romi, Loren, dan dua orang tamu, yaitu Collin dan Maria. Aku sendiri di giliran berikutnya, karena dapat tugas nyari bensin di sekitar bandara, karena bensin yang jadi bahan bakar untuk masak di atas yang dibawa kurang. Kami sendiri menyusupkan bensin tersebut karena di bandara kalau ketauan tentu saja akan ditahan. Padahal itu sesuatu yang dibutuhkan ketika di camp, mengingat tidak mungkin masak pake kayu bakar. Gas dan parafin? Tidak ada dalam plan para guide.

            Keluar dari bandara sembari menunggu heli menjemput, aku menyusuri jalan yang becek minta ampun. Babi berkeliaran dimana-mana, aku bahkan harus menghindar sesering mungkin. Setelah berjalan seratusan meter, bensin pun didapat, dan aku sekalian beli paramex, obat sakit kepala. Kata Pak Franky, penting dibawa, karena akan sangat penting. Kenapa penting? Karena memang penting, hehe…nanti akan dijelaskan.

            Selanjutnya kami pun terbang. Itu merupakan pengalaman pertamaku naik helicopter, dan aku berusaha tetap cool dan tidak sampai selfie selama perjalanan. Namun aku khilaf di awal, karena berfoto dengan latar belakang si heli, hehe…Tidak lama saja, kami sudah memasuki kawasan Freeport, untuk selanjutnya aku singkat PTFI. Terlihat Grassberg Hole, yang sangat terkenal itu. Aku sempat-sempatnya mengabadikan perjalanan itu. Dan setelah melewatinya, lembah kuning pun terlihat. Dan tentu saja, puncak Carstensz Pyramid.

DSCF0112

(suasana camp, yang letaknya persis dibawah tebing Carstensz)

            Untuk gambaran, letak Lembah Kuning berada di atas Lembah Danau-danau, dengan ketinggian di atas 4,100 mdpl. Bayangkan betapa berbahayanya perjalanan ini. Dimulai dengan terbang memakai helicopter yang menyusup di antara pegunungan, hingga proses adaptasi tubuh yang terbang dari hampir 0 mdpl (Nabire berada di pinggir laut) ke atas 4,100 mdpl. Berikut aku sadur dari beberapa sumber:

“Perubahan fisiologis tubuh yang terjadi selama berada di dataran tinggi merupakan bentuk kompensasi tubuh untuk beradaptasi dengan keadaan yang tidak biasa. Mekanisme itu dapat berupa hiperventilasi (bernapas cepat, lebih dalam, atau keduanya) sebagai upaya untuk mendapatkan oksigen lebih banyak dan pengeluaran karbondioksida. Kalau pada kondisi normal hiperventilasi terjadi pada saat kita beraktivitas (misalnya saat berolahraga), maka pada high altitude hiperventilasi terjadi walaupun dalam keadaan istirahat. Hiperventilasi “memaksa” ginjal untuk menyesuaikan diri dengan cara meningkatkan pengeluaran bikarbonat melalui urin dan hal ini mengikut sertakan cairan. Akibatnya, volume buang air kecil semakin banyak (diuresis). Selain itu, level oksigen yang rendah merangsang ginjal untuk memproduksi Erithropoietin, dan selanjutnya merangsang sumsum tulang menghasilkan lebih banyak sel darah merah (polisitemia). Akan tetapi, keadaan ini justru kurang menguntungkan bagi tubuh karena peningkatan jumlah sel-sel darah merah menyebabkan darah menjadi kental (viskositas meningkat). Hal ini menimbulkan aliran darah di dalam pembuluh darah menjadi lambat, sehingga mempermudah terjadinya penyumbatan pembuluh darah (trombosis).”

            Tubuh kita punya kemampuan untuk beradaptasi terhadap ketinggian, bisa menyesuaikan diri terhadap “ketersediaan” oksigen yang rendah, yang biasa dinamakan Aklimatisasi. Kalau kita berjalan dari Sugapa/Ilaga, tentunya tubuh kita secara perlahan beraklimatisasi dengan perubahan ketinggian. Namun kalau naik heli, tentunya tubuh akan terkejut dengan perbedaan ketinggian tersebut. Nah disitulah salah satu tantangannya. Dan paramex sangat berguna di kondisi tersebut, karena salah satu alternatif yang bisa menekan sakit kepala yang menyerang. Pada akhirnya, sepanjang kami di gunung, sakit kepala menyerangku dengan hebat, apalagi kalau malam tiba. Baru reda ketika sudah turun. Luar biasa.

            Tiba di lembah kuning, kami segera membantu Romi dan Loren mendirikan tenda dan lainnya. Dan aku salut sama Brice, dkk. Mereka tidak segan ikut membantu, dan tidak merasa keberatan untuk melakukannya, bahkan menawarkan diri. Hari itu aku mendapat job pertama, yaitu mengambil air di danau yang ada di lembah tersebut, yang selanjutnya akan menjadi tugas rutin buatku selama disana. Lumayan juga buat olahraga. Koki dalam pendakian ini adalah Romi, yang dengan luar biasa mengolah semua bahan makanan dengan rata, dan lebih mengejutkan lagi, masakannya enak. Namun, tidak buatku, karena tubuhku sejak diserang sakit kepala, malas buat menelan nasi. Aku tidak menyentuhnya sama sekali, dan hanya makan lauknya saja terkadang. Lebih seringnya makan biskuit dan minum hangat saja yang kuperbanyak.

DSCF0109

(lembah kuning, di ujung lembah sanalah terdapat Grassberg Hole PTFI, sebelah kiri inilah tebing Carstensz)

            Oh ya, melanjutkan deskripsi letak lembah kuning. Berada setelah berjalan selama dua jam dari Lembah Danau-danau menuju puncak. Dan titik pendakian puncak berada di lembah kuning ini. Puncak sudah sangat dekat terlihat. “hanya” sekitar 800 mdpl saja. Dan itu tentu tidak mudah, karena dari titik pendakian puncak adalah tebing hingga ke atas. Memakai tali dan alat memanjat adalah keharusan untuk safety. Dari sini ke Grassberg hole milik Freeport terlihat sangat dekat.

DSCF0110

(lembah kuning)

3 Maret 2016….

            Hari ini kami masih melanjutkan proses aklimatisasi. Aku yang sejak pagi sudah bangun, berolahraga kecil di samping tenda. Disini dingin sekali, suhunya entahlah di titik berapa derajat. Jaket tidak pernah lepas dari tubuhku, dan pakaianku tiga lapis. Pagi itu aku mencoba berjalan ke arah titik pendakian. Mengamati ketinggian, dan merasa keder. Tebingnya hampir-hampir vertikal terus sampai titik summit ridge.

            Pulang ke tenda, orang-orang tidak ada. Ternyata mereka pergi berjalan ke arah lembah danau-danau. Hanya Romi yang tinggal di tenda. Sebenarnya tidak dijaga juga tidak masalah. Karena hanya kami yang berada disana. Tidak ada pendaki lain. Pendaki lain baru tiba sewaktu kami akan turun nantinya. Aku pun beranjak menyusul kesana. Sempat-sempatnya bikin video sepanjang jalan, aku menikmati pemandangan yang sangat indah di lembah tersebut. Cuaca pagi itu cerah. Dan kebiasaan cuaca di lembah ini adalah, dari pagi hingga pukul sepuluh biasanya cerah berawan, namun selanjutnya akan hujan hingga malam tiba. Terkadang memang hujan berhenti, dan matahari mengintip malu-malu dari balik awan, namun segera saja awan hitam menyelimuti langit lagi biasanya.

DSCF0134

            Hampir sejam berjalan, tiba di punggungan dan bertemu Loren dan Turus yang sedang berjalan pulang. Aku telah tiba di puncak punggungan ke lembah danau-danau. Di depanku menjulang indah puncak Jayawijaya, puncak salju abadi di Indonesia. Dan memang saljunya ada, menghiasi pucuk-pucuknya. Di sebelah kananku puncak Carstensz Timur. Sungguh indah panoramanya, seandainya bisa kudeskripsikan dengan lengkap. Aku tidak lama-lama disana, setelah mengambil foto secukupnya dan beristirahat, aku berjalan pulang ke Camp.

DSCF0150

(lembah danau-danau)

DSCF0156

(puncak Jaya Wijaya)

            Selanjutnya seharian itu kami hanya beraktifitas di sekitar tenda saja. Kalau kata Brice, aktifitasnya adalah Eating, Sitting, Sleeping, ada-ada saja.. aku ingin menambahkan kosa katanya dengan toiletting, namun rasanya kok tidak elok. Sehingga hanya sangkut di tenggorokan saja. Terkadang kami memang bercakap-cakap dengan Brice, dkk. Terutama dengan Brice sendiri yang aku belajar beberapa hal darinya selama pendakian ini. Berbincang dengan Maria juga sangat menyenangkan. Namun kalian akan kecewa sebagaimana aku juga, karena Maria berusia empat puluhan.

            Aktifitas kami bersama-sama biasanya ketika makan, karena kami yang menjadi junior staf tentu saja yang bertugas menyuci piring, menghidang, dan hal kecil lainnya. Loren akan berbincang dengan tamu, dan Romi hanya sesekali menimpali karena main jobnya adalah memasak. Namun, menyenangkan rasanya mendapat banyak ilmu baik dari Romi dan Loren, juga dari Brice,dkk. Ada beberapa quote dari Brice yang aku ingat sekali, aku bagikan deh di akhir tulisan ini.

            Brice merupakan pemilik operator Himex, operator terkemuka yang membawa tamu untuk mendaki puncak-puncak gunung di Himalaya, seperti Everest, K2, dan ke gunung lainnya. Namun, sebagai orang yang sudah beberapa kali seven summit dunia, dan memiliki segudang pengalaman pastinya, Dia tidak terlihat sombong dan tinggi hati. Bahkan sangat rendah hati. Ketika aku berbincang kepadanya dengan mengatakan aku mengaguminya dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, tebak apa yang dia bilang. Brice hanya berujar, “Look at me, im just an old man right now”. Dan Dia juga bilang nanti ketika naik ke Carstensz jangan cepat-cepat karena Dia akan berjalan dengan sangat perlahan. Dan nantinya itu tidak terbukti, karena mereka nantinya hanya membutuhkan lima jam saja untuk naik turun Carstensz….

            Oh ya, satu hal yang sangat menarik yang Brice lakukan setiap hari selama kami disana mulai dari hari pertama adalah membersihkan area di sekitar Camp dari sampah yang bertebaran dimana-mana. Awalnya sih aku hanya melihat-lihat saja. Sangat malas rasanya buatku berpartisipasi karena kondisi cuaca yang dingin, yang membuat badan malas bergerak. Namun, aku tergerak dengan aksi yang dilakukan Brice. Lama-kelamaan seluruh anggota tim ikut membantu Brice. Dan dalam kurun waktu sekitar enam hari di atas, area Camp Lembah Kuning sudah cukup bersih dari sampah yang bertebaran.

DSCF0123

4 Maret 2016….

            “Sial, aku ga bisa tidur lagi malam ini!,” begitu gumamku di dini hari itu. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, yang artinya sejam lagi kami sudah harus bangun karena akan summit. Yap, sehari sebelumnya tim memutuskan untuk summit tanggal empat pagi apabila cuaca mendukung. Dan ternyata sejam tadi malam gerimis tidak mau berhenti. Aku melangkah keluar dan melihat langit gelap sekali.

            Memang sakit kepala telah menyerangku dengan hebat sejak malam pertama, dan sedikit mereda kalau siang. Namun kalau malam, membuatku tidak bisa tidur sama sekali. Walaupun sudah mencoba banyak gaya tidur, tetap aja mata itu tidak mau terpejam. Selama di lembah kuning, sudah banyak obat kimia yang kutelan dengan rakus. Demi menghilangkan sakit tersebut. Sepertinya aku memang kena penyakit ketinggian itu.

            Bahkan Pak Franky cerita, dulu beberapa tamunya ada yang sampai pingsan, mimisan, dan tidak bisa mendaki sama sekali begitu tiba di Lembah Kuning. Akibat dari tidak tahan terhadap perubahan ketinggian yang terjadi secara tiba-tiba. Seram juga ternyata.

            Pukul tiga aku sudah mendengar di luar kasak kusuk. Sepertinya Brice, dkk sudah keluar dari tenda. Dan benar saja, Brice memanggil kami dari luar. Aku segera membangunkan Romi. Dalam sekejab, kami sudah di tenda dapur. Dan Romi mulai memasak. Brice bertanya bagaimana kelanjutan summit pagi tersebut. Dan demi melihat cuaca, Loren berujar akan menunggu cuaca membaik hingga pukul setengah lima pagi. Demi mendengar itu, aku izin ke tenda untuk tidur-tidur barang setengah jam.

            Pukul tengah empat, aku bersiap di dalam tenda. Memasang hardness, menyiapkan prusik di karabiner dan jumar. Dan mengaturnya demi memprediksi mana yang akan dipakai di pendakian ini. Total aku membawa lima karabiner, satu jumar, enam buah prusik, satu helm, dan satu figure of eight. Prediksiku, figure of eight akan berguna ketika turun nanti. Sementara aku sedang bersiap-siap di tenda. Di luar Romi sudah memanggil-manggil. Eh ternyata mereka akan berangkat tanpa menunggu pukul setengah lima. Wah sial, aku bahkan belum minum air sedikitpun dan sarapan apapun. Turus kemudian masuk tenda untuk persiapan juga. Karena aku sudah bersiap, aku keluar tenda. Dan demi melihat mereka sudah akan jalan, aku pun panik. Memang cuaca sudah agak membaik, dengan gerimis sudah berhenti turun. Romi dan Loren pun agak kerepotan karena tiba-tiba berjalan. Bahkan tidak ada briefing dan doa bersama.

            Di luar, aku masuk ke dapur tenda, dan menyambar tiga roti untuk dimasukkan ke dalam jaket. Syukurnya kami sudah mempersiapkan barang yang akan dibawa dalam satu daypack malam sebelumnya. Namun, ternyata Turus belum juga keluar dari tenda ketika Brice, dkk sudah berjalan. Romi memanggil-manggil sembari ikut berjalan. Aku pun dengan tergesa-gesa memanggil Turus, yang ternyata belum siap. Sembari berjalan aku melihat terus ke tenda. Dan Turus pun akhirnya keluar tenda dan mulai berjalan.

            Aku tiba di titik pendakian tebing, dan Turus belum juga sampai. Brice,dkk sudah mulai naik. Sembari menunggu, aku melepas celana jaket. Ternyata sangat mengganggu walaupun melindungi dari dingin. Duh, barangku rasanya berat sekali. Sepertinya aku terlalu membawa banyak barang. Isi tasku padahal cuma satu jaket cadangan, satu celana jaket, satu raincoat, beberapa makanan ringan, air minum 500 ml, dan survival kit. Loren agak sedikit panik, dengan mengatakan kami harus cepat berjalan. Aku memaksa Loren menunggu karena Turus belum tiba di titik pendakian.

            Lima menit berlalu, kami pun mulai mendaki. Sialnya, ternyata hardnessnya aku pasang dengan posisi tidak baik, akibat terburu-buru memakai kembali setelah melepas celana jaket. Namun untungnya tidak terlalu mengganggu, karena untuk membenarkannya tidak ada waktu lagi. Formasi tim untuk memanjat telah kami bicarakan malam sebelumnya. Romi yang paling berpengalaman berada di depan untuk memimpin, sekaligus memeriksa tali yang akan dipakai. Sudah cukup banyak tali yang bergantung di tebing Carstensz, menandakan sudah cukup banyak pendaki yang ikut membuat jalur pendakian di tebing tersebut. Romi memiliki pengalaman mendaki dari tahun 2000an, dan sedikitnya telah mendaki hingga ke puncak Carstensz sebanyak tujuh puluh kali. Loren baru bergabung dengan operator di tahun 2013. Setelah Romi, baru empat orang tamu, lalu Loren, disusul Turus, dan sebagai sweeper aku berada di belakang. Sepertinya Romi percaya akan kemampuan kami untuk memakai alat dan memanjat tebing. Padahal, sejujurnya, aku jarang manjat tebing sejak penempatan kerja tahun 2011. Mulai latihan memanjat lagi pun satu tahun terakhir, namun itu juga sangat sedikit.. Setidaknya seminggu terakhir, kami membiasakan diri dengan alat-alat yang kami bawa, sehingga memudahkan untuk memanjat. Juga tiga hari terakhir sebelum berangkat kemarin, kami intensif latihan memanjat di dinding panjat sembari latihan ascending dan descending memakai jumar dan figure of eight.

            Dan ternyata, jumar lah alat yang sangat berharga dalam pendakian ini. Tebing yang didaki ternyata benar-benar cukup vertikal. Seperti gambaran kami sewaktu menonton video-video pendakian Carstensz. Teknik Ascending yang kami lakukan, memakai satu jumar saja di tangan kanan. Terkadang, tangan kananku bergantung di jumar kanan, sementara anggota tubuh lainnya memanjat. Terkadang juga, jumar hanya dinaikkan saja, dan memanjat pakai dua buah tangan. Namun tidak jarang, hanya bergantung semata pada jumar, karena tidak ada celah tebing yang bisa dijadikan pegangan untuk merangkak naik. Tali-tali yang bergelantungan di tebing, ada yang sudah lapuk dan ada yang masih cukup baru. Tetap saja karena basah, membuatnya hampir tidak bisa dibedakan mana yang masih bagus. Jadi memang terkadang ada faktor untung-untungan sembari berharap bahwa tali yang dijadikan alat untuk naik masih bagus. Resikonya sangat tinggi sekali.

            Tebing Carstensz sendiri ada beberapa titik untuk menuju puncak. Teras 1, 2, dan 3, kemudian Teras Besar, lalu Summit Ridge. Selanjutnya jalur tyrolean yang panjangnya sekitar 20an meter. Lalu ada tyrolean kecil sebanyak 2 buah, dengan panjang sekitar 5-10 meter. Setelah itu, baru puncak Carstensz. Pendakian ke puncak dari lembah kuning biasanya memakan waktu delapan jam pulang pergi, dan itu kondisi normalnya.

            Balik lagi ke pendakian pagi itu, Turus sedikit kewalahan dalam naik. Loren yang beberapa kali menunggu, akhirnya tidak bisa menunggu lagi, dan meninggalkan kami karena mesti mengejar Brice, dkk. Main job mereka berdua, Romi dan Loren, memang adalah jadi guide buat para tamu private. Jadi, mereka percaya kami mampu ditinggal sendiri karena basic kami yang merupakan pencinta alam, dan sudah memiliki experience naik gunung dan panjat tebing. Sewaktu naik, aku awalnya berada di belakang, namun karena merasa terlalu lama, akhirnya mendahului Turus. Tujuannya agar aku saja yang mencari jalur naik. Karena sebelumnya Loren-lah yang memandu.

DSCF0162

            Pagi mulai menjelang, dan aku yakin sudah tiba di Teras 1. Jarak kami dengan Loren sudah cukup jauh. Setelah mengambil beberapa foto, aku melanjutkan pendakian. Seluruh pendakian tersebut menggunakan tali untuk tiba di Puncak. Beberapa kali aku menunggu Turus, dan kemudian akhirnya kami tiba di Teras Besar. Disebut Teras Besar, karena disini area terbukanya cukup luas walaupun miring. Aku sempat meninggalkan barang-barang seperti jaket dan raincoat karena merasa terlalu berat untuk dibawa melanjutkan pendakian. Aku masukkan di plastik warna merah agar mudah dicari kembali nantinya dan meletakkannya di cerukan batu. Kemudian mulai memakan roti dan menenggak air. Turus pun tiba juga di Teras Besar.

DSCF0157

DSCF0160

DSCF0155

DSCF0158

            Selanjutnya setelah Teras Besar, membentang tebing vertikal yang kemiringannya 90 derajat. Ketinggiannya cukup lumayan juga. Aku tidak tahu pasti. Aku pun mulai memanjat lagi. Dan ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan karena ada beberapa cerukan batu yang bisa dijadikan pegangan. Bahkan aku sempat merekamnya dengan Gopro yang aku bawa. Sesampai di Summit Ridge, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, yang artinya sudah hampir empat jam dari tenda. Dikejauhan aku mendengar suara Brice, dkk. Wah, mereka ternyata sudah turun. Aku memanggil-manggil Turus agar bergegas. Sembari menyemangati Turus, aku menanti Romi dan lainnya tiba di Summit Ridge. Dan setengah jam kemudian benar saja, Romi disusul empat orang lainnya tiba. Begitu melihat aku, Romi berkata agar aku bergegas sebelum cuaca semakin memburuk. Aku pun berkata aku sedang menunggu Turus. Kemudian aku bertanya-tanya, apa yang harus aku perhatikan sewaktu turun nantinya. Dan Romi mengatakan bahwa cukup pake figure of eight atau karabiner untuk alat safety ketika turun nanti.

            Brice, dkk menyemangatiku ketika melihatku. Karena jalur di tebing vertikal hanya satu, aku tahu mereka akan menunggu Turus dulu untuk naik. Aku segera berjalan kembali karena Romi mengatakan di Tyrolean, Loren sudah menungguku. Tidak jauh untuk sampai Tyrolean, hanya lima belas menit saja sepertinya. Disitu, Loren mengajariku cara menyeberang Tyrolean. Aku memasang carabiner di kedua sisi jembatan. Oh ya, jembatan tyrolean pertama ini merupakan jembatan yang dipersembahkan tim Trans TV setahun lalu. Terbuat dari satu tambang baja sebagai pijakan, dan dua tambang di sisinya. Sebelumnya untuk menyeberang tyrolean tersebut mesti memakaia Pule atau karabiner dan menyeberang memakai kekuatan lengan. Jembatan tersebut memudahkan pendaki berikutnya untuk menyeberangi tyrolean yang dibawahnya terbentang jurang yang sangat dalam. Kalau menyeberang sambil melihat ke bawah, seram loh. Dari titik pendakian tebing hingga ke tyrolean yang diuji adalah fisik, nah kalau di tyrolean yang diuji adalah mental.

            Setelah sukses menyeberang, aku berkata pada Loren, “Bg, Turus sepertinya agak kesusahan, coba abang tanyakan dulu, apakah dia masih bisa terus. Kalau tidak bisa, tolong abang temanin untuk pulang. Tapi kalau dia bisa, aku temanin dia ke atas.” Loren mengiyakan. Lima belas menit kemudian Turus pun muncul dan mulai menyeberang. Dan ketika Loren bertanya pada Turus, ternyata Turus masih memiliki tekad untuk sampai ke puncak.

DSCF0165

            Loren pun meninggalkan kami, setelah sebelumnya menjelaskan jalur ke atas yang masih harus melalui dua buah tyrolean yang walaupun tidak terlalu panjang, namun berbahaya apabila tidak hati-hati. Loren tidak mungkin mengantar kami, karena dia juga mesti mengejar Brice, dkk. Yasudah, dengan penuh semangat yang sempat hampir putus, kami pun melanjutkan perjalanan. Dan benar saja, ada dua buah tyrolean yang patahan tebingnya cukup berjauhan, dan tentunya tidak ada jembatan dari tambang besi lagi. Yang ada hanya beberapa tali tambang saja, dan itupun kondisinya tidak terlalu bagus. Aku menyangkutkan karabiner di semua tali yang ada, dan mulai menyeberang dengan melompati tebing. It took so much effot to do that. Dan lebih buruk buat Turus karena dengan kondisi fisiknya, agak susah untuk menggapai tebing berikutnya. Setelah usaha yang berat, Turus bahkan sempat jatuh ketika turun dari tebing, walaupun akhirnya bisa sampai juga di tebing seberang.

DSCF0179

            Setelah berjalan, memanjat, jumaring, dan memakai karabiner untuk safety sesering yang tak kami bayangkan, akhirnya puncak terlihat. Ada tiga puncak gunung yang mesti dilewati dari Summit ridge sebelum tiba di puncak tertinggi. Aku yang awalnya semangat untuk segera ke puncak, demi melihat Turus yang masih memanjat di bawah sana, akhirnya menundanya. Dan bertekad untuk menuju puncak bersama-sama sebagai sebuah Tim. Dan setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Turus tiba di tempatku menunggu. Dan kemudian kami memanjat lagi, dan akhirnya, Puncak Carstensz Pyramid terpampang di depan mata, ditandai adanya lempengan besi penanda puncak yang sering kami lihat di video-video. Alhamdulilah, kami berhasil menggapai puncak tertinggi di Indonesia, sekaligus puncak ketujuh dari seven summit Indonesia yang kami lakukan. Kami membawa nama STAPALA dan kampus PKN STAN ke puncak-puncak tersebut. Dan kami berhasil.

DSCF0170

DSCF0173

            Kami tiba di puncak setelah mendaki sekitar enam jam. Hmm, walaupun lama, kami berdua berhasil sampai di puncak. Dan, ketika di puncak, kami hanya sebentar saja, mengingat cuaca yang semakin gelap, bahkan hujan es sudah mulai turun satu-satu. Kami tidak berfoto banyak, dan mulai bergegas turun. Sejujurnya aku tidak bisa membayangkan bagaimana cara turun dari tebing ini. Mengingat ketika naik, banyak jalur yang vertikal. Kalau naik bisa memakai jumar sebagai pengaman, namun kalau turun tentu saja lebih berat.

            Aku memimpin jalan duluan, mencoba memakai segala cara. Pertama aku mencoba turun menyusuri jalur dengan figure of eight, yang ternyata sangat sulit dilakukan mengingat banyak tali yang terbentang dengan tegang. Lalu mencoba jumar, yang terkadang sangat tidak safe kalau menyusuri jalur yang tidak terlalu vertikal. Akhirnya sepanjang summit ridge aku kebanyakan memakai karabiner saja. Dan tantangan bagi kami ketika turun, paling utama ketika menyeberang tyrolean pendek lagi. Karena ketika turun bisa dengan melompat, kalau naik, mesti mencapai tebing sisi seberang. Akhirnya aku memakai jumar untuk menyeberang dua tyrolean pendek tersebut. Dan Turus walaupun kesulitan, namun bisa menyeberang juga. Aku tidak bisa membayangkan kalau salah satu dari kami jatuh ke jurang yang membentang di kedua sisi tebing, tentunya yang pulang hanya nama saja rumah. Waktu itu aku terus berpikir positif, dan membuang jauh-jauh kemungkinan buruk tersebut.

            Akhirnya, tiba juga di tyrolean pertama. Aku melewatinya dengan perlahan, kemudian menyemangati Turus untuk melewatinya juga. Sesampai di ujung summit ridge, aku turun duluan. Dari sini, aku descending dengan jumar dan karabiner sebagai pengaman. Dan ternyata memakai jumar terbukti efektif, dengan jumar sebagai pengaman dan stopper, aku turun perlahan menyusuri tebing vertikal tersebut. Memanjat turun walaupun tidak secapek ketika naik, namun, ternyata tubuhku mulai terasa lelah. Beberapa kali ketika memindahkan jumar ke bawah, jempol kananku mulai slip. Lapar, lelah, bercampur jadi satu.

            Tiba di teras besar, aku melihat Turus masih di atas summit ridge. Aku pun khawatir kalau-kalau Turus terkena hipotermia atau kelelahan. Aku memanggil-manggil dan berteriak dengan marah agar dia bergegas turun. Kemudian aku mencari barang yang aku tinggalkan. Sempat terpikir mengganti jaket yang basah dengan jaket cadangan. Namun, entah kenapa rasanya malas untuk melakukannya karena hal itu mesti melepas hardness dan lainnya. Aku turun perlahan dan setiap waktu memanggil-manggil Turus. Ketika ada suara sahutan, aku cukup yakin dia perlahan turun juga. Aku pun turun ke Teras 3.

            Sesampai di Teras 3, cuaca perlahan cerah. Aku berhenti di sana dan beristirahat. Roti yang aku bawa sudah hancur di saku jaket, mungkin terhimpit ketika memanjat, tidak bisa dimakan lagi. Aku hanya memakan cokelat saja. Agak lama juga menunggu Turus, sehingga aku sempat memejamkan mata. Kondisi tubuhku semakin drop karena berhenti dengan waktu yang lama. Suhu tubuh pun perlahan drop. Aku kedinginan akibat jaket yang aku pakai memang sudah basah, ditambah suhu udara yang sangat dingin. Akhirnya Turus tiba di Teras 3. Lega rasanya karena ternyata Turus aku lihat masih cukup fit untuk melanjutkan perjalanan.

            Dari Teras 3, aku menyuruh Turus untuk turun duluan, karena khawatir dia tertinggal lagi kalau aku yang turun duluan. Ditambah dengan hal bahwa tubuhku sudah kelelahan, sehingga aku sangat ingin duduk saja dan memejamkan mata. Begitu seterusnya, Turus memimpin perjalanan turun dari Teras 3, dan aku mengikuti sarannya. Dari Teras 1, tangan kananku sudah sangat lelah, sehingga tidak bisa menggenggam jumar lagi dengan baik. Ketika memindahkan jumar, jempol kananku susah digerakkan untuk melonggarkan jumar dari tali tambangnya. Aku memutuskan hanya memakai karabiner saja akhirnya. Dan rupanya usaha tersebut cukup berhasil. Turun dengan lebih cepat, namun stopper hanyalah tangan saja, karena karabiner tidak bisa mencengkeram tali. Sangat berbahaya, namun buatku sangat berguna waktu itu. Terkadang sewaktu turun dari tebing vertikalnya, aku meluncur dengan sangat cepat sehingga terjatuh. Namun, untungnya tidak ada cedera serius.

            Sekitar pukul empat sore, kami tiba di punggungan terakhir. Camp sudah terlihat di kejauhan. Dan kami melihat Loren sudah melambai-lambai. Cuaca cerah sekali. Matahari bersinar. Aku yang sudah sangat kelelahan tiba-tiba mendapat energi baru. Apalagi melihat Brice berjalan ke arah tebing tempat kami berada. Setelah turun dari jalur terakhir. Kami berjalan ke arah Brice. Dan Brice menyambut kami dengan senyum, “Congratulation, you two are great!”.

            Tiba di Camp, kami disambut semua anggota tim dengan senang. Mereka ternyata sangat khawatir dengan kami. Mengingat kami di atas sana selama dua belas jam, sementara mereka ternyata hanya membutuhkan waktu sekitar lima jam saja untuk naik turun. Luar biasa. Kami disuguhi teh dan makanan hangat oleh Loren. Bahagi sekali rasanya bisa selamat tiba kembali di tenda. Aku sangat bersyukur. Sepanjang perjalanan aku tidak henti-hentinya mengingat Tuhan. Karena aku merasa jarak dengan kematian sangat dekat sekali. Dan ternyata Tuhan masih memberikanku umur yang panjang untuk tiba kembali di tenda. Alhamdulilah..

            Malam itu aku bisa tidur, walaupun hanya sebentar, karena sakit kepala kembali menderaku. Syukurnya sewaktu di atas sana ketika itu sakit kepalanya tidak terlalu terasa. Sial, begadang lagi deh malam itu. Padahal tubuh sangat lelah sekali.

5-7 Maret 2016….

            Praktis sisa hari kami di lembah kuning hanya diisi dengan kegiatan malas-malasan. Makan, minum, bekerja sebagai guide, jalan-jalan di sekitar camp, berfoto, dan tidur. Tentu saja toiletting adalah hal yang sering dilakukan. Dan membersihkan sampah masih rutin kami lakukan.

            Harusnya kami turun di tanggal 6, namun ternyata helicopter belum siap berangkat, dan kepulangan pun ditunda sehari berikutnya. Aku sudah sangat-sangat bosan di atas, karena kedinginan dan sakit kepala. Ujung-ujung jari tangan bahkan mati rasa, dan itu terus kurasakan sampai aku menulis tulisan ini, walaupun sekarang sudah agak berkurang.

            Tanggal 7 kami pun bersiap pulang, helicopter katanya sudah siap berangkat dari Timika. Kami direncanakan turun lewat Timika, jadi tidak ke Nabire lagi. Namun hingga pukul delapan pagi, helicopter yang ditunggu tidak muncul-muncul. Sempat timbul kekhawatiran kepulangan ditunda lagi. Sementara logistik sudah habis, dan hanya tersisa mie saja. Bahan bakar juga sudah hampir habis. Cuaca juga perlahan-lahan gelap.

DSCF0182

            Akhirnya sekitar pukul setengah sembilan, helicopter muncul juga. Ternyata heli tersebut membawa tamu berikutnya yang akan mendaki Carstensz. Mereka rupanya dari Adventure Consultants, aku langsung teringat kembali dengan Rob Hall. Kami berangkat dengan heli sebanyak dua gelombang kembali. Dan sekitar setengah jam perjalanan, sudah tiba di Timika. Alhamdulilah, merasakan panas yang menyengat kembali, merasakan ketinggian dibawah 50 mdpl lagi. Berakhir sudah perjalanan kami tersebut. Terbersit rasa haru dan penuh kerinduan kembali suatu saat nanti ke Carstensz Pyramid. Namun untuk saat sekarang, tidak dulu deh.

Ending….

            Setelah semalam di Timika, kami pun berangkat pulang ke Jakarta. Begitulah akhir perjalanan itu, sekaligus akhir dari Ekspedisi Saptanusa yang kami emban. Misi yang kami usung tercapai semua. Kami berhasil menggapai tujuh puncak tertinggi di Indonesia. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa menurutku. Apalagi setahun yang lalu, ini rasanya seperti mimpi buatku yang sangat sulit untuk terwujud. Ternyata Tuhan memberikan jalan buatku untuk meraih mimpiku ini.

            Pelajaran yang aku dapatkan adalah, jangan pernah berhenti bermimpi. Berusahalah untuk menggapai mimpi tersebut, dan biarkan Tuhan yang memutuskan apakah kita layak untuk mencapainya. Di usiaku yang ke-26, aku berhasil menggapai puncak tertinggi di Indonesia. Ini adalah sebuah kisah yang tidak akan lekang oleh waktu. Aku akan dengan bangga bercerita tentang kisah ini kepada anak-anakku, atau kepada siapapun yang ingin mendengarnya kelak. Teruntuk buat STAPALA, aku sangat bangga telah membawa namamu ke puncak-puncak tertinggi di Indonesia, hal ini semoga menjadi langkah awal untuk meneruskan mimpi kita untuk berdiri dan mengibarkan bendera STAPALA di puncak-puncak tertinggi di dunia. Ini hanyalah awal.

            Oh ya, aku berjanji untuk bercerita tentang quote dari Brice yah. Ini beberapa di antaranya:

            Safety is everything, you can search for money, but not life”. Quote ini terucap ketika kami berbincang mengenai Rob Hall, sang pendaki kenamaan yang meninggal dalam tragedi Everest tahun 1996. Rob Hall dan Brice merupakan sahabat dekat, dan mereka sama-sama berasal dari New Zealand. Aku sempat bertanya pada Brice, “Jika kamu berada di posisi Rob, same situation, same time, apa yang akan kamu lakukan?”. Brice dengan yakin menjawab bahwa safety adalah segalanya, Dia akan turun dan tidak akan memaksakan diri membawa tamu untuk naik ke puncak karena sudah ada kesepakatan waktu muncaknya. Bahkan akan memaksa tamu untuk turun. Karena uang masih bisa dicari dikemudian hari dan bisa mendaki lagi untuk menggapainya, namun tidak dengan nyawa.
            Quote berikutnya yang aku ingat adalah ketika dia berujar, Every moment is important, there is no special one, so enjoy your every moment”. Ini dia ucapkan ketika aku bertanya kepadanya, momen mana yang paling special dalam perjalanannya yang sudah banyak. Brice ternyata tidak memiliki satu momen paling special, namun dia berujar, setiap momen yang dimilikinya adalah semuanya special. Jadi Brice berujar, nikmati semua waktu yang kamu miliki, setiap momen itu berharga.
            Terakhir, Learn with experience, the more you have, the more you get the confidence and skill. Ini Brice ucapkan di akhir perjalanan kami, ketika akan berpisah di hotel di Timika. Brice berpesan kepada kami, bahwa belajar itu tidak ada habisnya. Dengan semakin banyak mendaki, semakin banyak hal yang kita dapatkan, dan semakin timbul rasa percaya diri terhadap diri bahwa diri kita mampu untuk melewati rintangan yang timbul. Hal ini sangat memicu diriku untuk tidak berhenti mendaki gunung dan melakukan kegiatan outdoor. Semoga aku setidaknya bisa menggapai Everest, puncak tertinggi di dunia, suatu saat nanti, aamiin...

DSCF0202

DSCF0203

Bintaro, 7 Agustus 2016

-Patuan Handaka Pulungan-

 

Catatan Perjalanan: GUNUNG BINAIYA

Halooo guys! Selamat datang kembali di blog ini. Terima kasih atas kerelaan waktu untuk  membacanya. Untuk yang baru pertama mengunjunginya, salam kenal yaah. Di edisi ini, Aku akan menulis lagi tentang perjalanan kami sewaktu menjalani Ekspedisi Saptanusa, Ekspedisi Seven Summits Indonesia. Kali ini adalah tentang perjalanan di Ambon. Yap, ini adalah tentang Gunung Binaiya, gunung tertinggi di Kepulauan Ambon. And here we are….

2

My Journey!

Screen Shot 2016-01-31 at 2.34.35 PMScreen Shot 2016-01-31 at 2.28.29 PM

Pendakian Gunung Binaiya ini merupakan pendakian gunung keempat yang kami jalanin dalam Ekspedisi 7 summits Indonesia. Selepas dari tanah Celebes, Tim Ekspedisi Saptanusa bertolak ke Ambon. Tiba di tanah Ambon di pagi hari, di bandara kami disambut oleh semua anggota korwil STAPALA yang berdomisili disana (penempatan kerja). Selanjutnya kami diantar ke Pelabuhan Ambon untuk kemudian menyeberang ke Masohi di Pulau Seram. Perjalanan menyeberang dengan kapal laut tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga jam lebih.

3

19

Setiba di Kota Masohi, Pulau Seram, kami bergegas ke kantor Balai Taman Nasional Manusela, mengurus perizinan. Sempat ada hambatan ketika surat keterangan sehat diminta oleh Balai, dimana kami tidak membawa hard filenya. Akhirnya setelah berbagai upaya, perizinan pun keluar juga. Di kesempatan itu, kami juga ngobrol langsung dengan Kepala Balai, Beliau mengingatkan kami akan pentingnya air dalam pendakian. Baiklah, ini menjadi pengingat. Dan ternyata hal tersebut kejadian juga dalam pendakian ini. Nanti aku ceritakan.

Siang itu kami menuju ke Desa Piliana, desa terakhir sebelum memulai pendakian. Perjalanan via darat ini memakan waktu sekitar empat jam. Dalam perjalanan, mobil yang kami tumpangi sempat melintasi sungai yang airnya cukup dangkal namun lebar. Namun, menurut Bapak supirnya, sungai ini bisa dilewati hanya di kemarau, ketika debit air mengecil. Aih, aku membayangkan seandainya di musim penghujan, bisa-bisa batal juga kami ke Gunung Binaiya.

Gunung Binaia atau Binaiya atau Binaija adalah sebuah gunung yang terletak di Pulau Seram, Maluku di negara Indonesia. Gunung Binaiya merupakan gunung  tertinggi di Provinsi Maluku dengan ketinggian 3.055 meter di atas permukaan laut (mdpl) masuk ke dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Gunung ini membentang di Pulau Seram dan masuk ke  dalam lingkup Taman Nasional Manusela yang mempunyai luas 189.000 hektar, atau sekitar 20% wilayah Pulau Seram. Gunung Binaiya juga dikenal dengan nama 'Mutiara Nusa Ina'. Gunung Binaiya mempunyai Hutan Montane dan Hutan Ericaceous. (sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Binaia).

Tiba di ujung jalan yang bisa dilewati mobil, karena jalannya putus, ternyata Desa Piliana nya belum lah sampai, kami masih harus berjalan kaki sekitar satu jam. Lumayan juga. Sepertinya hari itu hari yang baik, di jalanan putus itu kami bertemu langsung dengan Bapa Raja, seseorang yang secara adat dan administratif memimpin Desa Piliana. Aku bersyukur karena perjalanan kami dimudahkan. Awalnya sempat merasa kesulitan bagaimana nantinya mencari rumah Bapa Raja, di daerah yang tidak kami kenal sama sekali. Bahkan di catper-catper yang ada juga sangat sedikit sekali informasi tentang ini. Dalam perbincangan kami dengan Beliau, kami menjelaskan maksud kami untuk menumpang di rumahnya malam itu sekaligus niatan mendaki ke Gunung Binaiya. Perkenalan tersebut awal yang baik menurutku.

Bapa Raja ini menurutku orang yang kepribadiannya menyenangkan. Beliau sangat informatif, dan tidak berbelit-belit. Bahasa Indonesianya juga sangat baik. Ternyata Beliau juga baru pulang dari berburu, ketika bertemu dengan kami. Usianya sudah cukup tua, pembawaannya menenangkan. Berwibawa sekali.

Memasuki kawasan desa, orang-orang desa ramai memperhatikan kami. Duh, serasa jadi artis! Tiba di rumah Bapa Raja sekitar pukul 6 sore, langit masih terang. Beberapa pemuda desa datang menghampiri kami. Mereka menanyakan apakah kami mau naik Gunung Binaiya, sembari menawarkan jasa untuk menjadi guide. Di kesempatan itu, aku sekalian mencari informasi, bagaimana kondisi medan pendakiannya. Juga tentang waktu tempuh serta info-info lainnya.

Malam itu kami habiskan dengan packing dan istirahat. Listrik belum masuk ke desa tersebut, namun tonggak listrik sudah berdiri gagah dimana-mana. Menurut penuturan orang-orang desa yang berkumpul di teras rumah Bapa Raja, karena tertarik dengan kedatangan kami, tonggak listrik tersebut sudah berdiri sejak dua tahun yang lalu, namun sampai sekarang belum dialiri oleh listrik. Bapa Raja punya sebutan keren untuk tonggak-tonggak listrik tersebut, yaitu Bunga Desa, hahaha…ada-ada aja! Oh ya, pada malam itu kami beristirahat di rumah Bapa Raja. Walaupun sempat ditawarkan tidur di guest house yang khusus dibuat untuk tamu.

Oh ya, sekilas info. Di gunung Binaiya, terdapat dua jalur pendakian umum. Satu dari sisi Selatan, atau dari Desa Piliana, satunya lagi dari sisi Utara, dari desa Kanikeh. Pendakian dari  Utara lebih dahulu populer, sebelum dari Selatan dibuka. Di kemudian hari, para pendaki lebih memilih naik Binaiya dari jalur Selatan karena selain waktunya yang lebih singkat, juga jalurnya yang lebih jelas. Dan karena tim kami sudah melakukan riset terlebih dahulu, kami memutuskan waktu itu untuk naik dari jalur Selatan.

Terdapat 4 shelter yang dibangun oleh Pemerintah, melalui Balai Taman Nasional Manusela, bekerjasama dengan masyarakat sekitar kalau mendaki dari jalur Selatan. Shelter tersebut berupa bangunan semi permanen, terbuat dari kayu, memiliki atap. Letaknya berada di Yamitala, Aimoto, High Camp, dan terakhir Isilali. Tentunya kalau mau naik dari jalur Selatan, bila disesuaikan dengan timeline perjalanan, tentunya tidak perlu membuka tenda sama sekali karena bisa bermalam di tiap shelter.

Pagi harinya, sebelum berangkat, kami mampir ke rumah tetua adat. Tetua adat melakukan ritual adat yang dimaksud untuk memohonkan keselamatan atas perjalanan kami. Setelahnya kami pun mulai berangkat. Tim yang berangkat berjumlah tujuh orang, yaitu lima orang atlet didampingi dua warga desa, Bapak Aten dan Bapak Guru. Satu orang dari kami, Ebi namanya, yang bertindak sebagai tim darat, tinggal di rumah Bapa Raja. Satu pesan dari istri Bapa Raja yang aku ingat betul, bahwa air adalah sumber kehidupan. Selalu perhatikan kebutuhan air. Dan aku mengkorelasikan pesan ini dengan pesan dari Kepala Balai. Wah, ada dengan sumber air di Gunung Binaiya ini? Bukannya menurut catatan perjalanan yang aku baca dan penuturan Pak Aten, sumber air hampir terdapat di semua shelter di Binaiya?

Sekilas mengenai guide kami yang berjumlah dua orang. Pak Aten adalah warga Desa Piliana, beliau berumur sekitar 30 tahun. Malam sebelumnya beliau yang setia ikut mendengarkan cerita kami di teras rumah Bapa Raja bersama putrinya yang masih berumur 6 tahun, sebelum akhirnya menawarkan diri untuk menjadi salah satu guide kami. Yang satu lagi adalah kita sebut saja Bapak Guru. Karena namanya sendiri aku tidak tahu, beliau cukup dipanggil Bapak Guru aja katanya. Sudah memiliki kalau tidak salah empat orang anak. Padahal menurutku sih usianya masih muda, belum sampai 30 tahun.

Pak Aten orangnya humoris, dan penuh rasa ingin tahu. Sedangkan Bapak Guru, menurutku orang yang tenang dan penuh pertimbangan. Di sepanjang perjalanan nantinya, Pak Aten yang memimpin jalan, dan Bapak Guru yang menjadi Sweepernya. Dan, mereka berdua adalah para pria yang tangguh. Bisa memimpin perjalanan dan mengetahui ruas-ruas jalur pendakian yang kami lalui, hingga letak-letak mata air.

Perjalanan kami dimulai dengan nafas tersengal-sengal. Peluh mendera, cuaca hari itu panasnya bukan main. Trek pendakiannya dimulai dengan memasuki perkebunan warga, lalu menyusuri sungai kecil (yang membuat sepatu basah). Selanjutnya memasuki kawasan hutan yang ditandai dengan banyaknya pepohonan tumbang. Menurutku treknya lumayan tidak jelas sewaktu memasuki kawasan hutan. Bahkan pendamping kami juga sempat kesulitan menemukan jalannya. Jalan setapak terhapus dan terhalang oleh kayu-kayu besar yang melintang.

Ketika tengah hari tiba, kami sampai di sebuah sungai yang ukurannya kecil, namun deras. kami melepas lelah sejenak sembari mengisi perbekalan air. Pukul 14.00 kami telah tiba di Pos Aimoto. Disini kami memutuskan untuk makan siang. Terdapat aliran air yang cukup jernih di bawah pos ini. Namun menurut penuturan Pak Aten, aliran air ini harusnya lebih besar lagi. wow..berarti memang pengaruh musim kemarau ini sudah sedemikian rupa.

Awalnya kami bermaksud memaksakan perjalanan hari itu sampai di Shelter High Camp, namun menurut Bapak Aten sebaiknya menginap di Aimoto saja, karena menurut beliau jarak ke High Camp masih jauh, sehingga dikhawatirkan berjalan di kegelapan malam. Sebagai ketua tim, akhirnya aku memutuskan untuk bermalam di Shelter Aimoto, selain karena saran Bapak Aten, juga melihat kondisi fisik tim yang mulai kelelahan. Sebuah keputusan yang kelak aku syukuri.

18

Hari ketiga, paginya kami berangkat dari Pos Aimoto. Kami membawa dua jerigen air, dengan pertimbangan di atas sumber mata air kering. Dan benar saja, sepanjang perjalanan, baik di Pos High Camp, Isilali, dan Nasapeha, kami tidak menemukan air, sumber mata airnya kering semua. Pendakian di hari kedua ini benar-benar menguras stamina. Kami dihadapkan dengan beberapa puncak. Ketika berjalan, begitu melihat titik tertinggi di depan mata, kaki semangat melangkah. Namun ternyata masih ada puncak-puncak lainnya menanti. Benar-benar menguji mental. Sempat ingin berhenti di Shelter Isilali, namun mengingat rundown perjalanan, akhirnya kami meneruskan langkah. Menuju tempat tertinggi yang masih bisa didaki hari itu. Mendekatkan diri ke puncak impian.

16

17

15

14

Tiba di Nasapeha sekitar pukul 17.00, disini kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan mulai masak untuk makan malam. Waktu itu kami sudah menakar kira-kira air yang kami butuhkan dan kami pakai setiap makan. Terlihat di sekitar tempat kami mendirikan tenda ada genangan air yang mulai mengering. Padahal sewaktu melintasi Puncak Bintang, kami sempat diterpa hujan. Ternyata hanya hujan lokal sepertinya. Karena di Nasapeha terasa kering sekali.

Keesokan paginya, atau hari keempat berada di Pulau Seram, kami memulai perjalanan ke puncak. Jarak dari Nasapeha ke Puncak sekitar satu setengah jam. Bukan hanya jalurnya yang menanjak yang menjadi tantangan,melainkan ketersediaan air lah yang membuat perjalanan ke puncak pada pagi itu terasa berat. Apalagi ketika matahari mulai naik dan terik. Mataku sampai berkunang-kunang dan lemas, akibat dehidrasi. Tapi dibalik tantangan itu semua, sampai sekarang aku masih bersyukur, kami bisa tiba di puncak dengan selamat dan sehat, walaupun lemas.

Perjalanan ke puncak sungguh luar biasa indah. Kami menemukan banyak sekali pohon palem,  seperti yang biasa ada di padang pasir, dan juga rusa! yaa, banyak sekali rusa di kawasan itu. Pemandangannya serasa berada di luar negeri. Apalagi ketika melihat Gunung Bintang di belakang, rasanya tidak percaya kami sebelumnya naik ke puncak Bintang dulu sebelum turun lagi ke Nasapeha kemarin. Di puncak kami memuaskan diri mengambil dokumentasi dan menikmati keindahan alamnya. Ada sekitar satu jam kami di atas puncak Binaiya sebelum mulai turun lagi. Nun tak jauh di depan mata, ada sebuah puncak gunung lagi, yang menurut Pak Aten adalah puncak paling tinggi dari pegunungan tersebut. Namun tidak diperbolehkan untuk didaki.

9

12

10

6

TIba kembali di Nasapeha, masalah air kembali mendera kami. Waktu itu masak dengan sekadarnya, memakai air sehematnya. Waktu itu kami memikirkan alokasi air untuk perjalanan turun hingga tiba di Aimoto, mengingat hanya di Aimoto lah yang masih terdapat sumber air. Dan, ketika berbagi jatah air untuk perjalanan turun, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, alhamdulilaah….masalah air seketika teratasi. Perjalanan kami rasanya dimudahkan oleh Tuhan. Di perjalanan turun aku dan rekan satu tim, Cupang, sesekali berhenti di tengah jalan sambil minum air langsung yang tertampung di daun-daun tumbuhan perdu. Berkali-kali juga berhenti sebentar hanya untuk merasai air hujan. Perjalanan turun ini sangat aku nikmati, bahkan kami bertemu dengan seekor rusa jantan yang berdiri dengan anggun di depanku, berjarak sekitar 3 meter.

Dalam perjalanan turun kami terbagi menjadi dua tim. Aku, Cupang, dan Bapak Aten memimpin jalan dengan berjalan duluan. Namun, beberapa kali kami ketinggalan oleh langkah kaki Pak Aten yang sangat cepat. Kayaknya beliau juga tidak sabar ingin segera pulang. Di rombongan belakang ada Turus, Jebul, dan Saha ditemani oleh Bapak Guru.

Ada satu momen yang sempat membuat perjalanan terhenti, sewaktu kami tiba di Isilali. Bapak Guru memanggil-manggil, ternyata tim belakang terpisah. Pak Aten segera menyusul sumber suara. Aku dan Cupang berusaha mengontak tim dengan HT yang kami bawa. Sempat timbul rasa waswas, mengingat jalur pendakian yang memang berbahaya, dimana hanya terdapat jalan setapak selebar 30 senti, disebelah kiri jurang, dan disebelah kanan adalah tebing.

Aku memanggil-manggil via HT, namun tidak ada jawaban. Dan kemudian berusaha ikut menyusul Pak Aten masuk ke dalam hutan di belakang Shelter Isilali. Sumber suaranya memang berasal dari sana. Setelah berteriak memanggil cukup lama, akhirnya ada balasan suara. Ternyata Pak Aten sudah ketemu dengan mereka. Dan ternyata, Saha, yang memegang GPS, keliru membacanya, jadi mengambil jalan lurus map, yang ternyata keluar dari jalur. Mereka masuk ke hutan, dan memang tembus ke Shelter Isilali, namun tentunya dengan merimba, tidak ada jalan setapak. Huft, apa yang ditakutkan tidak terjadi.

Tiba kembali di Shelter Aimoto sekitar pukul enam sore, kami minum dengan rakusnya di sungai kecil tersebut. Tim di belakang baru tiba pukul tujuh malam, dimana hari sudah gelap gulita. Aku pun lega ketika melihat mereka, akhirnya tim berkumpul kembali dan tidak ada kekurangan apapun. Pak Aten malam itu sempat bercerita misteri. Ternyata….dikaburkan aja deh, biar tetap misteri, hehe… Malam itu kami berpuas-puas memakai air, setelah hampir 30 jam terakhir berhemat air. Ada yang dijadiin minuman hangat, minuman jahe, susu, buat sop, dan lain-lain.

Hari kelima di Pulau Seram, atau hari keempat di Gunung Binaiya, pagi harinya hujan turun dengan derasnya, seakan menghapus kekeringan yang sebelumnya mendera kawasan pegunungan Binaiya. Awalnya kami berencana berangkat pagi hari, namun baru pukul sepuluh pagi kami mulai berjalan. Sekitar pukul 14.00 kami pun tiba kembali dengan selamat di Desa Piliana. Dan lagi-lagi ada momen dimana aku dan Cupang ketinggalan Pak Aten. Ketika menyusuri sungai kecil dalam perjalanan turun, kami kehilangan jejak Pak Aten. Dari GPS yang aku bawa, jalurnya ada, namun tidak terlihat jalur setapak keluar sungainya. Dan lagi-lagi, Pak Aten menyusul kami ke belakang, mungkin karena beliau tidak melihat kami lagi di belakangnya.

Di rumah Bapa Raja kami semua sudah disambut dengan hidangan Papeda dengan ayam goreng dan indomie rebus, waaaah, nikmat sekali. Selama empat hari terakhir aku sudah bosan dengan makanan-makanan instan yang kami bawa. Sore itu setelah bersih-bersih, kami berpesta. Alhamdulilah, perjalanan ini berakhir dengan baik. Dan kami pun siap melanjutkan perjalanan ke puncak berikutnya, yaitu di tanah Lombok. See you!

4

TIMELINE

GUNUNG BINAIYA – AMBON

07092015

06.50 Tiba di Ambon

09.15 Pelabuhan Ambon

11.25 Tiba di Pulau Seram

14.10 Perjalanan ke Desa Piliana

17.55 Tiba di jalan putus sebelum Piliana

18.30 Tiba di Desa Piliana

08092015

08.00 Persiapan

09.00 Start pendakian

10.40 Pos Yahe 578 mdpl

11.20 Shelter Yamitala

12.38 Pos Pelihata 1065 mdpl

13.35 Pos Lukuamano

14.04 Shelter Aimoto 1278 mdpl

09092015

08.56 Start pendakian

09.23 Pos Aiulasanai 1443 mdpl

10.36 Puncak Teleuna 1804 mdpl

11.40 Shelter High Camp 2008 mdpl

13.13 Puncak Manukupa 2313 mdpl

13.37 Shelter Isilali 2185 mdpl

16.25 Puncak Bintang 2673 mdpl

17.01 Shelter Nasapeha 2579 mdpl

10092015

07.10 Start pendakian

08.40 Puncak Binaiya 3027 mdpl

10.50 Nasapeha

13.00 Start turun

18.06 Tiba kembali di Shelter Aimoto

11092015

10.00 Start turun

14.07 Desa Piliana

7

Bintaro, 31 Januari 2016

-Patuan Handaka Pulungan-

Catatan Perjalanan : BUKIT RAYA

 

         Hai, guys! Lama tak bersua.. Ini adalah Catatan Perjalanan menuju Bukit Raya, puncak tertinggi di Pulau Kalimantan, tentunya wilayah bagian Indonesia. Kalau Pulau Kalimantan secara keseluruhan, puncak tertingginya adalah Gunung Kinabalu, yang berada di wilayah Malaysia. Dalam perjalanan ini, saya lagi dalam Ekspedisi Seven Summits Indonesia, yang kami namakan Ekspedisi Saptanusa, yang dilakukan oleh STAPALA dari STAN. And, Here We are!

My Journey!111

(taken from www.the7summitsindonesia.com)

         Selepas dari Gunung Kerinci, Tim Ekspedisi Saptanusa menuju pulau Kalimantan. Bukit Raya yang selama ini hanya ada dalam bayangan saya untuk didaki, kini akan terwujud. Pendakian Bukit Raya memakan waktu yang cukup lama, dan biaya yang cukup mahal (banget menurut saya), membuat saya berpikir realistis kala itu. Namun, Tuhan memiliki takdir yang berbeda, saya bisa kesana!

         Pendakian dimulai dengan tiba di Pontianak terlebih dahulu, disambut oleh senior-senior STAPALA yang berdomisi di kota itu, mulai dari bg Padel, bg Ciu, bg Eman, hingga bg. Sambutan yang begitu hangat membuat saya terharu, ternyata ikatan persaudaraan di STAPALA begitu kuatnya. Beliau-beliau merelakan waktunya untuk menyambut tim di bandara, mengajak makan besar, dan mengantarkan kami ke salah satu hotel terbaik yang ada di kota Pontianak.

611

         Keesokan paginya, kita berangkat menuju bandara lagi, untuk terbang ke Sintang, kota terakhir sebelum menuju titik pendakian Bukit Raya. Sempat delay selama 4 jam karena cuaca, akhirnya tim tiba di Sintang. Di bandara sudah disambut oleh bg Yusman, salah seorang senior STAPALA juga yang bekerja di sana. Kami diajak menuju Kantor Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) untuk mengurus perizinan. Sempat memakan waktu yang lama, diantaranya prosedur yang teliti hingga wawancara dengan kepala kantornya (beliau senang bercerita), dan akhirnya izin kami dapatkan juga. Sore itu kami akhiri dengan makan bersama di sebuah warung di sudut kota Sintang.

1089

         Hari ketiga di Pulau Kalimantan, rencananya yang semula akan langsung berangkat pagi-pagi, ditunda karena cuaca tiba-tiba berubah. Ya, ada hujan di pagi harinya, yang merupakan kejadian langka karena kemarau yang sudah cukup panjang terjadi. Karena hujan yang menurut saya tidak terlalu lama itu, perjalanan kami menuju Desa Rantau Malam yang merupakan desa terakhir sebelum memasuki kawasan hutan Bukit Raya batal. Dikarenakan via jalur darat yang tidak bisa lewat akibat berlumpur. Kalau mencoba lewat jalur darat, debit air yang kurang dalam mengakibatkan sepit, sebuah kendaraan perahu melintasi sungai besar yang bernama Sungai Melawi, tidak bisa lewat.

         Siangnya kami menuju TNBBBR, berdiskusi dengan para pegawai disana. Saya merasa disambut dengan baik sekali, dan banyak terbantu. Dan disitu bertemu juga dengan Pak Pius, yang merupakan Guide yang ditunjuk oleh TNBBBR untuk mendampingi kami selama ekspedisi di Bukit Raya. Beliau ternyata orang yang sangat baik dan penuh dengan pengalaman. Dengan beliau jugalah saya berdiskusi mengenai menyingkat waktu pendakian dan bagaimana transportasi yang tepat untuk menuju Resort Rantau Malam, yang merupakan titik awal pendakian Bukit Raya. Hingga kami meninggalkan Kantor Balai, transportasi belum jelas, dan akhirnya bisa kami fix kan hingga menjelang tengah malam, akibat minimnya akses menuju Resort tersebut.

         Ada satu hal yang saya ingat betul ketika menyampaikan rencana untuk menyingkat waktu pendakian yang semula 5 hari 4 malam di Bukit Raya, menjadi 4 hari 3 malam. Komentar Pak Pius waktu itu cuma satu, “Kita coba saja ya, belum ada selama ini yang melakukan perjalanan sesingkat itu!”. Hahaa…..saya sebenarnya keder juga. Namun mengingat itu harus dilakukan atau tidak jadi berangkat sama sekali, membuat saya yang selaku Ketua Perjalanan mengambil keputusan tersebut.

         Keesokan harinya barulah kami bisa berangkat. Melalui jalur darat selama 2 jam menuju Nanga Pinoh, dilanjutkan via jalur air dengan sepit selama 5 jam menuju Serawai, dan 3 jam lagi dengan sepit juga menuju Desa Tontang. Kemudian disambung dengan perjalanan darat, kali ini dengan sepeda motor yang didesain sedemikian rupa untuk melewati lumpur dan jalanan yang tidak rata selama 4 jam. Total perjalanan kami dari Sintang menuju ke Rantau Malam sekitar 14 jam, subhanallah…malam itu kami bermalam di resort milik TNBBBR.

         Sebelumnya di Tontang, terdapat Pos Perusahaan kayu terbesar di daerah itu. Rencana awalnya kami berniat menumpang mobil perusahaan menuju resort, namun ternyata kenyataan berbeda. Mobil masih terjebak di tengah hutan, dan karena kesorean, pegawai tidak ada yang bersedia mengantar kami. Walaupun pihak perusahaan menjanjikan akan mengantarkan kami keesokan harinya dan menawarkan kamar untuk beristirahat malam itu, kami bersikukuh untuk melanjutkan perjalanan sore tersebut, mengingat waktu kami yang semakin sempit.

         Oh ya, kenapa saya sangat concern terhadap waktu? Karena sebenarnya ekspedisi ini dirancang dengan waktu sangat singkat, sehingga keadaan-keadaan luar biasa yang diluar perkiraan tidak diperhitungkan ketika menyusun rundown ekspedisi. Seperti hujan yang tiba-tiba turun waktu pagi di Sintang, yang mengakibatkan kami tertahan lagi sehari di Sintang, hingga mobil perusahaan yang tertahan di tengah hutan. Pertimbangan saya waktu itu adalah, kalau ini tertunda sehari saja, akan mengakibatkan tiket perjalanan kami ke daerah-daerah selanjutnya (yang telah dipesan terlebih dahulu sebelum ekspedisi berjalan) akan hangus. Pilihan saya waktu itu adalah apakah menghentikan ekspedisi di Bukit Raya, atau menanggung beban tiket ke daerah selanjutnya hangus. Syukurlah waktu itu, penyingkatan waktu yang kami lakukan membuahkan hasil. Ceritanya akan saya lanjutkan di bawah.

42131

         Hari kelima di Pulau Kalimantan, pagi harinya, kami melaksanakan upacara adat sebelum memulai pendakian. Upacara yang merupakan tradisi adat warga Rantau Malam sebelum memasuki kawasan hutan Bukit Raya. Pukul 10 siang, kami pun mulai berjalan. Memasuki kawasan hutan yang menurut saya pepohonannya tidak terlalu rapat, kami disambut oleh suara monyet bersahut-sahutan seakan menyambut kedatangan kami. Tiba di Pos Rabang sekitar pukul 17.00, matahari terbenam cukup cepat di tanah ini, pukul 17.30 sudah gelap saja. Kami mendirikan tenda. Oh ya, pada pendakian ini kami terdiri dari 5 orang atlet, yaitu aku sendiri, Patuan Pasid, kemudian Mei Turus, Dimas Cupang, Fiki Jebul, dan Sirojul Saha. Kemudian kami ditemani oleh guide dari TNBBBR yaitu Pak Pius, serta dua orang warga Rantau Malam, Pak Edung dan Bang Ibor.

3

12

         Sekilas profil mengenai Guide kami yang merupakan penduduk asli Resort Rantau Malam. Pak Edung berusia sekitar 35 tahun, dan Bang Ibor berusia sekitar 27 tahun. Mereka setiap harinya bekerja di ladang, dan terkadang Pak Edung nyambi ngojek. Pak Edung dan Bang Ibor sudah berkeluarga, yang membuat saya tertohok, kenapa saya belum yaa, hehe…Dan satu hal yang paling menarik, mereka sangat menikmati hidup mereka.

         Di daerah sana, ada pekerjaan favorit warga desa, yaitu ngojek. Pelanggannya bukan hanya warga, namun sebagian besar malah barang-barang sembako ataupun minyak solar yang dikirimkan oleh perusahaan disana menuju Pos di tengah hutan belantara. Ongkos sekali mengantar konsumen tentu saja mencapai ratusan ribu, mengingat medan yang sangat berat dan berlumpur. Saya aja kapok.

27

         Hari keenam, kami berjalan lagi pukul 7 pagi, semakin memasuki kawasan hutan yang semakin pekat. Hewan pengisap darah, pacet, ada dimana-mana, dan semakin lama ukurannya semakin besar dan semakin ganas saja. Setiap lima langkah, pasti sudah ada 2-3 pacet yang menempel, hiii.. Sempat berhenti untuk makan siang, sekitar pukul 15.00 kami tiba di tugu perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, letaknya di tengah-tengah hutan banget. Setelah mengambil dokumentasi, kami mencari tempat mendirikan tenda, menuju ke arah puncak, ke arah hutan berlumut.

1415161718202124

         Keesokan paginya, atau hari ketujuh di Pulau Kalimantan, kami berjalan lagi pukul tujuh pagi, dan akhirnya tiba di Puncak Kakam sekitar pukul 10.00. Rasa puas dan bangga menyelimuti TIM, kami berhasil mencapai puncak dengan anggota yang lengkap tanpa ada yang tertinggal atau cedera. Di puncaknya, langit biru dan matahari bersinar cerah, menghapus dahaga kami akan sinar matahari selama pendakian ini, dimana rapatnya hutan Bukit Raya membuat sinar matahari susah tembus ke bawah. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam di atas sebelum kembali turun ke bawah.

25232226

         Selepas makan siang dan packing tenda, tidak berlama-lama kami langsung turun mengejar Pos Rabang lagi. Tim terbagi dua bagian, aku sebagai ketua Tim memutuskan rombongan depan yaitu aku, Dimas, Pak Edung dan Bang Ibor. Rombongan belakang sisanya dipandu oleh Pak Pius. Rombongan pertama tiba di Pos Rabang sekitar pukul 18.00, atau dimana kegelapan sudah menyelimuti langit Kalimantan. Sambil bergegas mendirikan tenda dan masak, kami menunggu tim belakang. Cemas sekali waktu itu rasanya ketika hingga pukul 20.00 tim belakang belum tiba juga, hingga aku meminta bantuan kepada Pak Edung dan Bang Ibor untuk menyusul tim Pak Pius. Dan ternyata sekitar setengah jam berselang, akhirnya suara mereka terdengar di atas, rupanya menurut keterangan Pak Edung mereka berhenti di persimpangan yang agak menipu dalam perjalanan turun ke Pos Rabang. Alhamdulilah, akhirnya sekitar pukul 21.00 tim berkumpul kembali semua dan makan malam dengan lahap.

         Hari kedelapan di Pulau Kalimantan, atau hari keempat di pedalaman hutan Bukit Raya, paginya kami beres-beres, dan melakukan perjalanan pulang ke desa Rantau Malam. Sempat diserang kawanan lebah yang banyaknya minta ampun di Pos Rabang, kami memulai langkah dengan mantap. Sekitar pukul 13.00 kami melangkah keluar dari kawasan hutan dan menemukan jalan perusahaan, suara sepeda motor juga sudah terdengar.

         Selesai sudah perjalanan kami ini, walaupun belum benar-benar selesai karena kami masih harus memikirkan perjalanan pulang ke Sintang kembali. Nantinya dalam perjalanan pulang kami akan menyusuri sungai selama delapan jam, lebih cepat dibandingkan perjalanan perginya. Dan kami tidak perlu merasakan lagi naik sepeda motor cross itu, sangat sakit perjalanannya kawan. Dan perlu diketahui juga, sebelum pulang kami juga melakukan upacara adat kembali pada malam sebelumnya sebagai adat selamatan bahwa tim kembali ke desa dengan selamat.

            Sore harinya tiba di Sintang, kemudian malamnya bertolak langsung ke Pontianak. Untuk kemudian akan berangkat langsung menuju tanah Celebes, Sulawesi, pada sore harinya. Terima kasih banyak buat korwil STAPALA Kalimantan yang telah menyambut kami selama pendakian ini. Walaupun kurang tidur, badan pegal, kepala pusing, cedera-cedera ringan akibat terkena pacet, duri, dan tawon, the show must go on, 7 summits Indonesia menunggu kita. STAPALA, djaia!!

Bintaro, di ruang kelas yang nyaman,

11 Januari 2016

Patuan Handaka Pulungan

2830


TIMELINE

BUKIT RAYA – KALIMANTAN

25 Agustus 2015

20.00 WIB Pontianak

23.00 Istirahat

26 Agustus 2015

08.00 Start from Hotel

13.50 Terbang dari Pontianak menuju Sintang

14.30 Sintang

15.00-17.00 Urus Perizinan di TNBBBR

17.00 Istirahat

27 Agustus 2015

04.00 Persiapan berangkat menuju Rantau Malam

07.00 Dapat kabar gagal berangkat akibat hujan singkat di subuh hari

08.00 Ke Kantor TNBBBR menyusun strategi selanjutnya

28 Agustus 2015

05.15 Menuju Nanga Pinoh dengan Mobil carteran

07.20 Tiba di Terminal Speed Boat

08.55 Start jalur air menuju Serawai, menyusuri Sungai Melawi

13.35 Tiba di Serawai

14.00 Menuju Tontang dengan jalur air lagi

15.10 TIba di Tontang

16.40 Menuju Rantau Malam dengan Sepeda Motor carteran

19.10 Tiba di Rantau Malam

21.00 Istirahat

29 Agustus 2015

05.00 Persiapan

08.20 Upacara Adat

09.00 Start dari Rantau Malam dengan Sepeda Motor menuju Korang HP

09.40 Korang HP, 511 mdpl

10.30 Start dari Korang HP

12.04 Sungai Menyanoi, 706 mdpl

12.59 Sungai Mangan

13.30 Start dari Sungai Mangan

17.17 Rabang, 782 mdpl

30 Agustus 2015

05.27 Persiapan

07.30 Start dari Rabang

11.00 Jelundung

12.13 Linang, 1430 mdpl

13.36 Start dari Linang

14.25 Soa Badak, 1574 mdpl

14.40 Soa Toatung, 1581 mdpl

16.50 Pos Saptanusa II,istirahat, 1776 mdpl

31 Agustus 2015

05.27 Persiapan

07.20 Start dari Pos

09.46 Tiba di Puncak

10.50 Start dari Puncak

11.19 Tiba di Pos

14.05 Start dari Pos

15.08 Tiba di Linang

18.11 Rabang

1 September 2015

05.00 Persiapan

07.19 Start turun

09.50 Sungai Mangan

10.35 Sungai Menyanoi

12.27 Korang HP

15.00 Tiba di Resort Rantau Malam kembali

2 September 2015

05.00 Persiapan

06.30 Menuju Desa sebelah, dengan Sepeda Motor

07.00 Menuju Serawai dengan jalur air, menyusuri sungai Serawai

14.50 Tiba kembali di Nanga Pinoh

16.35 Sintang

19.00 Berangkat menuju Pontianak dengan Bus

3 September 2015

03.50 Pontianak

16.25 Take off menuju Jakarta kembali

31

Catatan Perjalanan : Pulau Lombok (eksotis dan menawan)

Haloooo semua, kali ini aku menulis dari Bintaro, karena alhamdulilaaah sekarang sedang Tugas Belajar dan kembali lagi deh ke kampus tercinta, haha.. Sudah lama rasanya tidak menulis lagi, dan merasakan kangen yang luar biasa untuk menuliskan perjalanan-perjalanan yang sudah dilakukan, takut kelupaaan siiih! Ada beberapa perjalanan yang kulakukan di waktu belakangan ini, namun kali ini sih, aku ingin menuliskan kisah ketika berada di Pulau Lombok, sehabis naik Gunung Rinjani (cerita tentang perjalanan di Gunung RInjani sudah ada di postingan sebelumnyaa), and here we are!

My Journey!

1_petalombok(foto’s from www.lomboktravelnet.com)

Peta gili gili (foto’s from deltatravelindo.com)

Dimulai darimana yaa, hmm….oh ya, pada pagi hari ketika kami berlima, aku, friza, sarah, fata, and ryan meninggalkan desa Sembalun dengan mobil carteran..

Hampir tiga jam kali ya perjalanan dari Sembalun ke Pelabuhan Bangsal, waktu itu tujuan kami selanjutnya adalah menyeberang ke Gili Trawangan. Siapa yang tak kenal dengan pulau tersebut, pulau yang sangat indah dan menawan, salah satu icon pariwisata di Lombok, bahkan di Indonesia. Kami diturunkan di pertigaan deket dengan Pelabuhan Bangsal. Selanjutnya dari pertigaan tersebut, kami naik Cidomo, salah satu angkutan khas Lombok, kereta kayu yang ditarik dengan kuda, ongkosnya kalo ga salah Rp 10rb per orang. Jarak antara pertigaan dan pelabuhannya sendiri ada sekitar 100 meter juga, bisa aja jalan kaki, tapi kami kemarin barangnya banyaaak, habis naik gunung..

IMG_3506 (di Cidomo niiih)

Sesampai di pelabuhan, kami langsung nyari tiket penyeberangan ke Gili. Oh ya, sekedar informasi, tiket penyeberangan bisa langsung dibeli di loket, ga usah dari calo. Harganya waktu itu kalo ga salah sih Rp 10rb juga kali ya per orang, hehehe…lupa. Waktu itu hari sudah siang, sekitar pukul dua belas siang, yang artinya matahari sedang menyengat dengan ganas. Kapal penyeberangan ke Gili Trawangan hampir setiap satu jam tersedia, dan selalu penuh. Namun, jangan sampai melebihi jam lima sore yaa, kalo ga salah sih batas operasionalnya sampe jam tersebut. Memang sih pake sistem ngetem dulu nunggu penumpang (kayak angkot juga yaak), yang artinya bisa menunggu selama hampir sejam. Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang ke Gili Trawangan bisa sekitar dua jam. Lama loooh! kalo dibandingkan pake speedboat atau jasa kapal penyeberangan yang dari travel gitu, paling sekitar setengah jam dan ga pake ngetem segala. Harganya? berkisar Rp 150rb-an kayaknya. Kalo kami sih nyari irit, hahaha! Anyway, salah seorang teman kami, Fata, tidak ikut ke Gili karena akan pulang duluan, ada keperluan yang harus dikejar..

IMG_3510 (Mr Ryan lagi nungguin kapal penyeberangan, barangnya akeeh)

IMG_3509 (barang yang dibawa barang naik gunung, hahaha)

IMG_3511  (suasana pelabuhan bangsal)

Sesampai di Gili Trawangan, nyari penginapan, dapat juga yang murah, “hanya” Rp 100rb permalam perkamar! kamarnya gede lagi..baru sih, dan kebetulan waktu kami datang belum musim liburan, jadi agak sepi..aktivitas yang dilakukan disana? banyaaak men! nyari sunset (asli, keren bgt!), liat bule-bule berjemur, hahaha..(ups!), trus makan seafood (jelaaas), menikmati malam di pantai dengan segala kebisingannya (keramaiannya hampir sama dengan jalan Legian di Bali, penuh dengan bar), trus paginya nyari sunrise dong (tapi gagal, ternyata mesti mendaki ke sisi sebelah, jauuuh). Dan hal menakjubkan lainnya, banyak spot snorkling di sekitar pantai loooh, pantainya cantik bangeeeet! biruuuuuu, you must see!! Terus, yang kerennya, tidak ada kendaraan yang mengeluarkan asap di Gili Trawangan, hahaha, tidak ada kendaraan bermotor di Gili Trawangan (waktu itu, entah sekarang, ntar mau ngecek ah, haha). Kami sih nyewa sepeda buat keliling menikmati pagi hari di sana..

IMG_3530

IMG_3595

IMG_3586 (bersama Mr Edi from Gili Trawangan)

IMG_3581 (spot yang sangat pas menikmati sunset di Gili T.)

IMG_3571

IMG_3644

IMG_3661 (Sarah in action)

IMG_3660 (Friza in action too..)

IMG_3654 (ups, ada Friza lagi)

IMG_3685

IMG_3692

Hanya satu malam kami di Gili Trawangan, siangnya kami kembali menyeberang ke Lombok. Tidak sempat mampir ke Gili Meno dan Gili Air, sayang sekali. Dan sebelumnya sudah mencarter mobil yang akan membawa kami keliling Mataram dan sekitarnya selama satu hari termasuk ngantar ke Bandara keesokan harinya. Selanjutnya, sempat wisata kuliner, yaitu menikmati Ayam Taliwang (makanan khasnyaaa, ajiib), teruus belanja di pasar di sudut kota Mataram (tentunya low budget), belinya waktu itu ada kain khas Lombok, trus belanja kerajinan perak juga. Kemudian di sore harinya kami menikmati keindahan pantai Senggigi sambil menikmati jagung bakar. Waktu itu cuaca di Senggigi lumayan cerah, jadi kami menikmati sunset yang tampak di kejauhan, tau ga landscape nya apa? Gunung Agung yang berada di pulau Bali, yang puncaknya tampak diselimuti awan! kereeeeeeen..

IMG_3716 (ayam taliwang…)

IMG_3732 (menikmati senja di Senggigi)

IMG_3742 (di kejauhan tampak Gunung Agung)

IMG_3723 (sunset, mengapa begitu mengagumkan yaa..)

Malam itu kami menginap di sekitaran pantai Senggigi, tidak banyak aktivitas yang kami lakukan, hanya cari makan dan jalan-jalan saja. Karena memang tidak banyak juga aktivitas yang ada di seputaran pantai pada malam hari, hanya bar-bar lokal yang tampak ramai. Atau mungkin kaminya kali yang kurang jalan-jalan, hahahaha! Tapi sebenernya, malam itu kami istirahat, cape seharian berkeliling mengitari Mataram..

Keesokan harinya kami berangkat lagi, sekitar pukul delapan pagi, tujuan berikutnya adalah selatannya Lombok, yaitu Pantai Kute. Sesampai disana, matahari udah tinggi, jadi panas sekali. Tapi perjalanan yang cukup jauh tersebut setimpal banget dengan apa yang didapatkan disana. Subhanallah, pantainya sangaaaaat indah, rasanya tidak ada kata yang menggambarkan keindahannya, hehehe, tapi beneran, cakep pantainya. Puas berfoto-foto, kami pun kembali berangkat dengan berat hati, sayang banget, hanya sebentar disana, dikejar waktu sih.

IMG_3813 (pantai Kute!!)

IMG_3792 (masih pantai Kute..)

IMG_3788 (masih pantai Kute)

IMG_3769

Sampai lagi di bandara Praya, berat juga rasanya berpisah dengan pulau Lombok (jalan-jalannya beloom puaas!). Sangat indah, sangat berkesan. Thank you banget sama rekan seperjalanan kala itu, yang bersama dari Gunung Rinjani hingga jalan-jalan di Lombok, ada Ryan, Fata, Sarah, Friza, Bg Edi di Gili Trawangan, Mas Bambang di Senggigi (yang mobilnya kami carter), dan semua-semuanyaa, daan, foto-foto yang ada di tulisan ini adalah foto-foto yang diambil oleh yang punya kamera di perjalanan ini (izin make yaaaa). Insya Allah akan kembali lagi kesini, menikmati keindahan alam pulau Lombok, amiin… 🙂

Bintaro, 23 Februari 2015

Best Regards,

Patuan Handaka Pulungan

897/SPA/2010

IMG_3789

Catatan Perjalanan : Gunung Latimojong

Gunung Latimojong!

garissg-nenemori-3397-mdpl-6012011-11 (foot’s from latimojong.wordpress.com)

 

(sumber Wikipedia)

Gunung Latimojong adalah satu nama gunung di Kabupaten EnrekangSulawesi SelatanIndonesia. Gunung Latimojong berada di tengah-tengah Sulawesi Selatan. Sebagian besar pengunungan ini terletak di daerahKabupaten Enrekang.

Gunung Latimojong merupakan gunung yang tertinggi di Sulawesi Selatan dengan ketinggian 3.680 meter, puncaknya yang bernama Rante Kambola. Pegunungan Latimojong ini membentang dari selatan ke utara. Di sebelah barat Gunung Latimojong adalah Kabupaten Enrekang, sebelah utara Kabupaten Tana Toraja, sebelah selatan adalah daerah Kabupaten Sidenreng Rappang dan area sebelah timur seluruhnya wilayah Kabupaten Luwu sampai di pinggir pantai Teluk Bone.

My Journey!

kaki latimojong  (foot’s from www.diskusilepas.com)

latimojongPW1 (foot’s from archive.kaskus.co.id)

Sudah lama rasanya saya tidak menulis lagi karena kesibukan di keseharian saya, dan juga seperti kehilangan semangat untuk menulis. Okay, kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya sewaktu melakukan perjalanan ke Gunung Latimojong, di tanah Sulawesi. pada Mei 2014 kemarin. Here we are

Pada medio Januari 2014 kemarin, Fauzan, seorang teman kuliah dan saudara STAPALA yang sekarang bekerja di Kota Sorong memposting rencana perjalanan naik gunung melalui jejaring Facebook. Tidak tanggung-tanggung, gunung yang akan didaki adalah gunung Latimojong, yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Sulawesi, yaitu dengan Puncaknya yang bernama Rante Mario. Apakah saya berpikir panjang untuk join? tentu tidak! haha..tanpa memikirkan kecukupan biaya ataupun cuti, saya langsung menghubungi Fauzan, dan mengatakan untuk ikut bergabung dalam perjalanan itu!

Nah, niat sudah ada, tinggal memperkirakan waktu dan biaya nya nih. Mulai deh nabung, dan berniat untuk memulai lari pagi minimal tiga hari seminggu. Dan realisasinya? Dari bulan Januari sampai H-1 berangkat, total pagi hari yang dipakai untuk olahraga hanya tiga kali, suram memang, tiap pagi suka telat bangun, keasikan begadang, haduh..

Selanjutnya adalah, mempersiapkan dari jauh-jauh hari perlengkapan yang akan dibawa. Dari kupluk hingga sepatu gunung, dari pakaian dalam hingga jaket, dan sebagainya. Lengkapnya ini nih listnya, kali aja bisa sebagai referensi buat teman-teman yang pengen naik gunung:

1. Pakaian secukupnya, (celana, kaos, kemeja, dll)

2. Slayer, topi rimba, atau apapun itu yang penting menutupi kepala,

3. Jaket hangat, Wajib coy!

4. Kerir/tas gunung,

5. Raincoat/jas hujan, Wajib juga!

6. Sarung tangan,

7. Sepatu gunung/sandal gunung, mau swalloan jga oke2 aja, tergantung ketahanan, hehe..

8. Kaos kaki 2 pasang dipake jalan, 1 pasang dipake kalo mau tidur,

9. Sleeping bag,

10. Kompor,

11. dll….

okee, selesai mempersiapkan perlengkapan, seterusnya tinggal menunggu tanggal mainnya. Waktu itu Fauzan sendiri yang mengurus proses administrasi dan mencari transportasi selama di Baraka, sehingga saya tinggal datang pada meeting point yang telah disepakati. Namun buat teman-teman yang pergi sendiri yang ingin ke Gunung Latimojong, sebelum berangkat kesana diperhatikan proses perizinannya, kemudian cari informasi mengenai transportasi dari Kecamatan Baraka ke dusun Karangan, dusun terakhir sebelum memulai pendakian gunung Latimojong, karena biasanya menyewa mobil Jeep disana agak susah.

Hari 1:

Nah, seperti biasa, saya berangkat dari kota Padang Sidempuan dengan bus terlebih dahulu menuju Kota Medan selama 10 jam perjalanan hingga sampai di Bandara Kuala Namu. Selanjutnya saya naik pesawat ke Makassar, dan transit di Jakarta, kemudian sekitar pukul 10 pagi waktu setempat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, bandara di Makassar. Alhamdulilah, akhirnya saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Sulawesi. Selanjutnya saya menuju Tanah Bira di ujung selatan Pulau Sulawesi, yang nantinya akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Hari 2:

(Bira)

Hari 3:

Setelah puas selama tiga hari di Bira, sekitar pukul 11 siang, saya melanjutkan perjalanan pulang ke Makassar, dan sampai di Makassar sekitar pukul 5 sore. Sempat kesulitan mencari terminal bus, nanya-nanya orang, akhirnya setelah berganti angkot 2 kali, sampai juga di terminal bus  kota Makassar di seputaran Jalan Perintis Kemerdekaan. Langsung saya cari bus dengan tujuan Toraja, karena saya berencana mengunjungi Tana Toraja dulu sebelum ke Baraka. Saya mengambil bus dengan nama perusahaan Litha & co waktu itu. Busnya cukup nyaman menurut saya. Malam itu juga saya bertemu dengan teman saya Pardamean Harahap di terminal, dan tak lama kemudian bus pun berangkat.

Sempat mengalami pengalaman tak enak, ketika bus ngetem di sebuah terminal entah dimana namun masih di Kota Makassar, masuklah serombongan penjaja buah, yang rata2 adalah pemuda tanggung sekitaran 10 orang. Mereka menawarkan buah yang dibungkus plastik seharga Rp 5.000, ya betul, cuma Rp 5.000 untuk sebungkus apel yang terdiri atas 4 buah, dan sebungkus anggur juga. Saya sudah tak tertarik beli, namun teman saya karena tertarik dengan harga yang sangat miring itu, berniat membeli 2 bungkus. Dan yang terjadi adalah, ya, scamming! ternyata harganya Rp 45.000 satu bungkus. Bangke banget ya! dan saya sudah sempat adu mulut, dan mereka tiba-tiba bergerombol di bangku kami sambil ngancam-ngancam, untunglah teman saya itu orangnya berkepala dingin, dengan segera dia mengambil satu bungkus apel kemudian membayarnya, dan mengembalikan sisa bungkusan yang kami pegang. Kalau saya sendirian disitu, sudah berkelahi pun jadilah!

Hari 4:

(seharian penuh kami di Toraja, nanti saya ceritakan di lain kesempatan)..

Malamnya dari Tana Toraja, kami agak kerepotan menuju Kecamatan Baraka, dikarenakan tidak ada bus ataupun travel yang langsung ke Baraka, hanya turun di suatu tempat di Enrekang. Jadinya kami mencari-cari informasi, dan akhirnya berkat bantuan bapak angkot yang kami tumpangi mencari bus, kami pun mendapatkan bus pada malam itu dengan tujuan Enrekang. Kecamatan Baraka itu terletak di Kabupaten Enrekang, sehingga pemikiran kami waktu itu kami cukup ke Enrekang dulu, dan ke Barakanya nanti saja dipikirin, hehe..

Di perjalanan menuju Enrekang, saya menghubungi no kontak yang ada di Baraka, yaitu Pak Dadang, dari KPA Lembayung (salut sama beliau, beliaulah yang menjembatani kami untuk dapat transportasi dari Baraka ke Karangan, kemudian yang menjadi tempat persinggahan kami selama di Baraka). Dan setelah menceritakan kronologisnya, beliau berjanji akan menjemput kami di Enrekang, yang pada awalnya kami kira jaraknya ga terlalu jauh. Ada sekitar 3 jam perjalanan dari Toraja menuju Enrekang, dan sesampai di sana, kami pun menghubungi beliau kembali. Dan ternyata sudah ada dua orang anak muda yang menjemput kami dengan motor. Alhamdulilah..

Perjalanan dari suatu tempat di Enrekang itu ke Kecamatan Baraka ternyata sangat jauh, sekitar satu jam perjalanan, wah wah, kami sangat merepotkan mereka. Sesampai di rumah Pak Dadang, kami disambut beliau dengan hangat. Kami bercerita banyak hal, bahkan mengenai Gunung Latimojong juga, sembari minum kopi yang disediakan istri beliau. Ternyata Pak Dadang merupakan pendiri KPA Lembayung yang berada di Kecamatan Baraka tersebut. KPA tersebut sering membantu para pendaki yang ingin menaiki Gunung Latimojong. Salut deh! Dan kemudian sisa malam itu kami lanjutkan dengan mengistirahatkan badan yang sudah lelah..

Hari 5:

Sekitar pukul 5 pagi, saat masih asik terlelap dalam dinginnya cuaca, rombongan tim akhirnya tiba di Baraka juga. Mereka adalah teman-teman seperjalanan yang baru berangkat tadi malamnya dari Makasar, yah, rombongan Fauzan, leader perjalanan kali ini. Kami segera packing, karena diperkirakan mobil Jeep yang akan membawa tim ke dusun Karangan akan tiba pada pagi ini. Rencana kami yang semula akan berangkat jam 11 siang kami percepat, dengan harapan nanti sore sudah bisa sampai di Pos 2 untuk nge-camp.

Sekitar jam 7 pagi, mobil tumpangan kami akhirnya tiba. Ternyata supirnya adalah teman Pak Dadang sendiri, yang sudah biasa mengantar jemput para pendaki dari Baraka ke Karangan. Sekedar informasi, jarak antara Baraka menuju Karangan sendiri ditempuh dalam waktu lebih kurang empat jam dengan mobil Jeep. Kebayang kan kalau jalan kaki, haha… Namun alternatif lain adalah bisa menyewa ojek dari Baraka. Terkadang ada juga pendaki solo atau cuma berdua yang menyewa ojek sebagai transportasi dari dan ke dusun Karangan.

Jam 8 pagi, kami pun berangkat setelah sebelumnya dijamu sarapan pagi oleh istri Pak Dadang. Selanjutnya mampir di Pos Polisi Baraka untuk membuat perizinan dan laporan tim yang berangkat. Ketika itu cuaca berawan, diselingi oleh gerimis. Dan perjalanan pun dimulai…

10440793_10202157925016717_2717450757663172067_n

10353179_10202157929416827_1783689157519255242_n (dalam perjalanan dari Baraka menuju Dusun Karangan)

Sekitar pukul 1 siang kami akhirnya tiba di dusun Karangan, dusun terakhir sebelum memulai start pendakian. Perjalanannya agak terlambat dikarenakan sempat terjadi kerusakan pada mobil Jeep yang kami tumpangi. Wajar saja, mengingat medannya yang berat dan berlumpur, dimana di sepanjang jalan, jurang mengaga lebar di sebelah kanan, membuat mobil berjalan perlahan. Kami segera melapor ke Kepala Dusun Karangan, yang ternyata rumah beliau sering dijadikan Basecamp oleh para pendaki.

1236132_10202157951617382_8162170467039788468_n (pose tim lengkap bersama porter)

10396289_10202157910216347_231811234596670032_n (di depan Basecamp rumah Kepala Dusun Karangan)

Sekitar pukul 2 siang lebih, kami pun memulai perjalanan, trek dari Karangan menuju Pos 1 adalah melewati ladang masyarakat, jalanan terkadang berlumpur, dan sesekali melewati sungai kecil. Di awal perjalanan ini saya tidak terlalu memperhatikan jalur, dan itu sangat fatal bagi saya pada waktu turunnya kelak. Banyak persimpangan sepanjang perjalanan menuju Pos 1. Adapun waktu tempuh kami hingga ke Pos 1 memakan waktu sekitar satu setengah jam, karena kami berjalan pelan. Oh ya, di perjalanan ini kami ditemani oleh tiga orang porter dari KPA Lembayung yang kesemuanya adalah anak muda, lebih muda dari saya, haha… Tim kami sendiri terdiri atas sembilan orang lelaki dan seorang perempuan yang merupakan senior saya sewaktu di kuliah. Beliau ikut karena suaminya juga ikutan, haha..

1384206_10202157955297474_3334849072896147917_n (pondokan sebelum Pos 1)

10407694_10202157952457403_5088547632686097606_n

10440822_10202157958737560_9113430759794241927_n (jalur maut di Pos 2)

Pukul empat sore kami tiba di Pos 1, adapun Pos 1 berupa tanah gundul dan tidak ada mata air disekitar pos ini, dan menurut saya juga tidak cocok dijadikan lokasi perkemahan. Kami hanya berhenti sebentar disini karena berharap sampai di Pos 2 tidak kemalaman. Perjalanan menuju Pos 2 sendiri adalah memasuki kawasan hutan lebat dan gelap. Treknya terkadang naik dan kadang turun, tanahnya berlumpur, dan disebelah kirinya adalah jurang, sangat berbahaya. Di sepanjang trek ini tenaga saya terkuras, bahkan ada seorang teman yang hampir jatuh saat melewati kayu yang berfungsi sebagai jembatan darurat melewati jurang. Treknya cenderung banyak menurun karena ternyata Pos 2 berada di lembah.

Sekitar pukul setengah 6 kami pun sampai di Pos 2, dan ternyata sudah banyak pendaki lain yang tiba. Rupanya kami cukup apes karena hampir saja tidak mendapatkan lokasi untuk mendirikan tenda, dikarenakan rombongan pendaki yang telah tiba terlebih dahulu berjumlah lebih dari 30 orang, ternyata mereka berasal dari satu universitas di Makasar yang melakukan pendakian massal. Untuk melanjutkan perjalanan ke Pos 3 tim kami sudah tidak sanggup lagi dikarenakan trek dari Pos 2 ke Pos 3 itu adalah trek yang paling terjal. Pos 2 itu sendiri berada di sebelah sungai kecil yang sangat deras. Ada juga cekungan batuan serta tanahnya cukup datar sehingga Pos 2 merupakan tempat yang sangat ideal untuk mendirikan kemah walaupun luasnya tidak seberapa.

Setelah menunggu sekitar sejam, akhirnya kami pun kebagian tempat untuk mendirikan tenda walaupun letaknya tidak terlalu bagus, namun itu juga diperoleh setelah rombongan sebelumnya membereskan peralatan masak mereka dan barang mereka lainnya untuk memberikan tempat bagi kami, terima kasih.. Kegiatan malam itu kami isi dengan beristirahat penuh setelah makan malam karena badan yang sudah lelah serta berupaya mengumpulkan tenaga lagi untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Beruntung cuaca pada malam itu cukup cerah, dan tidak ada hujan setelah sebelumnya hujan menyertai perjalanan kami di sepanjang perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2.

10376063_10202157959977591_8595714843558663779_n

10380889_10202157964897714_5440985203196694452_n (Pos 2)

Hari 6:

Kami bangun cukup cepat keesokan harinya, saya tidur tidak terlalu nyenyak karena kedinginan. Setelah sarapan dan packing, sekitar pukul sembilan pagi, kami pun memulai pendakian kembali. Trek dari Pos 2 ke Pos 3 adalah trek yang paling terjal menurut saya, tingkat kecuraman bisa sampai 70 derajat kawan! Namun dikarenakan suasana pegunungan yang begitu terasa indah bagi saya, cuaca yang cukup cerah, dan bau pohon yang khas membuat saya tidak terlalu merisaukan trek. Saya begitu menikmati perjalanan ini. Adapun waktu tempuh dari Pos 2 ke Pos 3 sekitar satu jam perjalanan. Sesampai di Pos 3, tim kami mulai berpencar, ada rombongan yang cepat, rombongan menengah, dan rombongan sweeper, dan disitulah saya berada, hehe..

10447130_10202157968017792_7634268116029177078_n

Hanya beristirahat sejenak, kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Pos 4. Trek dari Pos 3 ke Pos 4 tidak seperti trek sebelumnya, walaupun ada yang terjal tapi menurut saya cukup landai. Waktu tempuh dari Pos 3 ke Pos 4 sekitar sejam perjalanan juga. Keadaan Pos 4 sama seperti Pos 3, yaitu tanah datar dan tidak terlalu luas. Di Pos 3 dan Pos 4 tidak ada mata air.

10262176_10202157990458353_581370669538256756_n

Di Pos 4 lagi-lagi hanya beristirahat sekadarnya sembari menikmati cemilan dan minum, kami melanjutkan perjalanan kembali. Trek menuju Pos 5 dari Pos 4 cukup jauh, sekitar satu setengah jam perjalanan. Walaupun treknya terkadang terjal, namun cukup landai juga seperti dari Pos 3 ke Pos 4. Sesampai di Pos 5, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, dan di Pos 5 juga tim kami yang semula berpencar akhirnya berkumpul lagi. Adapun Pos 5 sendiri berupa tanah datar yang luas, dan juga terdapat mata air sehingga banyak pendaki sering bermalam di sini. Di Pos 5 kami makan siang seadanya saja, dan tidak makan berat, serta mengisi perbekalan air.

10374977_10202157985858238_8871622835956054251_n

10173797_10202157993658433_5599229530705789623_n

Setelah beristirahat cukup lama, kami pun berjalan lagi menuju Pos 6. Memang target kami hari ini adalah sampai ke Pos 7 dan bermalam disana, disambung muncak keesokan harinya. Trek dari Pos 5 ke Pos 6 terjal juga, dan sesekali ada jalan bonus, lama perjalanan sekitar satu jam. Di Pos 6 sendiri berupa tanah datar yang tidak terlalu luas serta terbuka, tidak ada mata air disekitarnya. Hanya beristirahat sejenak kami berjalan kembali menuju Pos 7. Dan trek dari Pos 6 menuju Pos 7 sendiri juga cukup terjal dan sesekali ada jalan bonus. Disini vegetasi tanamannya mulai berubah, pepohonannya semakin pendek dan berdaun jarang. Dan segera saja hutannya berubah menjadi hutan lumut yang indah menurut saya. Jarak tempuh dari Pos 6 ke Pos 7 sekitar satu setengah jam perjalanan.

10411789_10202157997218522_3962772501695401095_n

Tiba di Pos 7 hari sudah sore, matahari hampir tenggelam. Teringat bahwa saya belum sholat, sehingga memutuskan untuk sholat terlebih dahulu, cuaca sangat dingin sekali. Angin senja menerpa saya saat sholat dan saya menggigil kedinginan. Bahkan salah seorang teman saya juga dengan pedenya membuka baju, dan akhirnya ikut kedinginan juga, hahaa..memang sewaktu berjalan dari Pos 6 ke Pos 7 kami kegerahan. Namun sesampai di Pos 7 cuaca tiba-tiba berubah menjadi dingin sekali. Lokasi Pos 7 cukup datar, dan memiliki lokasi terbuka, pepohonan pendek terdapat di sekitarnya sehingga wajar saja angin langsung menerpa kami yang beristirahat di pos tersebut. Terdapat mata air bersih di sekitar Pos 7, agak mlipir kebawah untuk mencapai lokasi mata air, sehingga para pendaki terkadang ada juga yang mendirikan tenda di pos ini.

10341855_10202158001178621_755900151796257470_n

10422239_10202158002858663_6698864319750359664_n

10426574_10202158003818687_7333602652653050483_n

Ternyata kami tidak mendirikan tenda di Pos 7, namun berjalan agak kedepan lagi, karena di Pos 7 itu sangat tidak kondusif untuk mendirikan tenda. Disamping tempatnya yang terbuka, yang pasti angin langsung menerpa kita, juga tidak terlalu luas. Saya segera berjalan kembali menuju tenda kami didirikan, dan malam pun menjelang. Cuaca sangat dingin, saya menggigil dengan hebat. Ya benar, cuacanya sangat dingin. Ada sekitar lima belas menit berjalan, dan akhirnya kami menemukan posisi tenda kami. Adapun malam itu saya menggigil kedinginan lagi, walaupun sudah memakai jaket yang tebal. Suhunya menurut saya sangat ekstrim. Kegiatan malam itu kami isi dengan beristirahat, dan tidak melakukan banyak aktivitas.

10441198_10202158005898739_5635977972779598086_n

Hari 7:

10274015_10202158018099044_1894861563431237736_n

10349014_10202158031339375_3776439198349436096_n

Pagi harinya, sekitar pukul  6 pagi, kami bergegas muncak. Memang dari awal kami tidak berniat untuk mencari sunrise pagi itu. Jarak puncak Latimojong dari lokasi kami berkemah hanya sekitar setengah jam saja. Namun, jalurnya cukup terjal, dan memiliki banyak simpang, sehingga harus berhati-hati memilih jalur. Sekitar pukul tujuh kurang, sampailah kami di puncak tertinggi pulau Sulawesi, ya puncak Rante Mario, 3478 mdpl!! Saya segera sujud syukur kepada Sang Pencipta, bersyukur diberikan kesempatan untuk menikmati keindahan dan kebesaran ciptaan-Nya. Alhamdulilah….

1601493_10202180419939076_7727024611096169489_n

10406376_10202158022019142_2466931439728929710_n

10405485_10202158025659233_6661409144290960830_n

Cuaca di puncak sangat dingin, saya yang sudah memakai pakaian berlapis saja masih kedinginan. Kami di puncak ada sekitar setengah jam saja. Puas mengabadikan momen, kami pun segera beranjak pulang. Sesampai di tenda, kami pun segera packing. Rencana kami hari ini adalah segera turun dan berharap sore sudah sampai kembali di Basecamp Karangan.

Pada saat perjalanan turun, tim kami terpencar kembali menjadi tiga bagian, rombongan yang dipimpin Fauzan melesat pertama, selanjutnya adalah saya, dan terakhir rombongan teman-teman lainnya. Medan pendakian yang sangat menyiksa, membuat perjalanan turun ini terasa sama melelahkannya dengan saat naik, terkadang saya harus berhenti untuk melemaskan kaki yang sudah mulai kram.

Tiba kembali di Pos 2 yang menjadi tempat kemah saat naik, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, saya bertemu dengan rombongan Fauzan. Jarak kami ternyata lebih dari setengah jam, cukup jauh juga ternyata. Di Pos ini saya sholat dan makan cemilan seadanya, serta melemaskan otot-otot yang sudah tegang. Tak lama kemudian rombongan Fauzan pun melanjutkan perjalanan, sebenarnya saya ingin mengikutinya, namun dikarenakan waktu itu kaki saya masih lemas, saya terpaksa menunda keberangkatan saya. Asumsi yang saya peroleh dari keterangan teman-teman pendaki lainnya, jarak antara Pos 2 dengan desa sekitar dua jam. Kala itu waktu masih menunjukkan pukul hampir setengah lima sore.

Saya pun dengan pede memulai berjalan sendirian lagi, keterangan dari porter yang ditemui di Pos 2 mengatakan tidak akan ada jalur yang membingungkan, hanya berbelok ketika sudah memasuki perkebunan warga. Disinilah letak kesalahan saya yang kedua, yaitu berjalan sendirian. Dan kesalahan saya yang pertama adalah tidak mengingat jalur pendakian awal dari desa ke Pos 2 dikarenakan keasikan ngobrol dengan porter sepanjang perjalanan. Yang saya ingat hanyalah medan dari Pos 1 ke Pos 2 sangat sulit, dimana di sebelah kiri jurang, ditambah kondisi jalur yang licin dan berlumpur.

Saat saya sudah berada di tengah perjalanan, hujan kembali mengguyur, jalur kembali sangat licin, dengan sangat perlahan saya menyusuri jalur sembari berpegangan dengan tanaman-tanaman yang tumbuh di pinggir jalur. Perkiraan saya jarak Pos 2 ke Pos 1 hanyalah satu jam, yang ternyata salah, karena setelah lama berjalan, saya belum juga keluar dari hutan. Sekadar informasi, jalur Pos 2 ke Pos 1 adalah menembus hutan lebat. Namun saya masih pede bahwa jalur saya benar dikarenakan terdapat beberapa pita tanda penunjuk jalan di sepanjang jalur. Jadi ketika saya mulai merasa ragu terhadap jalur tersebut, saya kemudian melirik kiri kanan untuk menemukan pita, dan setelah menemukannya, merasa lega, dan kembali berjalan.

Pukul enam sore, akhirnya saya keluar dari hutan tersebut, dan dikejauhan terlihat papan penunjuk Pos 1, alhamdulilah, batin saya. Sempat beristirahat di Pos 1, namun hanya sebentar, karena senja sudah turun. Syukurnya hujan telah berhenti. Dari belakang, sama sekali tidak terlihat pendaki yang menyusul, dan di depan sama sekali tidak terlihat juga rombongan pendaki ataupun penduduk lokal. Saya melanjutkan perjalanan kembali, disini saya hanya mengingat satu spot saja, yaitu gubuk di samping sungai kecil, dan malam pun menjelang, sehingga saya pun menyalakan senter.

Selanjutnya, saya sudah tidak ada ingatan sama sekali dengan jalur tersebut, yang saya ingat adalah, hanya terdapat satu jalur saja, dan ada pertigaan, satu menuju ke desa, satu kembali ke arah hutan. Kegelapan menyelimuti areal perkebunan, saya berjalan dengan perlahan, disini saya sudah gamang, sambil terus mengingat Tuhan. Saya banyak berdoa, sembari mengusir ketakutan, yah, bagaimanapun, selain takut salah jalan, saya juga takut adanya makhluk halus yang mengganggu. Apalagi informasi tentang jalur Latimojong ini sedikit sekali yang saya dapatkan dari internet.

Semakin jauh saya melangkah, saya menemukan persimpangan lagi, satu ke arah atas, satu ke arah bawah, disini saya benar-benar tidak ingat sama sekali. Walaupun saya sudah sering naik gunung, namun kala itu, saya benar-benar bingung untuk menentukan arah. Pita-pita yang sepanjang pendakian sangat membantu, namun begitu malam tiba, tidak terlihat lagi, atau mungkin bahkan tidak ada lagi sejak memasuki areal ladang warga. Terkadang memang saya masih melewati hutan. Ketika itu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

Ada sekitar satu jam saya bolak-balik, pertama saya mengambil persimpangan ke arah bawah, namun setelah cukup jauh berjalan, ternyata  dan memasuki areal hutan lagi sehingga saya ragu, dan memilih kembali ke persimpangan lagi. Ketika saya melihat cahaya, saya mengira itu adalah cahaya senter pendaki yang telah sampai juga, ketika saya kejar kebelakang, ternyata hanyalah cahaya kunang-kunang.

Pun ketika saya memutuskan untuk mengambil persimpangan ke atas, saya meninggalkan tas dan berjalan. Namun, setelah di atas, tidak ada sama sekali jejak kaki di lumpur di jalur, sehingga saya ragu juga, karena saya berpikir rombongan Jane pastilah kalau lewat jalur ini akan meninggalkan jejak langkah. Saya kembali ke tempat asal, dimana tas saya lepaskan, dan mulai duduk. Saya berpikir, apa saya salah mengambil jalur sebelumnya?

Setelah cukup lama duduk di persimpangan karena lelah bolak-balik, tiba-tiba di kejauhan saya melihat cahaya beriringan, sempat ragu itu cahaya kunang-kunang lagi. Lama saya perhatikan, dan saya mengambil keputusan untuk mencari tahu. Saya memanggul tas saya, dan mengejar cahaya tersebut, dan alhamdulilah, ternyata rombongan pendaki asal Bandung yang sempat turun bersama sebelumnya. Pastilah mereka mengira saya makhluk jadi-jadian atau apalah, karena kondisi saya yang ngos-ngosan dan berkeringat, saya menyapa mereka dan berkata saya bingung terhadap jalur turun. Mereka hanya tertawa kecil, dan mengajak untuk turun bersama. Selanjutnya kami pun akhirnya sampai di desa.

Tiba di desa, saya agak kesulitan mencari posisi Basecamp, dikarenakan malam yang sudah menyelimuti dusun, dan juga orientasi saya terhadap jalan di dusun kala itu blank sama sekali. Namun akhirnya, setelah bertanya sana-sini, sampai juga saya di Basecamp, yang tak lain rumah Kepala Dusun. Saya disambut Fauzan dan lainnya, sembari bertanya kenapa sendirian. Sekitar satu jam berselang, teman saya Pardamean juga tiba sendirian, haha, dan ternyata dia juga sempat mutar-mutar sendirian di persimpangan dimana saya juga bingung tadi. Sepertinya untuk kedepannya perlu dibuat papan penunjuk arah rasanya.

Setelah menunggu hingga pukul 11 malam, teman kami yang lainnya belum juga sampai. Kami sudah khawatir dan mulai berpikir bahwa mereka melanjutkan menginap di Pos 2, karena berdasarkan informasi dari Pardamean, dia juga sudah ketemu rombongan di Pos 2. Kami pun berembuk, dan sepakat seperti yang kami asumsikan sehingga kami pun beranjak tidur. Kami juga cukup tenang dan tidak terlalu cemas mengingat semua porter yang kami bawa berada di kelompok belakang.

Sekitar pukul 12 malam, saat mulai terlelap, tiba-tiba dua orang teman sampai di Basecamp. Kami pun terkejut bukan main. Mereka menjelaskan kondisi terkini bahwa beberapa teman kami ada yang tidak sanggup berjalan kembali karena mengalami kram. Mereka ternyata berada di pondokan penduduk di sekitar Pos 1. Setelah berembuk, diputuskan tiga orang dari kami menyusul kesana seraya membawa bahan makanan dan baju hangat.

Keesokan harinya barulah tim kami berkumpul kembali semua. Ternyata tim yang menyusul tadi malam ikut bermalam disana mengingat ada teman yang tidak memungkinkan untuk berjalan kembali malam itu karena butuh istirahat. Alhamdulilah, semua selamat kembali ke Basecamp tanpa kekurangan apa pun. Setelah itu kami istirahat sambil menunggu mobil Jeep menjemput kami kembali. Sekitar pukul 10 siang, kami pun meninggalkan Basecamp Karangan, dan empat jam kemudian sudah sampai kembali di rumah Pak Dadang, di Baraka.

Terima kasih yang sebesar-besarnya buat tim saya, buat Pak Dadang dan KPA Lembayung, buat para porter kami, buat Bapak sopir mobil Jeep, dan buat Bapak Kepala Dusun Karangan. Oh ya, sebagian besar dari foto yang ada di Catatan Perjalanan ini adalah hasil jepretan teman saya Pardamean Harahap yang dengan cemerlang mengabadikan momen yang ada. Banyak sih sebenarnya fotonya, tapi hanya sebagian kecil yang saya muat di Catatan Perjalanan ini, dan atas seizin beliau. Dan, saya senang mendapat kenalan baru dari perjalanan kali ini. Alhamdulilah… see you guys, on the next journey!!

Jakarta, 9 Oktober 2014

Best Regards,

-Andha-

Patuan Handaka Pulungan, 897/SPA/2010

10414909_10202158029099319_7491419887082695578_n

Catatan Perjalanan : Pulau Bali (Part I)

Siapa yang tak kenal Pulau Bali, pulau dewata yang merupakan icon Indonesia di dunia Internasional. Selain terkenal dengan keindahan pantainya, juga kaya akan budaya tradisionalnya. Hal itulah yang memaksa kami, yaitu aku dan teman-temanku semasa kuliah dulu, berpikir keras bagaimana cara untuk mencapai pulau tersebut. Kalau tidak salah sekitar pertengahan 2010, selepas aku diklat lapangan Pecinta Alam di kampus, inget banget dah, hehe..

My Journey! 

bali-map-high (foto’s from www.indonesia-tourism.com)

Dengan team yang sama seperti ke Yogyakarta sebelumnya., kami merencanakan untuk berangkat ke Bali dengan memakai jasa kereta api ekonomi kembali, murah meriah, hehe.. Setelah beberapa persiapan ini itu, nabung, ngebut ngerjain tugas kuliah, kami pun berangkat dari Stasiun Senen dengan menaiki kereta api tujuan Surabaya. Ya, sebelum ke Bali, kota Surabaya menjadi tempat persinggahan kami yang pertama. Perjalanan di kereta api sendiri, apalagi yang namanya kereta api ekonomi, penuh dengan tantangan tersendiri. Mulai dari mencari tempat tidur yang enak, selalu terjaga akibat teriakan penjaja makanan minuman, kemudian selalu awas terhadap resiko kehilangan barang, yang nantinya akan terjadi pada kami, hiks..

Kami tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya, sekitar pukul tujuh pagi. Selanjutnya kami akan naik kereta ekonomi lagi dari Surabaya ke Banyuwangi, namun di siang harinya sehingga ada waktu free sekitar lima jam yang kami habiskan untuk beristirahat di rumah kontrakan temen di Surabaya. Pada waktu itu kami tidak banyak melakukan perjalanan mengelilingi kota Surabaya karena keterbatasan waktu, maybe next time deh..

Perjalanan ke Banyuwangi, ujungnya pulau Jawa, kata temenku memakan waktu sekitar tujuh jam dari Surabaya, sungguh perjalanan yang panjang. Namun asiknya dengan kereta ekonomi, tiap singgah di beberapa stasiun, maka penjaja makanan pun naik ke atas kereta, dan makanan yang dijajakan itu biasanya makanan khas dari daerah itu sendiri, sehingga sekalian wisata kuliner juga, hihi.. Sekitar pukul sepuluh malam, kami tiba di stasiun terakhir, Banyuwangi. Tujuan kami selanjutnya adalah menuju Pelabuhan Ketapang, yang letaknya ternyata tidak terlalu jauh dari stasiun kereta, cukup berjalan selama 10 menit. Kami merencanakan untuk menyeberang ke Bali dengan kapal Feri yang berangkat Subuh keesokan harinya.

Stasiun Banyuwangi baru ketapang01 (foto’s from wardie99.blogspot.com)

Malam itu kami habiskan di sekitar pelabuhan. Muter-muter nyari makan, terus beli tiket kapal yang ternyata mesti beli dini harinya. Sempat ketemu rombongan teman yan ternyata baru dari Bali, wow, kejadian tak terduga. Kemudian kami mencoba mencuri waktu untuk tidur dengan berbekal matras yang kebetulan kubawa dan berbantalkan tas masing-masing. Sekitar pukul tiga pagi, kami sudah bangun kembali dan bergegas untuk membeli tiket. Lama penyeberangan itu sendiri sekitar satu jam, dan setelahnya, Pulau Bali!!

pelabuhan ketapang (foto’s from www.elshinta.com)

Sesampai di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, kami sempat kesulitan saat akan keluar kawasan Pelabuhan karena ada seorang calo tiket yang mengingatkan kami ada pemeriksaan KTP di situ dan menawarkan jasa untuk mengeluarkan kami dari Pelabuhan, waduh, masa sih! Aku jelas tidak percaya, dan kami juga tidak terburu-buru keluar, sempat Subuhan juga dan beli roti buat sarapan. Sewaktu akan keluar dari Pelabuhan, memang terlihat di depan kami banyak orang berdesak-desakan, aku berpikir, “apa ini ya waktu pemeriksaannya?”. Parno juga pada waktu itu. Namun aku mengajak kawan lainnya untuk ikutan menyusup dalam barisan yang keluar tersebut, dan.. Berhasil! Tidak ada sama sekali yang menghentikan langkah kami untuk mulai menjelajah Pulau Bali, hahaha… Sebenarnya sih kami tidak takut akan pemeriksaan KTP tersebut, karena toh kami semua bawa KTP, tapi yang kami khawatirkan adanya hal-hal diluar dugaan, you know lah..

pelabuhan-gilimanuk130311b (foto’s from news.liputan6.com)

Dari luar pelabuhan kami menaiki angkutan semacam elf, dengan tujuan Terminal Ubung. Di sepanjang perjalanan aku terpana melihat banyaknya tradisi budaya dan agama yang dilaksanakan. Beneran deh, pergilah ke tempat-tempat yang belum pernah kau kunjungi, dan temukan hal-hal baru yang akan membuatmu takjub! Perjalanan yang memakan waktu empat jam itu tak terasa bagiku karena selalu takjub melihat pemandangan pagi itu di Pulau Bali.

ubung (foto’s from www.bali-bisnis.com)

Sesampai di Terminal Ubung, kami berencana untuk langsung ke Denpasar. Karena semuanya tuh baru pertama kali kesini, jadinya kami masih meraba-raba jalan. Setelah nego dengan angkot di terminal, disepakatilah ongkos sampai ke Kuta, ya, bukan ke Denpasar lagi, tapi langsung ke Kuta! Berdasarkan rekomendasi teman yang sehari sebelumnya ketemu di Banyuwangi, kami langsung mencari penginapan di Kuta. Penginapan yang mereka rekomendasikan tersebut berada di kawasan Poppies Line.

Memasuki Jalan Legian, Kuta, yahpada tau kan pemandangan apa yang akan kalian jumpai disitu, yap! bule-bule yang berkeliaran di sepanjang jalan, sehingga terlihat seperti bukan berada di Indonesia lagi kawan! Kami segera ke penginapan yang direkomendasikan tersebut, dan beruntung masih tersedia dua kamar kosong. Fasilitas yang ditawarkan oleh penginapan tersebut cukup lumayan juga buat kami, yaitu tempat tidur plus kipas angin, kamar mandi di dalam kamar, dan tersedia breakfast tiap paginya. Lokasinya juga strategis, deket dari Jalan Legian, dan ternyata Jalan Poppies Line tersebut tembusnya ke kawasan pantai Kuta. Kami sangat excited pada waktu itu, aku masih ingat..

26772_1254778485015_1096152716_30585651_2412961_n

Nah, apa yang selanjutnya kami lakukan di Bali, adalah hal yang mungkin semua orang yang sudah ke Bali melakukannya juga, jadi aku akan membahasnya secara singkat, hehe… (janji deh lain waktu akan diceritakan). Dengan berbekal motor yang dirental di penginapan tersebut, brosur wisata di Bali, dan peta pulau Bali, serta om Google, kami pun dengan pedenya mengelilingi Bali. Sebenarnya tidak tepat sih kata mengelilingi, karena pada kenyataaannya perjalanan paling jauhnya waktu itu hanya sampai Tanah Lot, hehe.. Okay, ini dia list perjalanan kami kala itu:

Hari 1 : Pantai Kuta – Pura Uluwatu (tempat menyaksikan sunset yang paling kurekomendasikan)

Hari 2 : Pantai Kuta (lagi) – Tempat sodara temen di dekat daerah Tanah Lot (waktu itu kebetulan hari Jumat, dan kami lama disitu, lupa nama tempatnya) –Tanah Lot (sunset cuy)

Hari 3 : Pantai Sanur (niat cari sunrise, apa daya sempat tersesat, nyampe udah jam tujuh aja) – Pantai Kuta (lagi-lagi)

26772_1254741444089_1096152716_30585608_6076734_n

26772_1254742244109_1096152716_30585612_2596702_n

26772_1254785605193_1096152716_30585680_5354285_n

26772_1254875207433_1096152716_30585943_1322250_n

Memang waktu itu kami lebih banyak menghabiskan waktu di Pantai Kuta dan di sepanjang kawasan Kuta. Apalagi kami memang tidak memiliki rencana muluk-muluk untuk mengelilingi Pulau Bali, disebabkan manajemen perjalanan kami yang kurang dan belum adanya pengalaman. Secara overall, aku belum puas pada waktu itu, dan berencana untuk kesana lagi suatu hari nanti (dan ternyata benar deh kesana lagi).

Di hari ketiga, siang itu juga setelah check out dari penginapan, kami mencari carteran mobil untuk ke Terminal Ubung lagi. Kami berencana kembali ke Pulau Jawa dengan cara yang sama sewaktu kami pergi. Dari Terminal Ubung kami menaiki bis besar dan sampai di Pelabuhan Gilimanuk pada malam harinya. Menyeberang pada dini harinya, dan sejam kemudian sudah tiba kembali di Pelabuhan Ketapang, yang artinya kami telah kembali ke tanah Jawa.

Sesampai di stasiun Banyuwangi, kami terpisah menjadi dua, ada seorang teman yang melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dimana temannya telah menunggunya disana, dan empat orang termasuk aku memutuskan untuk berangkat ke Malang. Yap, kota Malang, kota yang terkenal dengan apelnya dan klub sepakbola Arema Malang. Sebelum kami kembali ke Jakarta lagi, kami singgah dulu di Solo dan Malang, karena waktu liburan kami masih ada (nantinya aku ceritakan di lain kesempatan, dan alasan kenapa foto di perjalanan kali ini begitu sedikit).

Yang pasti, pengalaman yang kudapat di perjalanan kali ini begitu berkesan, karena merupakan perjalanan yang serba mendadak dan buta sama sekali lokasi yang dituju, sangat berkesan sekali perjalanan pergi dan pulangnya. Kalo ke Yogyakarta sebelumnya, kami merasa cukup tenang karena ada teman disana, kalo ini? kami meraba-raba jalan! Ada sekitar sepuluh hari juga kami habiskan di perjalanan kali ini, dari Jakarta dan kembali lagi ke Jakarta.

Akhirnya, sampai jumpa di lain kesempatan. Teruslah berpetualang kawan, dan cobalah keluar dari zona nyaman kalian sekarang untuk pergi ke tempat yang selama ini hanya bisa kalian impikan dan kalian bayangkan saja, karena alasan waktu dan duit kalian tidak melakukan perjalanan tersebut. Salam! 🙂

Padang Sidempuan, 30 Januari 2014

Best Regards,

Andha-

Patuan Handaka Pulungan, 897/SPA/2010

Catatan Perjalanan : Daerah Istimewa Yogyakarta (ramah dan bersahabat)

Wah, lama sudah saya tidak membuat tulisan, hampir setengah tahun juga, maklum, kerjaan kantor lah, main-main lah, ups, hehe… intinya ga ada waktu luang sama sekali buat menulis.. Baiklah, malam ini saya akan mencoba menceritakan perjalanan saya yang terjadi sekitar lima tahun yang lalu, yap, pada masa-masa kuliah semester 4. Here we are… 🙂

Borobudur-Nothwest-view (foto’s from commons.wikimedia.org)

My Journey!

map-jogja (foto’s from pemanisbuatan.wordpress.com)

Berawal dari ngumpul dan ngobrol ngalor-ngidul di salah satu kosan kakak kelas sesama perantauan di kampus, salah satu teman saya mencetuskan ide untuk keliling Pulau Jawa, mumpung lagi di Pulau Jawa katanya, hehe.. Idenya berkembang, dan akhirnya empat orang (termasuk saya) sepakat untuk pergi ke salah satu kota yang sarat dengan sejarah, ya, Yogyakarta, yang pernah menjadi ibukota Indonesia, dan berbagai peristiwa sejarah lainnya yang tidak bisa lepas dari daerah tersebut.

Kebetulan pada waktu itu kami lagi libur semester yang durasinya kebetulan lumayan singkat, sehingga kami tidak berlama-lama memikirkan rundown atau iltenary segala, yang penting berangkat! Haha… Berbekal informasi salah seorang teman di Yogyakarta, kami menjadi percaya diri untuk memulai perjalanan ini, yang merupakan pertama kalinya buat kami berempat. Oh ya, teman-teman saya ada Inal, Mean, dan Rahmat (ntar mereka marah namanya ga dicatut, hehe…

Pada siang di suatu hari yang saya lupa tanggal dan namanya, hehe.. kami berangkat ke Stasiun Senen. Disana kami memesan tiket kereta api kelas ekonomi yang sangat laris, sehingga sewaktu membelinya berdesak-desakan. Kalo saya ga salah, harga tiketnya waktu itu masih Rp 36.000, -, ntah lah kalo sekarang. Setelah mendapat tiket, kami pun langsung masuk, karena kereta apinya akan berangkat.

Perjalanan dengan menaiki kereta api ekonomi dari Jakarta ke Yogyakarta tersebut merupakan pengalaman pertama saya, sehingga pada waktu malam tiba, saya tercengang, melihat banyaknya orang bersileweran di depan saya, ketika saya mau meluruskan kaki, eh, ternyata di bawah bangkunya sudah ada orang yang tidur berselonjoran, wah wah. Teriakan seperti mizon, akua, dll pasti terdengar akrab buat kalian yang sudah merasakannya juga. Tapi bagi saya yang waktu itu baru merasakan, sepanjang malam tidak bisa tidur, disamping karena selalu terjaga akibat teriakan pedagang, saya selalu merasa waswas dengan harta benda, bisa-bisa lenyap dan berpindah tangan.

Kami tiba di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, sekitar pukul enam pagi. Begitu tiba, kami mencari musholla, dan kemudian sholat, walaupun terlambat, tapi hanya Tuhan yang tahu. Selesai sholat dan cuci muka, kami beranjak dari stasiun dan mencari angkutan yang mengantar kami ke alamat teman yang ada di situ. And here we are, YOGYAKARTA! Selama ini hanya mendengar namanya saja dan melihatnya dari layar televisi tayangan yang mengulas Yogyakarta, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Malioboro, wah wah, saya merasa sangat senang bisa menginjakkan kaki di sini, kala itu lagunya Kla Project yang berjudul Yogyakarta saya senandungkan di sepanjang perjalanan dari stasiun,

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu,

Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna,

Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu,

Nikmati bersama suasana Jogja….

                Nama Yogyakarta berarti Yogya yang kerta atau Yogya yang makmur. Dalam penggunaan sehari-hari, Yogyakarta lajim diucapkan Jogja (karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa). Dulunya sih sebelum Indonesia merdeka di sana sudah ada sistem pemerintahan sendiri, yaitu Kasultanan. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sejak 1755 didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I, dan Kadipaten Pakualam yang didirikan oleh Pangeran Notokusumo pada tahun 1813, yang kemudian bergelar Adipati Paku Alam I. Sempat menjadi ibukota negara Republik Indonesia dari 4 Januari 1946 hingga 17 Desember 1949 pada saat terjadi agresi militer Belanda. Pokoknya tiap sudut kotanya sarat dengan sejarah kawan!

Oh ya, apa sih ciri khas kota ini kawan? Mau tau? Keluar dari stasiun aja udah ketauan kok, orang-orangnya ramah dan bersahabat, tidak beringasan seperti di Jakarta, keluar dari stasiun udah ditarik-tarik, dan didekati seperti preman, hadeh.. Just try it! Saya sangat menyarankan kepada kalian kawan, datanglah ke Yogyakarta!

Sesampai di rumah kontrakan bg Yusnan, yang merupakan teman yang sedang kuliah di Universitas Gajah Mada kala itu, dia mengajak kami sarapan. Setelah itu, kami pun rembugan, mau kemana saja, budget berapa, dan estimasi waktunya sampai kapan, haha, disitu baru dibahas kawan. Sesudah sarapan, dan setelah semuanya sepakat, kami pun menyarter kendaraan roda empat, untuk kami berlima, dengan bg Yusnan sebagai Tour Guide-nya.

Hari itu juga, sekitar pukul sepuluh pagi, kami sudah berangkat menuju tempat tujuan pertama, tidak ada kata lelah di kamus kami waktu itu. Coba tebak apa yang pertama kami kunjungi? Yap benar, Candi Borobudur, hehe.. Siapa yang tidak kenal dengan candi tersebut, yang merupakan salah satu dari keajaiban dunia, Candi Borobudur juga termasuk sebagai icon Indonesia di mata dunia selain Bali. Terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Candi Borobudur merupakan candi terbesar dan termegah di dunia bersama dengan Candi Angkor Wat di Kambodja, didirikan oleh Raja Samaratungga dari wangsa Sayilendra sekitar tahun Sangkala atau tahun 824, dan memiliki luas 123×123 m² dengan 504 patung Buddha, 72 stupa terawang dan 1 stupa induk. Satu kata yang bisa saya gambarkan waktu melihatnya, Kereeen!

borobudur (foto’s from adrianasari.wordpress.com)

DSC00062 (nih ane waktu masih muda gan, hehe..)

Cukup lama juga kami di kawasan Candi Borobudur yang memang sangat luas, kami puas mencari berbagai sudut untuk mengambil foto, hehe.. Sekitar pukul tengah dua, kami beranjak dari kawasan tersebut, cuaca semakin terik dan rasa lapar mulai menyerang. Kami mencari makan di sepanjang jalan menuju Universitas Gajah Mada, sekalian mau sholat di mesjid yang berada di kawasan universitas tersebut. Bangunan universitasnya besar-besar, dan kompleksnya luas, wah, mudah-mudahan suatu hari saya bisa kuliah disini, hehe… Selesai sholat, kami segera bergerak kembali. Destinasi selanjutnya adalah Pantai Parangtritis, yang terkenal dengan keganasan ombaknya, termasuk dalam kawasan laut Selatan Jawa.

Lokasi-Wisata-Pantai-Parangtritis-Yogyakarta (foto’s from tipsberwisatamurah.com)

Sekitar pukul setengah empat sore kami sampai di lokasi pantai, langit mendung, dan matahari tidak keliatan, wah, kok tiba-tiba mau hujan. Setelah memarkirkan mobil, kami berjalan ke arah pantai. Di pantai banyak orang yang bermain di tepian, ombaknya benar-benar besar kawan, saya aja ngeri ngeliatnya. Kami tidak ada yang berniat bermain air, tidak ada yang bawa baju ganti sih. Hanya bermain pasir layaknya anak kecil yang kurang bahagia, hehe..

Puas bermain di areal pantai, kami pun melangkah pulang. Badan sudah lelah, belum ada tidur dari tadi malam, hanya tidur-tidur ayam saja. Namun malamnya, bg Yusnan mengajak kami ke Alun-alun di dekat kawasan Malioboro, nyari angin malam katanya. Tentu saja kami yang semula sudah mau tidur langsung bergerak, kalo cuma mau tidur, di Jakarta juga bisa coy, mumpung lagi di Yogyakarta, hehe… Sesampai di Alun-alun, banyak pemuda pemudi yang nongkrong sambil makan jagung bakar atau kacang rebus. Disana kami hanya berjalan-jalan santai saja, makan kacang rebus, dan sesekali berfoto. Kemudian, karena sudah tidak tahan lagi, kami pun balik ke rumah, istirahat dulu, besok perjalanan masih panjang.

Keesokan harinya, kami prepare buat perjalanan hari ini. Selesai sarapan, kami langsung bergerak ke arah lokasi Candi Prambanan, ya, salah satu kawasan candi yang terkenal juga di Yogyakarta selain Candi Borobudur. Kalau dari legendanya sih, asal muasal candi tersebut berdasarkan dari cerita rakyat yang menceritakan kisah seorang putri kerajaan Prambanan yang bernama Loro Jonggrang yang disukai oleh Bandung Bondowoso, seseorang yang sakti dan memiliki pasukan jin. Akhir dari ceritanya sang putri dikutuk oleh Bondowoso menjadi salah satu candi untuk melengkapi 1000 candi di situ, wah…

candi-prambanan-temple-121 (foto’s from andriyanians.wordpress.com)

Cape dan puas muter-muter disana, kami pun bergerak ke arah Malioboro, salah satu ruas jalan di Yogyakarta yang sangat terkenal. Malioboro merupakan salah satu simbol Yogyakarta selain Keraton Ngayogyakarta. Khasnya Malioboro? Banyaknya bertebaran pedagang kaki lima dan toko-toko yang menjual cendera mata khas Yogyakarta, seperti digambarkan di lagu Kla Project. Disana macet sekali kawan, banyak sekali tukang becak yang mangkal, mereka menawarkan jasa untuk mengantarkan kami keliling jalan Malioboro dengan tarif Rp 10.000, itu dulu, sekarang sih gatau berapa, bbm naik sih, hehe..

wajah-baru-malioboro-yogyakarta (foto’s from students.ukdw.ac.id)

Kegiatan kami disana? Makan siang, naik becak, belanja dagadu serta beberapa cenderamata khas Yogyakarta, dan berkeliling dengan tiada bosannya, setelah itu kami baru berhenti karena merasa lelah, ehehe… Selanjutnya kami pun bergerak pulang kembali ke rumahnya bg Yusnan. Ya, kami berencana untuk balik kembali ke Jakarta hari itu juga.

And finally, its come to ending, that was so amazing there, you must be there too buddy! Trims yang sebesar-besarnya buat bg Yusnan yang telah berbaik hati mengajak kami keliling Yogyakarta selama 2 hari, overall sih luar biasa, sayang momen-momen yang terjadi hanya sedikit yang diabadikan, hehe.. lain kali saya akan mampir lagi ke kota ini, keindahan dan keramahan kotanya membuat saya tidak bisa melupakannya, kali aja dapat penempatan disitu kelak, ngarep.  🙂

k (foto’s from hpijogja.wordpress.com)

Padang Sidempuan, 2 Januari 2014

Best regards,

-Andha-

Patuan “Pasid”, 897/SPA/2010

Catatan Perjalanan : Gunung Kerinci

Gunung Kerinci!

s_imagecache_604_kulit_20manis-6626982293129250888_jpg (foto’s from www.iyaa.com)

(sumber wikipedia, dan sumber lainnya)

Gunung Kerinci (juga dieja “Kerintji”, dan dikenal sebagai Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura) adalah gunung tertinggi di Sumatra, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di provinsi Sumatera Barat dan Jambi, di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra.

Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 mdpl, di sini pengunjung dapat melihat di kejauhan membentang pemandangan indah kota Jambi, Padang, dan Bengkulu. Bahkan Samudera Hindia yang luas dapat terlihat dengan jelas. Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh. Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 2009.

Gunung Kerinci berbentuk kerucut dengan lebar 13 km (8 mil) dan panjang 25 km (16 mil), memanjang dari utara ke selatan. Pada puncaknya di sisi timur laut terdapat kawah sedalam 600 meter (1.969 kaki) berisi air berwarna hijau. Hingga sekarang, kawah yang berukuran 400 x 120 meter ini masih berstatus aktif. Gunung Kerinci termasuk dalam bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). TNKS adalah sebuah wilayah konservasi yang memiliki luas 1.484.650 hektare dan terletak di wilayah empat provinsi, yang mana sebagian besarnya berada di wilayah Jambi. TNKS sendiri merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari utara ke selatan di Pulau Sumatra.

Gunung Kerinci merupakan gunung tipe A aktif yang berada sekitar 130 kilometer arah Selatan Kota Padang. Tipe Letusan : Tipe Hawaii Bentuk Gunung : Gunung Strato atau Kerucut Tipe Erupsi : Erupsi Eksplosif Keaktifan Gunung : Tipe A. Tumbuhan dataran rendah di dominasi oleh beberapa jenis mahoni, terdapat juga tumbuhan raksasa Bunga Raflesia Rafflesia Arnoldi dan Suweg Raksasa Amorphophallus Titanum. Dengan taman nasional Leuser, taman ini terhalang oleh danau toba dan ngarai Sihanok. Sehingga beberapa binatang yang tidak terdapat di taman Leuser ada di sini seperti tapir (Tapirus indicus) dan kuskus (Tarsius bancanus). Banyak terdapat binatang khas Sumatera seperti gajah, badak sumatera, harimau, beruang madu, macan tutul, kecuali orang utan. Berbagai primata seperti siamang, gibbon, monyet ekor panjang dan Presbytis melapophos. Terdapat juga 140 jenis burung.

Gunung Kerinci menyimpan legenda unik tentang naga raksasa. Di kisahkan pada jaman dahulu di kaki gunung kerinci hiduplah dua saudara kembar, Calupat dan Calungga. Keduanya sudah tidak berayah dan beribu lagi. Dua yatim piatu ini memiliki pusaka buah delima dan batu putih peninggalan orang tuanya. Suatu hari Calungga pergi berburu seorang diri. Dalam perburuanya itu, ia menemukan sebutir telur raksasa. Telur itu kemudian dibawanya pulang sekaligus ingin diperlihatkan kepada sang adik Calupat.
Namun, sebelum sampai dirumah, Calungga berubah pikiran. Calungga memutuskan untuk memakan telur itu. Setelah menyantap telur raksasa, Calungga merasa kehausan. Tapi anehnya rasa dahaga Calungga tidak pernah hilang meski dia telah mengeringkan air sungai yang mengalir di kaki Gunung Kerinci. Dalam waktu bersamaan tubuh Calungga lambat laun berubah wujud. Tubuhnya memanjang dan memiliki sisik-sisik emas sebesar nyiru atau tampah. Calungga berubah menjadi seekor naga raksasa dengan batu mustika merah delima di kepalanya.
Calungga yang sudah berubah wujud menjadi naga raksasa menjadi sakti. Hanya dengan sekali putaran tubuhnya, lembah di kaki Gunung Kerinci menjadi sebuah danau yang dikenal Danau Bento. Calupat, Sang adik rupanya tidak mampu hidup seorang diri. Ia pun meminta Naga Calungga mengantarkan ke perkampungan penduduk di sebelah timur matahari terbit. Tujuanya agar ia dapat hidup berdampingan dengan penduduk.
Dengan hanya sekali tiup, terbentuklah sebuah sungai. Sungai itu dinamakan Muara Angin atau sungai Batang Merangin. Kemudian air sungai tersebut menyusut saat Naga Calungga berjalan ke timur, seperti permintaan adiknya, Calupat. Bekas aliran sungai itu menjadi Danau Kerinci. Sesampainya di perkampungan yang dituju, Calupat duduk di atas kepala Naga Calungga. Maka penduduk menobatkan Calupat sebagai raja bergelar Sang Hyang Jaya Naga.
My Journey!
Gunung kerinci  (foto’s from uhangkayo.webs.com)
gk 2 (foto’s from www.worldisround.com)
Setelah mendaki Gunung Rinjani, pada tahun 2012 saya sudah berniat untuk menuntaskan satu buah perjalanan lagi yaitu mendaki Gunung Kerinci. Namun apa mau dikata, sampai akhir tahun 2012, saya tidak mendapat waktu yang luang, informasi yang minim, juga tidak mendapatkan teman seperjalanan. Memasuki tahun 2013, saya kembali beresolusi untuk “mampir” di puncak Gunung Kerinci. Dan kemudian pada suatu hari yang cerah, ceileh…berawal dari bbm seorang teman di Padang, bg Ryan, yang menyuruh saya untuk join dengan Group Padang Backpacker di Facebook, setelah saya bergabung, akhirnya disitulah saya mendapat informasi mengenai akan adanya trip dan rencana perjalanan ke Gunung Kerinci, wah pucuk dicinta ulam pun tiba nih! 😀
Setelah gabung di Group, saya berkenalan dengan admin sekaligus penggagas rencana perjalanan ini, Mr. Agung namanya, beliau tinggal di Batam. Awal perkenalan kami, saya merasa bg Agung ini adalah anak muda seperti saya juga (ceileh, merasa muda, hehe). Jadinya saya tidak sungkan bertanya-tanya, sekaligus memastikan saya ikut dalam grup perjalanan tersebut. Bg Agung pun memberitahukan iltenary serta biaya-biaya yang harus dikeluarkan, dan langsung saya setujui. Dan berdasarkan informasi dari bg Agung, meeting point nya berada di Bandar Udara Internasional Minangkabau, Padang, karena sebagian besar orang-orang yang akan bergabung dalam tim ini berasal dari luar Padang. Waktu yang diperlukan untuk perjalanan ini direncanakan sekitar 4 hari, yaitu dari tanggal 9 Februari sampe 12 Februari 2013.
Persiapan yang saya lakukan tentu saja mulai dari perlengkapan, izin cuti dari kantor, konsumsi, dan yang paling penting tentu saja fisik kawan! hehe.. Untuk izin cuti, saya mengambil 3 hari, kemudian untuk perlengkapan, sepertinya masih kurang ponco nih, mantel hujan, mengingat pada waktu itu masih musim hujan (tapi sekarang mau musim kemarau pun hujan lebat tetap turun, tidak seperti dulu sewaktu saya masih kecil, hehehe…), curah hujan masih tinggi, apalagi di gunung. Saya sudah membayangkan kalau perjalanan kali ini bakal ditemani oleh hujan di setiap langkahnya. Maju terus pantang mundur! Masa sama hujan saja takut, apa kata dunia… :p
Perlengkapan yang saya persiapkan antara lain:
1. Carrier (tentunya, wajib!)
2. Tas sandang
3. Headlamp (saya masukin di list paling atas, wajib juga, haha)
4. Sepatu dan sandal gunung (punya cadangan lebih baik kan daripada tidak)
5. Sleeping Bag
6. Sarung tangan dua pasang
7. Getter (saya sempat mikir, ini kepake ga ya)
8. Kompor (walaupun tidak berniat masak sendiri, tapi dibawa saja ah)
9. Topi rimba, kupluk, slayer
10. Dan lain-lain… (yang biasa dibawa lah)
Selama jeda waktu sebelum hari H, saya selalu berusaha keep in touch sama bg Agung, menanyakan segala hal ini-itu, hehe.. dan juga saya selalu memantau grup di Facebook, karena bg Agung suka update segala sesuatu hal mengenai rencana pendakian ini. Disini juga saya mulai mengenal satu persatu anggota tim kali ini, tidak ada yang saya kenal, bahkan mereka semua berasal dari luar Indonesia, kecuali saya, bg Agung, dan porternya bg Johan Kerinci dan bg Andi, wah wah, saya jadi excited dan deg-degan, apakah pembicaraan bisa nyambung dengan anggota tim lainnya, hahahaha….
Hari 1:
Jumat malam, saya sudah berada di dalam travel yang membawa saya dari Sidempuan ke Kota Padang. Perjalanan ini memakan waktu sekitar delapan jam, atau kalo dipermudah, semalaman. Saya mencoba untuk tidur sepanjang perjalanan karena mengingat besok pasti melelahkan. Sampai di Bandar Udara International Minangkabau sekitar pukul 5 pagi, saya segera menuju musholla, sholat, sekalian mencari tempat men-charger hp. Kemudian yaah, hampir selama dua jam saya hanya duduk-duduk saja di depan musholla bandara, sekaligus menunggu anggota tim lainnya. Memang sih menurut bg Agung, ketemu di bandara itu sekitar pukul 8 pagi, cuma ya saya kecepatan nyampe di bandara, hahaa…
Sekitar pukul 7 pagi, disaat saya sedang sarapan di salah satu rumah makan di bandara, tiba-tiba dua orang pemuda menghampiri saya seraya memperkenalkan diri, yang salah satunya bernama Dede, dia berkata bahwa mereka telah diminta tolong bg Agung untuk menjemput para anggota tim di bandara. Tentu saja, saya senang, penantian berakhir, hehe.. segera saja saya berkenalan dan berbincang banyak dengan mereka.
Tak beberapa lama kemudian seseorang menghampiri kami, dan dia mempekenalkan dirinya bernama Semz, yang ternyata orang Malaysia, oh dia anggota tim kami juga, hehe, syukurnya tak perlu pake bahasa Inggris, karena bg Semz ini juga berbahasa Melayu. Walaupun saya sudah antisipasi dong dengan masalah bahasa ini, hehee… Dari awal saya udah keder sih, kalo membayangkan apakah mesti bahasa komunikasi yang dipakai adalah bahasa Inggris, mengingat kemampuan bahasa Inggris saya tidaklah terlalu meyakinkan, hahahaha… Dan satu persatu anggota tim pun berkumpul, ada rombongan dari Malaysia juga, yaitu bg Nasha, bg Subki, dan kak Nor. Dan satu lagi dari negeri Jiran, bg Sani, ternyata bergabung juga bersama kami di bandara pagi itu. Juga disana saya bertemu dengan bg Johan yang memang asli dari desa di kaki Gunung Kerinci.
563029_10200636345850199_889473196_n
Setelah sempat berfoto bersama, kami diantar oleh Dede ke kosannya di kota Padang, mengingat tim kami masih menunggu 3 orang anggota lainnya yang rencananya bakal landing di Padang sekitar pukul 10 malam, jadi kami masih memiliki banyak waktu. Pada waktu kami mencari sarapan pagi, kami dihampiri oleh seorang pria paruh baya, yang ternyata bg Agung sendiri, wah, saya terkejut, berbeda dengan yang pertama saya bayangkan, hehehe (maaaap bg Agung).. Dan ternyata beliau adalah seorang avonturir juga, dan sudah berkeliling Indonesia semenjak remaja. Ketemu sesepuh ternyata, haha..
Selanjutnya, setelah menaruh carrier dan lainnya di kosan Dede, kami mengisi hari tersebut untuk berkunjung ke Bukit Tinggi. Di sana kami mengunjungi Jam Gadang, Gua Jepang, dan beberapa objek wisata lainnya. Saya jadinya bernostalgia deh, terakhir kalinya masuk ke Gua Jepang itu waktu jaman saya masih SMP, masih imut :D, ikut study tour dari sekolah, hahahaha… Sempat juga mau menuju Tembok Cinanya Indonesia, yang ada di Bukit Tinggi, tapi mengingat hari sudah senja, akhirnya dibatalkan, dan sempat dihadang polisi karena plat mobil yang kami carter bukan plat mobil daerah Padang, waah.. Sekedar informasi, untuk perjalanan dari dari kota Padang ke Kerinci memang kami mencarter dua buah mobil mengingat perjalanan yang memakan waktu semalam juga dan jumlah anggota tim yang cukup banyak juga.
Pukul 10 malam, kami menuju kembali ke bandara, dan disana sudah menunggu tiga orang anggota tim lainnya, Inna, Hana, dan Rajes. Ketiganya sama-sama berasal dari Singapore, negara tetangga kita juga. Dan, lengkaplah sudah tim kami, horaaay!
5994_10200636545535191_870410853_n (bersama bg Sani dan bg Nasha)
66720_10200636450052804_1630268144_n (haha, gaya Tim Perompak Gunung from Malaysia)
538067_10200636555895450_613640277_n (di jam Gadang)
Sampai di kosan Dede itu sekitar pukul 12 malam, dan setelah packing lagi di kosan Dede, mobil kami pun berangkat menuju Kerinci. Sayangnya Dede tidak bisa ikut dikarenakan kesibukan kuliahnya, next time Dede.. Perjalanan itu sendiri melalui daerah Solok hingga ke perbatasan provinsi, karena letak gunung Kerinci itu di perbatasan provinsi Sumatera Barat dan Jambi. Adapun secara geografis, letak Gunung Kerinci tersebut berada di Provinsi Jambi, Kabupaten Kerinci, Kec. Kayu  Aro, Desa Krisik Tuo (nyontek di mbah Google, haha…)
Hari 2:
Kami sampai di desa Palempah sekitar pukul 9 pagi, disini kami mampir ke basecamp bg Johan dan bg Andi. Oh ya, FYI, adapun porter kami kali ini adalah bg Johan Kerinci, bg Sutriandi Katoh, dan Murdham, yang merupakan para pemuda setempat, hehe… Setelah packing, cuci muka, tidak pake mandi lagi :D, dan sarapan seadanya, kami segera berangkat ke desa Kersik Tuo, yang memakan waktu tidak sampai setengah jam saja. Sempat belanja logistik di pasar setempat, kebetulan lagi hari pekan, kami pun sampai di simpang Tugu Macan. Dari sini menuju pos TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) yang biasa disebut R10 dengan jalan kaki bisa memakan waktu hampir sejam juga. Kalo naik mobil hanya sekitar 10-15 menit saja. Bg Agung segera mengurus proses administrasi di pos R10.
19685_10151539150521177_97781761_n
600505_10151539151501177_1559521357_n (lagi packing di tempat bg Andi)
563089_10200636611576842_241978491_n
526920_10200636629377287_1345638405_n
535885_10151317853333691_1303728527_n
Dari pos R10 kami masih naik mobil hingga sampai di persimpangan menuju Pintu Rimba, gerbang yang menyambut setiap pendaki yang akan mendaki Gunung Kerinci. Disini kami berpisah dengan Pak supir yang mengantar kami dari Padang sampai sini, dan akan bertemu lagi pada saat pulang nanti. Hari sudahlah menjelang siang, kami pun makan siang seadanya dengan lauk yang dibeli di pasar sebelumnya. Setelah packing lagi, sekitar pukul 12 siang, kami pun memulai langkah menuju rimba Gunung Kerinci dengan satu harapan tinggi, menggapai puncaknya!
17680_10200636658618018_93813002_n (tim lengkap nih)
537112_10200636656777972_1050081378_n
538165_10151317853553691_1151980016_n
Kami berjalan dengan santai, sesekali bercanda, yaah, walaupun berbeda negara, kulturnya tetap sama, tidak sulit menyesuaikan diri, apalagi bahasa yang dipake bahasa melayu. Memasuki hutan Kerinci, kami disambut dengan suasana hutan hujan tropis, pepohonan tinggi dan berdaun lebat, waaah, udaranya segar sekali, saya sangat senang sekali kembali lagi menyusuri hutan seperti ini. Ibaratnya kalau di kota kita dikotori oleh udara yang berpolusi, naah, di hutan ini kita kembali membersihkan paru-paru kita dari kotoran tersebut, hehe..coba saja kawan! Cuaca saat itu tidak panas dan cenderung mendung, saya sudah prepare bahwa akan terjadi hujan, makanya pas packing ulang tadi ponco sudah saya taruh di bagian paling atas, biar mudah dikeluarkan.
Kami tiba di Pos I setelah sekitar setengah jam berjalan, ada pondokan di Pos ini, dan track sepanjang perjalanan ke pos I landai dan tidaklah terlalu menanjak. Cuma lumpur dimana-mana siap menjebak kaki yang salah melangkah. Semakin jauh melangkah, pepohonan dan tumbuhan semakin lebat. Tak singgah lagi di Pos I, kami melanjutkan langkah kami. Perlahan-lahan, tim mulai terbagi, Murdham sebagai pembawa teman-teman yang jalan duluan, ada bg Semz, Nor, Nasha, dan Hana yang jalannya cepat sekali, hehe.. disambung bg Johan yang membawa rombongan tengah, rombongan santai tapi kadang cepat kadang lambat, hehe..  dimana ada inna, bg Sani, dan bg Subki, dan terakhir sebagai sweeper bg Andi, Rajes, beserta bg Agung. Saya sih masuk rombongan tengah-tengah, biasa, tidak mau memaksa, mengingat perjalanan masih jauh, dan seperti halnya pendakian yang saya lakukan, sejam pertama berjalan itu biasanya nafas ngos-ngosan, sebelum menyesuaikan.
Jarak ke Pos II hampir sama dengan jarak ke Pos I, jadi sekitar 40 menit berjalan, kami sampai di Pos II yang biasa disebut dengan Pos Bangku Panjang. Disini kami hanya berhenti sebentar untuk minum dan makan cemilan. Jam sudah menunjuk angka 11.45 WIB, hari semakin siang. Kami kemudian melanjutkan kembali perjalanan, dan tidak beberapa lama kemudian, gerimis mulai turun dan mengiringi langkah-langkah kami selanjutnya. Sekadar informasi di Pos II sebelah kirinya terdapat sumber air yang berasal dari sungai kecil.
Jarak dari Pos II ke Pos III sekitar sejam, track perjalanannya mulai terjal dan menguras energi. Jalurnya tanah, dan karena seringnya hujan ya jadinya berlumpur dan tentu saja licin. Sampai di Pos III atau disebut juga Pos Batu Lumut sekitar pukul 12.30 WIB, pada Pos ini terdapat pondokan seperti halnya di Pos I, disini kami singgah untuk makan siang sekadarnya, ngemil, minum, ngasi salep ke kaki, ngobrol, dan bercanda. Ada setengah jam juga disitu, sambil menunggu tim sweeper nyampe. Setelah bg Agung nyampe di Pos III, kami pun segera melanjutkan perjalanan, target hari ini adalah hanya sampai Shelter I, dan mendirikan tenda disana. Kalo berdasarkan informasi dari bg Johan jarak dari Pos III ke Shelter I sih “cuma” dua jam, hahaha..
182609_10151694203284989_64314435_n
485384_10200636695138931_1530726236_n
Nah, dari Pos III ke Shelter I itu track nya sudah terjal, ditambah hujan yang perlahan-lahan deras, sehingga jalurnya licin. Vegetasi sepanjang jalur ini masih berupa tumbuhan dan pepohonan berdaun lebat, langit tidak terlalu kelihatan karena lebatnya dedeaunan. Sepanjang perjalanan kami asik bercanda dan sering singgah untuk berfoto bersama, hahaha.. Di tengah perjalanan kami menjumpai pohon besar yang cukup aneh karena batangnya yang berukuran lumayan besar dengan lubang seperti gua di batangnya, kami berfoto juga disitu. Di kemudian hari, setelah saya mengetahui kisah pohon tersebut, saya sempat tidak berani melihat hasil jepretannya, hiii….
535819_10151694206759989_977836663_n
184226_10151694206144989_736375446_n
560063_10151694206519989_1872139486_n
Ke Shelter I ternyata memakan waktu cukup jauh dari omongan bg Johan, kami sampai di Shelter I sekitar pukul 15.30 WIB atau berjalan selama tiga jam dari Pos III, yah wajar aja, karena kami sering berhenti untuk berfoto, haha, rombongan perjalanan kali ini pada senang berfoto, mengabadikan setiap momen, saya sih menyesuaikan saja, :p .. Di Shelter I, rombongan Murdham yang diantaranya ada bg Semz dan Hana, sudah ongkang-ongkang kaki, wah, cepat juga mereka, pasti jarang berhenti buat foto tuh, pikir saya sambil tertawa, hahaha..
Di Shelter I, kami menuju tanah lapang di sebelah kanan dari jalur, sebenarnya ga lapang-lapang amat, cuma ya cukup datar. Disini kami segera menurunkan carrier masing-masing dan mulai mendirikan tenda. Hujan perlahan berhenti, seakan memberikan kami kesempatan untuk mendirikan tenda. Dan karena hujan berhenti, nyamuk-nyamuk nakal pun mulai menghampiri kami seakan mengucapkan selamat datang, hahaha.. Tak berapa lama, rombongan terakhir nyampe. Oh ya, pada hari itu sepertinya teman-teman pendaki yang ke Gunung Kerinci tidaklah terlalu banyak, hanya beberapa. Diantaranya mas Yogie dan Habib yang pada akhirnya ikut bergabung dengan rombongan kami. Oh ya, mengenai Mas Yogie, ternyata setelah berkenalan, rupanya dia sedang mengadakan ekspedisi mengelilingi pulau Sumatera, dan mendaki Gunung Kerinci merupakan rangkaian kegiatan yang disusun olehnya, salute!! Sedangkan Habib sendiri ternyata sudah mengadakan janji untuk mendaki bersama dengan bg Agung juga, dan sebelum ke Gunung Kerinci, sudah sempat terlebih dahulu ke Danau Gunung Tujuh, wew, tidak ada capeknya, haha.. Mereka para solo backpacker ternyata 🙂
Kami mendirikan 5 tenda, cukup juga di areal tersebut. Selepas maghrib, kami semua sudah di tenda masing-masing. Hanya porter kami yang masih berada di luar, memasakkan makanan buat kami, hehe.. Yah, setelah makan dan minum yang hangat panas, baju sudah diganti, jaket sudah dipake, apalagi udara dingin sekali, kalau tidak salah kami sudah berada di ketinggian 2.500 mdpl, tentunya kalian pasti sudah tau apa selanjutnya, yap benar, tidur, hahaha.. Kami semua segera beristirahat demi memulihkan tenaga dan bersiap untuk pendakian esok harinya.
Hari 3:
Keesokan harinya kami terbangun pukul 6 pagi, cukup nikmat juga tidur kali ini, walaupun tidak nyenyak, tapi yaa lumayanlah. Segera sholat, beberapa diantara kami ada yang mulai memasak, ada yang packing, dan lain-lain. Tapi hari itu kami memulai perjalanan sekitar pukul 10.00 WIB, sudah lumayan siang juga, mengingat target hari ini cuma sampai Shelter III, jadinya agak santai. Apalagi katanya track nya akan sangat menantang, wah wah…
536884_10151694207774989_1153121068_n
528507_10151694207414989_704486180_n
Kami memulai langkah, jalurnya benar-benar terjal, menanjak terus, ditambah lagi jalurnya merupakan jalur air, jadinya tidak terlalu besar dan cenderung sempit. Vegetasi tumbuhannya sudah mulai pepohonan berbatang pendek dan kecil. Kami berjalan dengan perlahan, lumayan sering berhenti juga karena ngantri di jalurnya, apalagi ketemu jalur yang memaksa kami memanjat, haha..asik deh! Udara juga semakin dingin, ditambah lagi gerimis mulai turun, komplit deh! Perjalanan menuju Shelter II kami tempuh dengan waktu sekitar empat jam. Di Shelter II ini berupa tanah datar, dan menurut informasi dari bg Johan, ada juga tempat camp  di sebelah kiri jalur, yaitu menurun sedikit ke bawah. Saya sempat melihatnya, dan memang benar, disitu tanahnya datar dan cukup luas, dan ada bekas rangka-rangka pondokan yang masih kukuh. Namun menurut informasi bg Johan, iltenary kami sudah bagus, yaitu mendirikan tenda di Shelter I dan Shelter III, tanpa harus nginep di Shelter II, nah loh, apalagi nih cerita tersembunyinya, waktu saya tanyakan bg Johan hanya tertawa, bahkan Murdham juga ikut tertawa. Saya baru mengetahui cerita aslinya sewaktu kami sudah turun kembali dan sedang makan malam di desa Kersik Tuo, hahahaha….penasaran? ask me!
282630_10151694208454989_461572696_n
382310_10151694207674989_1040973341_n
377702_10151694208294989_499266233_n
521297_10200670666948205_1731860098_n
526783_10151694207994989_751052940_n
Di Shelter II kami beristirahat sekitar seperempat jam, makan siang sekadarnya, ngemil, minum, dan tidur-tiduran. Kemudian kami langsung melanjutkan perjalanan, dan ternyata track dari Shelter II ke Shelter III lebih menguras tenaga kawan! Jalurnya sangat terjal, sempit, dan sebagian besar merupakan jalur air. Namun tentunya ada keindahan dibalik kesusahan, misalnya, salah satu track nya ada yang berupa lorong yang terbentuk dari pepohonan kecil, wah wah, serasa di film saja, keren sekali kawan! Walaupun rasa lelah dan capek sudah mendera kami, tetap saja kami masih sering bercanda, biar lelahnya ga terasa. Sempat juga dalam perjalanan salah seorang teman sudah mau menyerah, tentu saja kami tidak membiarkannya, tetap kami paksa jalan dan kami beri semangat, bahkan tas carrier nya kami angkat secara bergiliran. Jalurnya memang sangat menantang, berbeda sekali dengan jalur-jalur yang ada di Rinjani atau Semeru. Layak dicoba deh kawan!
307363_10151694210454989_152804924_n
529729_10151694208304989_2104680727_n
379205_10151539012766177_200016576_n
Perjalanan dari Shelter II sampai ke Shelter III memakan waktu sekitar dua jam. Pukul 16.00 WIB akhirnya kami sampai di Shelter III, tampak beberapa tenda sudah didirikan oleh teman-teman yang datang pertama kali. Tidak ada tenda lain kecuali tenda kami saja disitu. Kami segera melepas lelah, berganti baju, dan sempat juga ke sumber air di Shelter III, yang letaknya di kiri jalur, agak menurun tajam ke bawah, sekitar 15 menit berjalan, serasa melipir jurang. Beberapa teman saya ada yang mandi kilat, wah, apa ga kedinginan, hahaha.. Saya sih cukup mencuci muka dan beberapa anggota tubuh, sekaligus wudhu. Dingin rek, saya menggigil kedinginan sewaktu balik ke tenda, brrrr…. Tak lama setelah di atas, tampak beberapa teman pendaki yang sampai juga di Shelter III, kami segera menyambut mereka, yang ternyata tamu dari tanah jawa..
285651_10151317853733691_1231872444_n
Selepas sholat, teman-teman memanggil, ternyata matahari sore bersinar dengan teriknya, waaah, serasa mendapat oase, kami pun segera keluar dari tenda, berjemur, dingin tidak terasa. Dan tiba-tiba….pelangi muncul di sebelah timur, tidak tanggung-tanggung, dua buah kawan! Subhanallah…. Semua berteriak kegirangan, dan langsung saja momen itu diabadikan dengan kamera masing-masing. Baru kali ini saya naik gunung, di pos terakhir sebelum muncak menjumpai pelangi, dua buah lagi! ada ga teman-teman yang pernah melihatnya? saya baru ini kawan, for the first time in my life.. 🙂 Kalo kata bg Agung sih itu namanya kejadian langka, sangat jarang, bayangkan saja gan, double rainbow! view nya hampir vertikal karena kami melihatnya dengan posisi sedang di atas gunung, sangat dekat, biasanya sih kalo melihat pelangi itu setengah melingkar, karena dari bawah. Fenomena dua pelangi ini sangat jarang terjadi di belahan dunia manapun. Kalo dari hasil googling sih, peristiwa ini pernah terjadi juga di Alaska, Burau, Batam. Pelangi sekunder disebabkan oleh refleksi ganda dari sinar matahari di dalam air hujan, dan muncul pada sudut 50-53 derajat. Jika melihat dari dekat maka dapat dilihat warna pelangi sekunder yang terbalik, dengan biru di luar dan merah di dalam. Pelangi sekunder lebih lemah dari pelangi yang utama karena mendapat cahaya yang lebih sedikit., Mudah-mudahan dari tulisan dan foto-foto ini semua pembaca bisa merasakannya, hehe..
rainbow (foto dari bg Agung)
66107_10151539170251177_753227548_n
184362_10200670670428292_1874291231_n
404405_10151317854203691_897355413_n
404837_10151317854123691_506838559_n
521478_10200670674068383_1714608257_n
527960_10200670687628722_1189053066_n
539339_10200670679268513_467384099_n
559889_10200670683228612_842132446_n
602132_10200670673948380_739293083_n
1361284827718
Hari 4:
Pukul 3 pagi kami sudah terbangun, bg Johan sudah memanggil dari luar, menggeliat malas, sembari mengumpulkan nyawa, saya pun keluar dari tenda, dan disambut oleh dinginnya udara, brr….. Kami berencana muncak pagi ini, jarak dari Shelter III ke Puncak kata bg Johan cukup dua jam, yaah semoga deh benar, biar dapat sunrise, hehe…. Semua sudah bangun, dan kami membawa barang-barang yang hanya diperlukan saja, seperti headlamp, makanan, sarung, kamera, dsb. Saya sudah sempat keder, karena keingat pengalaman muncak di Rinjani tahun lalu, dimana kami dihantam badai yang sangat kuat. Apalagi dini hari itu bintang-bintang tidak terlalu kelihatan, ada mendung tipis. Sempat minum yang hangat, dan setelah semuanya siap, kami pun mulai melangkah menuju puncak. Oh ya, bg Agung dan Rajes tidak ikut muncak bersama kami.
Dengan perlahan kami berjalan, vegetasi berupa tumbuhan mulai jarang, bahkan tidak ada, jalurnya menanjak dan terjal, berpasir, dan kiri kanan jurang yang dalam. Muncak itu ibaratnya kalo di video games kita sedang melawan bos terakhirnya, hehe.. Lampu senter dan headlamp mulai membentuk barisan memanjang. Saya tetap berdoa pada Tuhan, semoga kami tidak diterpa badai, dan Alhamdulilah sepanjang perjalanan naik dan turun muncak, cuaca tetap cerah dan tidak ada mendung. Sekitar sejam lebih berjalan, kami sampai di Tugu Yudha, nama sebuah tempat yang cukup landai dalam perjalanan muncak ini, katanya namanya berasal dari nama pendaki yang hilang di lokasi itu dan sampai sekarang tidak ditemukan lagi, bahkan mayatnya juga. Memang sepanjang perjalanan muncak, banyak terdapat tugu-tugu peringatan pendaki yang meninggal dan hilang disitu.
Puncak Kerinci (3.805 mdpl)!
Selepas beristirahat sebentar di Tugu Yudha, kami melangkah lagi, dan setengah jam kemudian, puncak pun kelihatan, matahari pagi sudah keluar dari pembaringannya, sunrise kawan! Saya pun semakin semangat untuk sampai ke puncak. Dan benar saja, puncak sudah di depan mata, ketika mendengar teriakan teman-teman yang sudah sampai, saya melangkah lebih lebar lagi, kaki yang semula sudah sangat terasa pegal, nafas yang ngos-ngosan, jari-jari tangan yang membeku tidak terasa lagi, Alhamdulilah, puncak! Segera saya sujud syukur, dan kemudian Sholat Subuh di tanah tertinggi, di atas Pulau Sumatera.
179751_10151694241719989_415814602_n
535874_10151539194701177_1678277091_n
kerinci 2
73438_10151317850373691_33806330_n
307950_478150105576320_928179174_n
382306_478150688909595_144704409_n
Tak beberapa lama kemudian, anggota tim lainnya perlahan sampai juga, dan selanjutnya sudah bisa ditebak, foto-foto! hahaha, pemandangannya sangat spektakuler kawan! sungguh luar biasa…. Kami mengeksplore setiap jengkalnya, dan di tengah-tengah puncak itu, berdiri gagah, bendera Merah Putih! Kami pun mengabadikan momennya bersama-sama semua pendaki, dan bendera Malaysia dan bahkan bendera Palestina dikibarkan juga di samping bendera Indonesia, persahabatan antar bangsa!
   285288_478156332242364_1731898874_n
534950_10151539050601177_185536518_n
Sekitar sejam di atas membuat kami sangat kedinginan, walaupun matahari bersinar, tetap saja suhunya sangat dingin. Apalagi bau belerangnya yang sangat kuat, biasa, khas gunung berapi. Kami pun mulai melangkah turun kembali. Dan kembali saya turun dengan cara berselancar di atas pasir-pasir halusnya Gunung Kerinci, walaupun kiri-kanan jurang, dan banyak batu besar menghadang, tetap saja berselancar, hehe…
538091_10151539051281177_1500391050_n
539590_10151539051671177_1917717397_n
404465_10151694241069989_1267263546_n
72661_10151538947846177_1230127744_n
377745_10151694242574989_845174065_n
556194_10151694241154989_713389591_n
Sampai di tenda pun tidak sampai sejam, dan segera saya repacking barang-barang, mumpung cuaca lagi panas, semua barang saya keluarkan dan dijemur. Kemudian kami pun makan pagi, sembari packing barang dan tenda.
Pukul 11.00 WIB, kami semua pun mulai turun, perjalanannya cukup susah juga, karena mencari-cari pijakan di antara jalur air, berhati-hati agar tidak terpeleset. Shelter II, Shelter I, kami lewati, dan begitu sampai di Pos III, kami berhenti untuk makan siang sekadarnya berupa roti dan cemilan lainnya. Setelah setengah jam beristirahat, kami kembali melangkah, Pos II, Pos I, semua kami lewati tanpa berhenti dengan kurung waktu yang lama. Tapi di sepanjang perjalanan dari Pos II ke Pos I saya sempat berjalan sendirian, cukup ngeri juga, apalagi pada malam sebelumnya, bg Semz bercerita mengenai makhluk bunian, yang kakiny terbalik, yang biasa menyesatkan para pendaki kalau di gunung. Saya sebelumnya sudah pernah mendengar cerita tersebut, tapi ya, kok tiba-tiba teringat di tengah hutan begini, hahaha.. Sempat ketar-ketir juga, apalagi, saya merasa sudah berjalan cepat sekali, tapi kok tidak ada ketemu satu orangpun teman. Walaupun begitu, perjalanannya sangat saya nikmati, udara hutannya sangat segar kawan, saya bahkan ketemu dengan beberapa makhluk aneh yang pas saya dekati tiba-tiba hilang, hahahaha, sempat berpikir macam-macam juga, soalnya Gunung Kerinci termasuk habitat harimau dan hewan buas lainnya.
531864_10151539054031177_2044022341_n
Tiba di Pos I, semua sudah disitu, lagi beristirahat dan mengaso, saya juga ikut-ikutan buka sepatu sembari minum, segar… Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, cepat juga perjalanan turun kami, dibandingkan perjalanan naiknya. Ada setengah jam kami di Pos I, menunggu teman-teman di belakang, tapi tetap tak kunjung datang. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan sampai ke simpang pertama kami diturunkan oleh Pak supir, ada bilik bambu, disitulah kami beristirahat.
Sampai pukul 6 sore teman-teman di belakang belum juga tampak, kami memutuskan menunggu di desa, karena beberapa teman saya yang lain sudah sangat kelaparan. Kami menumpang mobil bak penduduk, dan diturunkan di sebuah mesjid di desa Kersik Tuo. Setelah mandi, sholat dan makan, barulah pukul 8, teman-teman kami sampai di desa, ternyata mereka berjalan pelan-pelan, karena salah seorang teman ada yang keseleo. Akhirnya semua anggota tim berkumpul, dan berakhirlah pendakian Gunung Kerinci selama empat hari itu, walaupun saya masih harus melanjutkan perjalanan selama dua malam lagi sebelum kembali ke rumah, hehe… Sangat banyak yang didapat, mulai dari pengalaman, teman baru, dan lainnya. Thanks buat bg Agung, bg Johan, Murdham, bg Andi, Habib, Mas Yogie, teman-teman dari Negeri Malaysia dan Singapore, bg Nasha, bg Subki, bg Sani, bg Semz, Nor, Inna, Hana, Rajes, see you guys on the next chance! Dan, sampai jumpa lagi kawan di petualangan selanjutnya!!
Padang Sidempuan, 12 Juli 2013
Best Regards,
-Andha-
Patuan Handaka Pulungan, 897/SPA/2010

526616_10151539164971177_1704343250_n

Catatan Perjalanan : Gunung Rinjani

Gunung Rinjani!

rinjani-sunrise (foto’s from http://www.rinjaninationalpark.com)

(sumber wikipedia)

Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25′ LS dan 116º28′ BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur. Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah tiga kabupaten: Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat.

Gunung Rinjani dengan titik tertinggi 3.726 m dpl, mendominasi sebagian besar pemandangan Pulau Lombok bagian utara. Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m × 4.800 m, memanjang kearah timur dan barat. Di kaldera ini terdapat Segara Anak (segara= laut, danau) seluas 11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Di Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk memancing. Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut.

Di sisi timur kaldera terdapat Gunung Baru (atau Gunung Barujari) yang memiliki kawah berukuran 170m×200 m dengan ketinggian 2.296 – 2376 m dpl. Gunung kecil ini terakhir aktif/meletus sejak tanggal 2 Mei 2009 dan sepanjang Mei, setelah sebelumnya meletus pula tahun 2004.[2][3] Jika letusan tahun 2004 tidak memakan korban jiwa, letusan tahun 2009 ini telah memakan korban jiwa tidak langsung 31 orang, karena banjir bandang pada Kokok (Sungai) Tanggek akibat desakan lava ke Segara Anak.[4] Sebelumnya, Gunung Barujari pernah tercatat meletus pada tahun 1944 (sekaligus pembentukannya), 1966, dan 1994. Selain Gunung Barujari terdapat pula kawah lain yang pernah meletus,disebut Gunung Rombongan.

Secara stratigrafi, Gunung Rinjani dialasi oleh batuan sedimen klastik Neogen (termasuk batu gamping), dan setempat oleh batuan gunungapi Oligo-Miosen. Gunungapi Kuarter itu sendiri sebagian besar menghasilkan piroklastik, yang dibeberapa tempat berselingan dengan lava. Litologi itu merekam sebagian peletusan yang diketahui dalam sejarah. Sejak tahun 1847 telah terjadi 7 kali peletusan, dengan jangka istirahat terpendek 1 tahun dan terpanjang 37 tahun.

Seperti pada gunungapi lainnya, Koesoemadinata (1979) menyebutkan bahwa aktivitas kegunungapian Rinjani pasca pembentukan kaldera adalah pembangunan kembali. Kegiatannya berupa efusiva yang menghasilkan lava dan eksplosiva yang membentuk endapan bahan-lepas (piroklastik). Lava umumnya berwarna hitam, dan ketika meleler tampak seperti berbusa. Peletusan pasca pembentukan kaldera relatif lemah, dan lava yang dikeluarkan oleh kerucut G. Barujari dan G. Rombongan relatif lebih basa dibanding lava gunungapi lainnya di Indonesia. Kemungkinan terjadinya awan panas ketika letusan memuncak sangat kecil. Bahan letusan umumnya diendapkan di bagian dalam kaldera saja. Aliran lava, lahar letusan, lahar hujan, dan awan panas guguran berpeluang mengarah ke Kokok Putih hingga Batusantek. Awan panas guguran dapat terjadi di sepanjang leleran lava baru yang masih bergerak, meskipun kemungkinannya kecil.

Bentuk Kaldera Segara Anak yang melonjong ke arah barat-timur diduga berkaitan dengan struktur retakan di batuan-dasar. Gunungapi Rinjani yang terletak di jalur gunungapi Kuarter sistem Busur Banda Dalam bagian barat dibentuk oleh kegiatan tunjaman dasar Samudera Hindia di bawah pinggiran Lempeng Asia Tenggara. Jalur tunjaman yang terletak di selatan menunjukkan adanya gaya mampatan yang berarah utara-selatan. Retakan batuan-dasar yang berarah barat-timur, yang mempengaruhi bangun kaldera, dengan demikian ditafsirkan sebagai retakan release yang disebabkan oleh gaya tarikan. Struktur itu setidaknya terbentuk sejak permulaan Zaman Kuarter.

Pendakian Gunung Rinjani (puncak) merupakan salah satu objek wisata yang menjadi andalan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Gunung Rinjani sebagai gunung vulkanik yang masih aktif nomor 2 tertinggi di Indonesia. Puncak Gunung Rinjani merupakan tujuan sebagian besar para petualang dan pencinta alam yang mengunjungi kawasan ini karena apabila telah berhasil mencapai puncak itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Animo komunitas pencinta alam di seluruh nusantara bahkan dari mancanegara dalam kegiatan pendakian cukup besar, ini terbukti dengan jumlah pengunjung yang melakukan pendakian setiap tahunnya mengalami peningkatan. Kegiatan pendakian secara besar-besaran dilakukan pada bulan Juli s/d Agustus, pada bulan Agustus (pertengahan) peserta pendakian umumnya didominasi oleh kalangan pelajar/mahasiswa dari seluruh Indonesia yang ingin merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di Puncak Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak melalui kegiatan “Tapak Rinjani” yang diadakan secara rutin setiap tahunnya oleh salah satu kelompok pencinta alam di Pulau Lombok yang bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.

Pesona unggulan Taman Nasional Gunung Rinjani yang sangat prospektif adalah Danau Segara Anak, lokasi ini dapat ditempuh dari dua jalur resmi pendakian yaitu jalur pendakian Senaru dan jalur pendakian Sembalun. Untuk mengunjungi Danau Segara Anak dari jalur Senaru dibutuhkan waktu tempuh sekitar 7 – 10 jam berjalan kaki (± 8 Km) dari pintu gerbang jalur pendakian Senaru. Sedangkan dari jalur pendakian Sembalun ditempuh dalam waktu 8 – 10 jam. Danau segara anak dengan ketinggian ± 2.010 m dpl dan kedalaman danau sekitar ± 230 meter mempunyai bentuk seperti bulan sabit dengan luasan sekitar 1.100 Ha. Disekitar Danau Segara Anak terdapat lahan yang cukup luas dan datar, dapat digunakan untuk tempat berkemping/berkemah, juga pengunjung bisa memancing ikan di danau atau berendam di air panas yang mengandung belerang.

Obyek lainnya di sekitar Danau Segara Anak adalah Hulu Sungai Koko Puteq ± 150 meter dari Danau Segara Anak. Selain itu terdapat pula Goa Susu, Goa Manik, Goa Payung, Goa Susu dipercaya dapat dijadikan media bercermin diri serta sering pula dipergunakan sebagai tempat bermeditasi. Sedangkan di bagian bawah Danau Segara Anak terdapat sumber air panas (Aik Kalak Pengkereman Jembangan) yang biasa digunakan untuk menguji dan memandikan benda-benda bertuah (Pedang, Keris, Badik, Tombak, Golok, dll) dimana jika benda-benda tersebut menjadi lengket apabila direndam itu menandakan benda-benda tersebut jelek/tidak memiliki kekuatan supranatural, sebaliknya apabila benda-benda tersebut tetap utuh berarti benda tersebut memiliki kekuatan supranatural/dipercaya memiliki keampuhan.

My Journey!

1294045571gunung_rinjani  (foto’s from juraganestu.blogspot.com)

peta_rinjani (foto’s from www.dephut.go.id)

Setelah saya mendaki Gunung Semeru, telah timbul niat saya untuk mendaki Gunung Rinjani di Lombok dan Gunung Kerinci di Jambi, namun waktu itu semuanya masih angan-angan, mengingat biaya perjalanan dan waktu yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Tapi tentu saja saya tetap bermimpi agar bisa mendaki kedua gunung tersebut, jangan takut bermimpi kawan, Tuhan memeluk mimpi-mimpi kita, kalau kata bg Andrea Hirata di Laskar Pelangi, hehe… 😀

Benar saja, setahun setelah mendaki Gunung Semeru, saya mendaki Gunung Rinjani, dan setahun kemudian lagi saya mendaki  Gunung Kerinci, Tuhan Maha Mendengar doa hamba-hambanya! Kita bahas perjalanan ke Gunung Rinjani dulu di edisi ini, ke Gunung Kerinci nanti ya, 😀

Perjalanan ke Rinjani ini sudah saya rencanakan sejak akhir Januari 2012, dan kemudian menjadi matang ketika bertemu teman-teman baru sewaktu berpetualang ke Pulau Cubadak (nanti saya ceritakan di lain hari), ada bg Ryan dan Fata, mereka terlihat antusias sewaktu saya ceritakan mimpi saya untuk ke Rinjani, dan saya meminta mereka bergabung apabila waktunya tiba, haha.. Mencari kawan untuk ikut berpetualang bersama itu susah-susah gampang, percayalah! Karena kita membutuhkan orang-orang berkomitmen tinggi agar mau merasakan susah senangnya selama petualangan berlangsung, jangan cuma mau susahnya doang (ga mungkin ada kali ya, haha) ato senangnya doang, jadi tips mencarinya ya pake hati dan nurani, :p

Sekitar Maret 2012, saya mulai menghubungi teman-teman di sekitar Medan dan Padang untuk bergabung dengan saya ke Rinjani, setelah komunikasi yang intens :D, akhirnya terbentuk 5 orang dalam sebuah tim yang akan berangkat ke Rinjani, 2 dari Binjai, dan 2 dari Padang. Dan saya sendiri langsung mempersiapkan diri untuk pendakian ini, mulai dari browsing tiket pesawat dan segala transportasi dari dan ke Rinjani, perlengkapan yang dibawa, mengurus izin cuti dari kantor, hingga fisik, yang tentu saja yang paling utama. Setiap minggunya minimal saya berolahraga empat kali, demi menjaga kebugaran fisik. Tentu saja kepada yang lainnya saya ingatkan juga, agar mempersiapkan diri karena medan yang akan dilalui ini berat dan melelahkan.

Dalam mempersiapkan perlengkapan, tentu saja yang wajib ada itu antara lain:

– senter/headlamp (wajib sewajib-wajibnya, karena kalo muncak itu biasanya dilakukan di dini hari untuk gunung yang statusnya masih aktif, dan tentu saja bodoh sekali rasanya tidak bawa kalo naik gunung, hahaha ),

-sepatu gunung (kalo pake sendal gunung rasanya tidak mengenakkan apabila medannya licin dan berlumpur, saya sewaktu di Ceremai pake sandal gunung, dan alhasil baliknya ga pake sandal),

-kompor (kalau berniat masak sendiri),

-sarung tangan (nah bawa dua nih sebaiknya, satu buat tidur, satu buat jalan, asik dipake kalo memasuki kawasan hutan lebat),

-getter (kalo ini mah optional, tapi dianjurkan dipake kalo medannya itu berpasir, agar batu-batu kecil ato pasir tidak masuk kedalam sepatu, yang tentu saja akan menimbulkan efek tidak nyaman, dan kalo memasuki kawasan hutan lebat, agar pacet tidak jahil masuk ke dalam celana kita, sudah saya rasakan waktu di Gunung Kencana, pacet-pacetnya nakal bener, masuk ke dalam celana, asyuuu..),

-topi rimba dan slayer (dibawa deh saran saya, penting),

-dan perlengkapan lainnya yang biasa dipake kalo kita tuh ke gunung

Tiga minggu sebelum hari H, saya berhasil menghubungi Ranger di TNGR (Taman Nasional Gunung Rinjani), yaitu Mas Pri, melalui beliaulah saya berhasil mendapatkan informasi mengenai porter, transportasi, dan lainnya (thanks banget Mas Pri). Oke! Persiapan sudah beres! Tiket pesawat sudah ditangan dan perlengkapan sudah dipersiapkan, rasanya sudah tidak sabar lagi berangkat ke medan perang, haha..

Hari 1:

Perjalanan ke Lomboknya itu sangat jauh dari tempat saya, karena saya mesti naik travel ke Kota Medan dulu selama 10 jam, kemudian naik pesawat ke Jakarta selama dua jam, baru ke Mataram selama 2 jam. Penerbangan saya ke Jakarta adalah penerbangan pagi, di bandara Polonia Medan saya sudah berjanji untuk berangkat bersama dengan teman yang dari Binjai, Sarah dan Friza. Dan telah berjanji juga untuk bertemu dengan teman yang dari Padang di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, karena sama-sama membeli tiket untuk penerbangan ke Mataramnya di pesawat dan waktu yang sama.

IMG_3190

IMG_3194

Sesampai di Bandar Udara Internasional Lombok, bandara di Lombok, kalo tidak salah sekitar pukul 15.00 WITA, kami telah ditungguin oleh Fata, teman yang dari Padang, yang telah sampai duluan. Tak berapa lama setelah kami semua berkumpul, angkutan Elf yang telah kami sewa melalui Mas Pri datang menjemput kami di bandara, dan nantinya angkutan inilah yang akan mengantar kami ke Desa Sembalun, tempat kami akan menginap malam itu, dan merupakan titik start pendakian kami esok harinya.

Perjalanan dari bandara ke Sembalun sekitar 4 jam, kami tiba di Desa Sembalun sekitar pukul 20.00 WITA. Disana kami disambut oleh Mas Pri sendiri dan beberapa rekannya, dan setelah berkenalan, ternyata mereka lah yang besok akan menjadi porter kami. Kemudian setelah ngobrol sebentar, kami pun beristirahat di Homestay yang juga telah  dipesan juga melalui Mas Pri, memanglah, Mas Pri sangat membantu sekali dalam hal pendakian kali ini. Homestay itu sendiri bernama Pondok Sembalun, terdiri atas beberapa kamar dengan memakai konsep seperti villa dan tidak pake AC tentunya, karena udara di Sembalun sendiri sudah sangat dingin, desa Sembalun  sudah berada di ketinggian 1.150 mdpl. Brrrrr…sambil menahan dingin yang teramat sangat saya mandi malam itu, hehehe… Kami menyewa 2 kamar, 1 kamar untuk cewe, dan 1 kamar kami tempatin bertiga. Malam itu juga saya packing terakhir dan memisahkan barang yang tidak dibawa pada saat pendakian nantinya.

Malam itu saya dan teman lainnya berkunjung ke Pos TNGR sekalian menitip barang yang tidak dibawa ke pendakian. Di pos sendiri ada Mas Pri dan beberapa orang pendaki lain yang sepertinya baru sampai juga di Sembalun. Mas Pri juga mengajak kami untuk melihat apa saja bahan makanan yang telah dipesan sebelumnya kepada porter. Mas Pri bercerita bahwa banyak pendaki yang menginap di Pos TNGR, ternyata mereka akan mendaki juga besok harinya seperti kami. Wah, di perjalanan bakal ramai nih, pikirku senang. 🙂

Hari 2:

Pukul 5 subuh kami sudah bangun (bener kan teman-teman, hahaha), setelah sholat, saya packing kembali barang-barang saya, ngecek semua perlengkapan. Pukul 7 pagi kami sarapan dahulu, kemudian saya, fata, dan bg ryan ke Pos TNGR lagi mengurus perizinan, disitu kami diberi semacam nametag, yang digantungkan di tas ransel kami, sebagai penanda bahwa kita adalah pendaki resmi yang telah mengurus perizinan ke TNGR. Setelah mengurus perizinan, kami kembali ke Homestay, dan langsung bersiap untuk mulai mendaki.

IMG_3205  (My team include Mas Deni)

Start pendakian kami dilepas sendiri oleh Mas Pri sekitar pukul 08.30 WITA, dan porter yang kami bawa berjumlah tiga orang. Gunung Rinjani sudah berdiri tegak menjulang jauh di depan kami, cuaca pagi hari itu cerah, matahari bersinar dengan terik. Sepanjang perjalanan pertama kami sering bertemu dengan para petani dan penduduk desa Sembalun, ladang pertanian warga sekitar dikiri-kanan. Dan bertegur sapa dengan para pendaki lainnya yang juga berangkat pagi itu. Trek perjalanan awal setelah areal pertanian adalah jalur yang landai dan didominasi oleh punggungan bukit dengan tumbuhan ilalang yang lebat. Mood perjalanannya sendiri sangat bagus, teman-teman saya semuanya memiliki semangat luar biasa, hahaha….

IMG_3207
IMG_3208

IMG_3230

Pukul 11.oo WITA sampai di Pos I, istirahat sejenak dengan teman-teman pendaki yang lain, sembari menunggu kedatangan teman lainnya. Tak berapa lama, tiga teman saya akhirnya sampe. Hujan gerimis mengiringi perjalanan kami siang itu. Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah hampir setengah jam di Pos I. Taukah kalian, udaranya segar sekali teman, percayalah, saya sering kali berhenti sambil menatap ke arah belakang, kemudian menghirup nafas dalam-dalam, sangat menyegarkan! Perjalanan kami kali ini memang tidak terburu-buru. Tak berapa lama, setelah setengah jam berjalan dari Pos I, sampailah kami di Pos II, disini kami istirahat cukup lama karena porter menyarankan agar makan siang dilakukan disini. Itulah enaknya pake porter, kita tinggal duduk-duduk, porternya yang memasakkan buat kita, huahahaha… Menu makan siang waktu itu cukup nikmat, dan satu pembedanya dengan perjalanan saya sebelumnya dalam hal makanan adalah adanya buah segar seperti nenas dan anggur yang dihidangkan, mantap! Ohya kawan, di Pos II kita bisa menemukan sumber air, makanya disarankan untuk beristirahat buat makan siang ataupun bermalam di Pos II saja.

577252_10150904297628959_2134249135_n

Pukul 13.30 WITA, setelah makan dan sholat, kami melanjutkan perjalanan kembali, cuaca masih mendung, matahari yang paginya bersinar cerah tidak kelihatan lagi, dan kembali hujan gerimis menemani kami, saya dan teman-teman lainnya memakai ponco masing-masing. Medan yang dilalui masih lumayan landai, kiri-kanan adalah hamparan bukit kehijauan. Sampai di Pos III sekitar pukul 15.30 WITA. Di pos ini kami berkenalan dengan teman-teman dari Mapala UI angkatan lama, kalo cerita mereka sih angkatan 60an, waah, masih kuat-kuat loh semuanya, ga kalah sama kami yang masih muda-muda ini. Cuaca semakin mendung, hujan yang tadinya gerimis mulai turun agak deras. Target untuk mendirikan tenda malam ini adalah di Plawangan Sembalun, porter kami sudah berjalan duluan, cukup jauh juga jaraknya, dikarenakan mereka mau mencari tempat untuk mendirikan tenda di sana, karena banyaknya jumlah pendaki yang mendaki hari ini sehingga dikhawatirkan tidak mendapat tempat yang strategis untuk mendirikan tenda.

IMG_3271

IMG_3247

IMG_3261

Kami melanjutkan perjalanan kembali, nah, dari Pos III ke Plawangan Sembalun ini medannya sangat berat dan melelahkan, kalo tidak percaya, coba saja sendiri! haha.. Di trek ini kita akan bertemu dengan yang namanya Tanjakan Penyesalan ataupun Bukit Penyesalan. Kenapa dinamakan demikian? Karena di trek ini perjalanan yang kita lalui adalah berjalan menanjak bukit, kemudian setelah kita mengira sampai di puncak bukitnya, teryata masih ada bukit-bukit selanjutnya, seakan-akan tiada habisnya, capek nian kawan! dan tanjakan terakhir sebelum Plawangan Sembalun itu adalah tanjakan finalnya buat perjalanan kami hari itu, karena kemiringannya sekitar 60 derajat, jalanannya terjal dan licin, apalagi hujan yang cukup deras mengguyur kami sepanjang perjalanan, oksigen semakin menipis rasanya, kaki terasa lelah dan hampir mati rasa, badan menggigil kedinginan..

IMG_3253

Menapakkan kaki di Plawangan Sembalun sekitar pukul 19.00 WITA setelah melewati tanjakan terakhir tadi, muncul permasalahan baru, tenda kami yang didirikan porter kami dimana ya? waduh..mana alat komunikasi juga tidak bisa dipakai. Saya melihat kondisi teman-teman saya, apalagi yang wanita, sudah terlihat kelelahan. Maka setelah menitip tas carrier ke mereka, saya berusaha mencari lokasi tenda kami, hari sudah sangat gelap, saya hanya berbekal headlamp, sempat salah-salah masuk ke tenda orang, akhirnya setelah hampir setengah jam berjalan, tenda kami ditemukan juga setelah teman saya yang pertama sampe mendengar suara saya memanggil-manggil di gelapnya malam, usahanya cukup berat, ga pake kata malu lagi, saya bertanya kesana kemari, apalagi nama porternya itu saya kurang hapal, hahaha., bodoh sekali waktu itu.

Tak lama teman-teman yang lainnya menyusul, kemudian kami segera beres-beres dan ganti baju hangat, hujan sudah berhenti, walaupun gerimis kecil masih turun, udara sangat dingin. Saya pada akhirnya cuma ingat nama satu orang porter, yaitu Mas Deni, yang dua lagi sih saya kemarin ingat namanya, namun pada waktu bikin catper ini saya sudah lupa, hihi…maap abang-abang yang di Sembalun. Mas Deni membawakan makanan yang baru selesai dimasak pada kami di dalam tenda. Enak bener ya, seakan-akan kita diservis, itulah keuntungan pake porter kalo naik gunung, hahaha… Setelah makan dan ngopi-ngopi, kami masuk ke tenda, dan mulai berusaha tidur. Berdasarkan informasi dari Mas Deni, kalo muncak itu disarankan mulai jalan sekitar pukul 2 dinihari, biar dapat sunrise di atasnya. Yah, berarti sama dengan Semeru kemarin, batin saya dalam hati.

Hari 3:

Pukul 01.30 WITA kami terbangun setelah Mas Deni memanggil-manggil dari luar tenda, saya masih merasa kurang tidur, penyakit benar emang buat saya, susah tidur kalo di gunung, padahal badan lelah. Kami segera mempersiapkan peralatan yang dibawa buat muncak, saya membawa tas kecil berisi coklat dan roti, air minum, ponco, dan sarung. Setelah berembuk, ternyata dua dari teman saya tidak ikutan muncak, dikarenakan fisik masih lelah. Porter juga tidak ikutan ke atas, memang begitu kesepakatannya. Mas Deni cuma bilang jalannya cukup diikuti, tidak ada persimpangan jalan yang buat bingung. Tepat pukul 02.00 WITA kami mulai berjalan. Oh iya, sekedar informasi, pakaian yang saya kenakan ada 3 lapis, ditambah dengan jaket hangat, belum lagi nanti ditambah sarung, hahaha..dingin coii!

Awal-awal perjalanan muncak sih langitnya cerah sekali kawan, tidak ada awan sama sekali, bulan dan bintang terlihat begitu indahnya, ceileh.. Saya optimis bakal dapat sunrise di atas. Sarung sudah saya pake menutupi leher sehingga dibuat menjadi semacam syal. Saya berjalan beriring dengan dua orang teman saya lainnya. Kami bersenda gurau sesekali agar tidak terlalu memikirkan kaki yang lelah. Para pendaki lain sudah terlihat di bawah kami dan di atas, kelihatan dari cahaya-cahaya senter yang berkerlap-kerlip. Perbedaan dengan puncak Semeru, trek muncak ke Rinjani ini berbelok-belok, kalo di Semeru kan setelah batas vegetasi tumbuhan itu jalannya hampir lurus ke atas, sehingga kalo berjalan itu, kalo kita lihat ke bawah, cahaya senter berjejer-jejer. Di Rinjani tidak demikian, sehingga agak kerepotan juga melihat apakah sudah ada yang berhasil sampe puncak apa tidak.

Setelah dua jam berjalan, tiba-tiba cuaca berubah drastis, mendung sudah menutupi langit, bulan dan bintangnya tidak keliatan, dan angin bertiup kencang sekali. Kami terus berjalan, walau sekarang mulai pelan, hujan pun turun, dan badai pun datang. Kami tetap berusaha berjalan ke atas, sayang sekali rasanya setengah perjalanan seperti ini balik lagi. Setelah sejam menembus badai, ada cerukan batu dimana sudah banyak sekali pendaki yang naik pertama sudah bertahan disitu, ternyata berdasarkan informasi dari mereka cuaca di atas sudah tidak memungkinkan lagi melanjutkan perjalanan. Cerukan batunya cukup luas, ada sekitar 30an orang juga disitu bertahan dari badai. Kami yang melihat situasi itu segera bergabung dengan mereka berlindung di cerukan tersebut. Saya masih merasa bisa muncak, tapi yang lainnya menyarankan agar jangan memaksakan diri. Saya ingat pada waktu itu sudah pukul 05.00 WITA.

Setelah sejam lebih berlindung di cerukan tersebut, para pendaki yang dari Mapala UI, yang generasi tua, sampai di cerukan. Mereka ikut berlindung sembari bertukar makanan dan minum dengan yang lainnya. Badai masih melanda kami. Nyali kami buat muncak semakin ciut setelah beberapa orang bule dan lokal turun dari atas, info dari mereka jarak pandang ke atas tidak keliatan lagi, dan tidak memungkinkan buat melanjut ke puncaknya sehingga mereka memutuskan untuk turun saja daripada cuaca semakin ganas. Wah wah, baru kali ini saya muncak dengan kondisi badai sebesar ini melanda.

Tiba-tiba salah seorang dari para pendaki generasi tua yang tangguh (maap dikatakan begitu, bingung buat sebutan apa, hehe..) berkata pada kami, “Hayo kita lanjut, pelan-pelan saja jalannya, yang penting tetap maju, inilah tantangan hidup itu!”, sembari tersenyum. Rombongan mereka kalo tidak salah ada tujuh orang, dan semuanya berjalan, kami yang generasi muda tertegun sejenak, dan tidak ambil pikir panjang, saya mengajak kawan-kawan saya buat mengikuti mereka. Oke, perjalanan dilanjutkan kembali! Beberapa teman-teman lainnya juga mengikuti kami. Para generasi tua yang tangguh memimpin rombongan kami, mereka membuka jalan, ya saya tidak malu menulis tentang hal ini, karena begitulah adanya. Pengalaman mereka lebih teruji, berdasarkan hasil cerita kami sewaktu di Pos III hari sebelumnya, mereka sudah beberapa kali ke Rinjani, bahkan sudah ke Everest juga. Makanya saya percaya dengan kemampuan mereka untuk memimpin rombongan kami. Jarak pandang itu tidak sampai dua meter kawan sewaktu badai tersebut, kiri-kanan itu jurang, treknya pasir bebatuan yang licin, badai menghempaskan kami ke arah kiri. Kami berjalan pelan-pelan, saya pada waktu itu sudah berserah diri pada Allah, apapun yang terjadi selanjutnya adalah kehendak-Nya. Badan saya menggigil, jari-jari tangan saya sudah mati rasa, sesekali saya dekatkan ke mulut saya sembari saya tiup-tiup. Bibir saya juga sudah kaku rasanya. Tapi, semangat kami itu kawan, sangat mantap sekali! Saya optimis, begitu juga dengan yang lainnya. Saya sempat berpikir dengan yang namanya Hipotermia, dan memikirkan bahwa jari-jari tangan saya yang kaku ini sudah tidak bisa digunakan lagi, ahahaha, seram amat yak..

Puncak Rinjani (3.726 mdpl)!

Setelah dua jam berjalan menembus badai, sekitar pukul 08.00 WITA saya mendengar teriakan-teriakan kegirangan di atas, wah puncak sudah dekat!! Saya tersenyum senang, dan mengajak yang lainnya buat semangat, “Puncak sudah di dekat!!” teriak saya waktu itu. Akhirnya sampai juga di puncak, kondisi cuaca masih badai, udara dingin sekali. Tidak keliatan pemandangan di sekitar, yaah, bukan rezeki kami di perjalanan kali ini mendapatkan cuaca cerah waktu muncaknya. Danau Segara Anak yang katanya bisa keliatan dari puncak tidak bisa kami nikmati. Saya segera sujud syukur. Bersyukur kepada Tuhan masih diberikan umur yang panjang dan kesehatan untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya. Aktifitas di puncak tentu saja foto-foto, mengabadikan momen tersebut, hahahaa….. 😀

398856_3107578737999_1153616642_n  (tim kami yang muncak)

522377_3107570217786_756866360_n

11740_3107590098283_1423325091_n (bersama para tim pendaki tua dan tangguh :), dan lainnya)

Setelah hampir sejam di puncak, kami pun mulai turun, sebab para teman-teman pendaki lainnya juga terlihat satu persatu sampai ke puncak, gantian istilahnya, hehe.. Sebab dataran puncaknya tidak terlalu luas. Turun dari puncak itu cuacanya sudah berangsur-angsur cerah, walaupun mendung tebal masih menutupi langit. Syukurnya tidak hujan lagi. Saya terpisah dengan teman-teman lainnya. Saya berjalan turun sendirian, dengan harapan bakal berjumpa banyak teman pendaki lainnya di bawah. Ternyata sepanjang perjalanan turun saya sendirian, hahaha..sempat terpikir saya salah jalan, jadi saya memutuskan untuk duduk dan menunggu orang lewat. Tak berapa lama menunggu muncullah dari bawah rombongan orang-orang buat muncak, tapi saya terlalu jaim buat bertanya apakah ini jalan yang benar menuju Plawangan Sembalun, hihi…

Saya memutuskan kembali menunggu teman-teman saya yang dari atas, dan kemudian muncul satu orang dari atas, yang berniat turun juga. Saya bertanya apakah ini jalan ke Plawangan Sembalun, dia pun terlihat kebingungan juga dan tidak yakin, waduh, ternyata sama aja dengan saya, hahahaha..Akhirnya kami mencoba mencari-cari jalan, serasa udah kenal lama sama beliau, memang di gunung itu mencari kawan sangat mudah, dan sejam kemudian, sampai juga di lokasi tenda kami. Ternyata jalannya betul, cuma karena tidak ramai, kliatan salah jalan, :p

Sesampai di tenda, Plawangan Sembalun tepat pukul 10.00 WITA, saya disambut dengan makanan hangat dari porter, sekitar setengah jam kemudian baru dua orang teman saya nyampai ke tenda juga. Menu makanan yang disediakan porter kami berupa pancake pake isi, ditambah dengan buah nenas dan anggur, wah serasa mewah bener, menu indomie yang biasanya jadi andalan kalo naik gunung jarang dihidangkan, sedaaap.. Setelah makan, kami segera packing barang-barang karena kami berencana untuk turun ke Danau Segara Anak dengan tujuan menginap satu malam di tepi danau.

IMG_3326 (Plawangan Sembalun)

Sekitar pukul 12.00 WITA, rombongan kami berangkat, porter berjalan terlebih dahulu dengan pertimbangan agar tenda bisa berdiri sebelum kami datang, dan sekalian memasakkan makanan buat kami. Rute ke danau Segara Anak itu adalah melipir ke arah kanan dari Plawangan Sembalun, keliatan plangnya, jalurnya berupa batuan, menurun, lumayan sakit juga telapak kaki, apalagi kondisi kami semua tidaklah seprima sehari sebelumnya, dan apalagi kami baru saja muncak tadi paginya. Kami berjalan perlahan-lahan, hujan mulai turun lagi dan berangsur-angsur deras. Saya segera memasang ponco, dan melanjutkan perjalanan. Jalur ke danau tidak lebar, paling muat dua orang kalo papasan dan disebelah kanannya jurang, ditambah kondisi licin karena hujan deras, wah, bahaya sekali apabila kita ceroboh, bisa-bisa nyusruk ke jurang. Lama-lama rombongan kami terpisah, saya berjalan sendirian mengejar seorang teman saya yang berusaha mengikuti porter pada waktu turunnya, sementara ketiga teman saya di belakang berjalan santai dan tidak terburu-buru. Pertimbangan saya berjalan cepat juga karena di tas saya ada 2 botol besar air, dan membawa 1 buah kompor gas, jangan-jangan diperlukan untuk keperluan memasak. Alhasil hampir selama perjalanan ke danau saya sendirian, seram juga gan, sepi, ditambah asumsi salah jalan. Memang sih jalurnya keliatan, tapi begitu mulai memasuki punggungan bukit sebelum danau, ada jalan menyimpang. Saya mencoba melihat bekas tapak kaki, tidak terlihat karena derasnya hujan, tapi nafas saya lega begitu melihat sisa-sisa bahan makanan, sepertinya tadi di tempat itu ada orang yang baru memasak. Jadinya saya yakin bahwa jalurnya benar, dan melanjutkan perjalanan kembali.

Nafas mulai terengah-engah, mata mulai berat, bawaannya mau duduk dan tidur, saya sesekali duduk, tanpa melepaskan tas carrier, kemudian memejamkan mata barang semenit dua menit, nikmat juga. Anehnya perjalanan ke danau saya tidak merasa haus, apa karena kedinginan dan hujan deras ya.. Sekitar tiga jam berjalan, akhirnya saya melihat danau. Yep, Danau Segara Anak! Sampai juga saya di danau yang terkenal itu. Alhamdulilah, batin saya, dan kemudian mulai mencari-cari kawan saya dan porter, mengira-ngira dimana tenda berdiri. Di tepi danau sudah ramai orang memancing, ada yang bersantai, ada yang memasak.

IMG_3349

IMG_3351

Sekitar setengah jam kemudian, barulah ketiga teman saya sampai juga. Kami segera masuk ke tenda, beres-beres. Hujan sudah mulai reda. Kami berganti baju hangat, dan berjalan-jalan di pinggiran danau. Indahnya pemandangan saat itu, tentu saja kami tidak melewatkannya tanpa berfoto, haha.. Udaranya segar, tapi air danaunya kelihatan keruh. Tak terasa senja menjelang, kami masuk ke tenda, dan bersenda gurau. Nikmat ya kalau suasana dingin, baju hangat sudah dipake, terus masuk tenda, ada kopi, teh, dan susu panas, ada camilan, dan sambil main kartu dan ketawa bersama, bayangkan saja sendiri! 🙂

IMG_3338

IMG_3379

Hari 4:

Pukul 06.00 WITA saya terbangun, karena di luar orang-orang sudah ramai, saya liat keluar, ternyata sudah pada packing karena mau melanjutkan perjalanan. Setelah sholat, sudah ada kopi dan teh panas terhidang dari Mas Deni, memang pake porter sangat menyenangkan ternyata, haha.. Salah seorang porter kami mengajak kami buat mandi air panas di sumber air panas alami di sebelah belakang danau, jaraknya sekitar 15 menit berjalan kaki, cukup curam jalurnya. Kami segera kesana, dan hasilnya? Sangat memuaskan, badan rasanya segar setelah berendam di air panas. Dimana lagi coba bisa mandi air panas di puncak gunung, hehe.. Padahal udara sangat dingin. Dan benar saja, setelah keluar dari air panas, dingin menyerang, hahahahaa.. Oh iya, sekadar informasi, di lokasi tenda banyak monyet berkeliaran karena tergoda dengan aroma makanan yang dimasak, tapi jangan khawatir, monyet-monyetnya tidak ganas kok, tapi tetep berhati-hati yaa..

IMG_3382

IMG_3386

IMG_3420

Pukul 10.30 WITA kami sudah bergerak meninggalkan danau, sebelumnya kami sudah berencana turun lewat Senaru, tetapi karena kondisi jalurnya yang tidak memungkinkan untuk dilewati, akhirnya kami memutuskan untuk turun lewat Plawangan Sembalun lagi. Perjalanan ke Plawangan Sembalun memakan waktu sekitar tiga jam, kali ini cuaca panas. Wah, saya memperkirakan yang bakal muncak dini hari nanti pasti mendapati cuaca yang cerah (benar saja, belakangan ada informasi dari teman, ternyata ada rombongan teman saya yang muncak dini hari berikutnya, dan mendapati kondisi cuaca bagus di puncaknya, ga rezeki kami berarti, hehe..). Danau Segara Anak kali ini terlihat di sepanjang perjalanan naik ke Plawangan, sangat indah kawan!

IMG_3431

IMG_3456

IMG_3457

IMG_3458  (Ryan)

IMG_3433  (Fata)

IMG_3450 (Sarah and Friza)

Pukul 13.30 WITA kami sampai di Plawangan Sembalun. Setelah makan camilan seadanya untuk mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan turun. Melewati tanjakan penyesalan lagi, bertemu rombongan turis asal Jepang, kebanyakan yang tua, dan ada juga yang muda dan cakep, aw.. Perjalanan pulang ini kami sering bercanda dan tertawa bersama, sehingga lelah yang sebelumnya terasa jadi hilang, bahkan kita semangat kembali, makanya kalo naik gunung itu kita jangan melamun ataupun diam-diam saja, enaknya yaa ngobrollah sama kawan-kawan :). Kemudian, sampai di Pos III sekitar pukul 16.00 WITA. Di Pos III porter kami sudah menunggu, dan sedang memasak makanan. Disini kami berhenti sekitar satu setengah jam untuk makan dan sholat.

Pukul 17.30 WITA kami melanjutkan perjalanan kembali dan sampai di Pos II sekitar pukul 18.15 WITA, lanjut terus berjalan agar tidak kemalaman, sampai di Pos I sekitar pukul 18.35. Hari sudah gelap, dan headlamp mulai terpasang. Usul dari Mas Deni agar turun melalui jalan pintas yang mengarah ke Desa Bawa Nau kami sambar, dan kami melanjutkan perjalanan kembali, jalurnya melewati hutan rindang, berdasarkan informasi dari Mas Deni, jalur ini jarang dilalui oleh para pendaki, hanya penduduk desa yang terkadang lewat karena keperluan ke ladang. Wah, pantas saja, hutannya masih lebat, seram juga. Memasuki pedesaan, jalannya melewati areal pertanian lagi, banyak sekali ranjau darat, atau tahi kerbau melintang, haha.. Sekitar pukul 19.50 WITA kami sampai di desa Bawa Nau. Disitu kami telah ditunggu oleh ojek yang akan membawa kami ke Pos TNGR di desa Sembalun. Kami berencana menginap semalam lagi di Pondok Sembalun.

Sesampai di Pondok Sembalun, kami disambut Mas Pri, disuguhi teh hangat. Selesai sudah perjalanan kami ke Gunung Rinjani kali ini. Besoknya kami sudah berencana akan melanjutkan perjalanan berkeliling pulau Lombok sebelum kembali ke Jakarta, tentu saja kami menyempatkan ke Gili juga, hehe..akan saya ceritakan di lain kesempatan. Special thanks to my friends, Mas Pri from TNGR, Mas Deni and friends from Bawa Nau’s village, whos welcome us and treat us so good! See you all in my next journey! 🙂

ini ada puisi yang iseng saya tulis sewaktu menunggu teman saya turun dari puncak, saya menulis sambil duduk di bebatuan yang berada di depan tenda di Plawangan Sembalun, cuaca saat itu mendung dan suhunya dingin, terasa amat syahdu..

Gunung Rinjani 3.726 mdpl

ada hujan gerimis yang timbul tenggelam dengan manis,

ada padang rumput yang hijau menguning lagi mengkerut,

ada bau hutan yang mengiringi langkah di bukit penyesalan,

ada kabut tebal yang terhampar di tepian danau pekat,

puncak Rinjani seolah tak terjangkau,

badai angin menyambut di setiap langkah,

seperti perjalanan yang tak kunjung bertepi,

hingga puncak brdiri gagah di depan mata,

senyum lebar dan hati gembira,

lelah dan dongkol hilang sudah,

inilah 3.726 mdpl, RINJANI!

Padang Sidempuan, 8 Juni 2013

Best Regards,

Patuan Handaka Pulungan, 897/SPA/2010

IMG_3446